Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Dilema


__ADS_3

Terpuruk dalam kesedihan aku hanya bisa terdiam di sudut jendela menatap luar seakan tanpa arti. Daun-daun pohon kersen gugur dan berjatuhan bersama hempas sang angin. Ranting kini sendiri sama seperti hati saat ini. Ingin menangis tapi air mata tak mengiringi, begitu sakit kenyataan yang aku dapatkan. Dalam sayup kelam, aku masih meratap, seperti anak yang rindu pada induknya. Hening. Kini mataku terasa sembab.Tapi air mata tetap enggan untuk menemani.


Awan bergumul hitam menutup cahaya matahari yang seharusnya masih menyinari bumi siang ini. Mungkin sebentar lagi akan turun butiran-butiran air yang akan membasahi tanah.


Tak selang waktu lama, rinai air pun mulai berjatuhan. Bukan, bukan dari awan yang menggumpal itu, tetapi dari sepasang mata yang sejak tadi ditahan oleh sang pemilik. Ia menahan agar air mata itu tidak terjatuh, namun nihil. Air mata itu pun turun dan menjadi sebuah tangisan. Tangisan tertahan yang begitu menyesakkan dada.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar suara pintu yang diketuk dan perlahan pintu itu pun terbuka. Memunculkan sosok wanita paruh baya yang berjalan menghampiri sang putri. Cepat-cepat gadis itu menghapus sisa air matanya.


''Daisha sayang, turun yuk. Kamu belum makan lho dari tadi.'' ucap wanita paruh baya itu dengan manangkup bahu anak gadisnya.


''Daisha belum lapar, bu.'' jawabnya singkat.


''Makanlah barang sedikit, nanti kamu sakit kalau seperti ini.'' rayu ibu Rahayu.


''Bu, kenapa ibu tidak mengatakan hal ini sejak awal?'' tanya Daisha mulai membuka suaranya.


''Maafkan ibu, ibu baru mengetahui kebenaran ini juga belum lama. Maafkan ibu Daisha, ayah kamu ternyata adalah adik kandung dari mas Pras, ayah nak Rendi.'' ucap ibu Rahayu dengan nada yang begitu sulit. Lidahnya seolah kaku untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya.


''Katakan bu, katakan dengan jelas!'' pinta Daisha memelas.


''Sebenarnya, dulu keluarga Atmaja begitu menentang pernikahan ibu dan ayah kamu, karena saat itu ibu hanya seorang dari keluarga yang sederhana, ibu hanya bekerja menjadi perawat di puskesmas desa dan kakek kamu hanya seorang tenaga pabrik. Tuan Atmaja, begitu menginginkan sosok menantu yang setara dengan keluarga mereka. Setelah berulang kali ayah kamu mencoba untuk memohon restu, namu tuan Atmaja sama sekali tidak bergeming. Ia tetap tidak merestui hubungan kami. Waktu itu, Tuan Atmaja memberi dua pilihan pada ayah kamu. Meninggalkan ibu dan tetap menyandang gelar Atmaja atau tetap menikahi ibu dan melepas nama besar keluarganya.'' ucap ibu Rahayu dengan menarik nafas dalam-dalam ke dalam paru-parunya yang kini mulai terasa begitu sesak.


Daisha masih memperhatikan kesungguhan cerita yang disampaikan oleh ibunya.


''Dan akhirnya, ayah kamu lebih memilih mempertahankan cinta kami dan menikahi ibu di desa tanpa restu dari keluarganya.'' ucap ibu Rahayu dengan air mata uang mulai mendera membasahi wajah ayunya.

__ADS_1


''Bu, maafkan Daisha bu telah membuka luka lama ibu dan ayah.'' ucap Daisha membawa ibunya ke dalam pelukannya. Ia pun hanyut dalam air mata bersama cerita yang ibunya sampaikan.


''Maafkan ibu juga, nak. Maafkan ibu..'' ucap Ibu Rahayu di sela isak tangisnya.


Mereka pun saling berpelukan dengan erat. Ibu Rahayu benar-benar merasa begitu bersalah dan merasa sangat berdosa. Ingatan ibu Rahayu kembali pada kejadian beberapa waktu lalu.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu yang begitu keras terdengar dari arah luar rumah.


''Sebentar.'' ucap ibu Rahayu sembari setengah berlari menuju arah pintu depan. Perlahan pintu pun mulai terbuka. Di depan sana nampak seorang perempuan yang masih begitu elok parasnya sedang berdiri dengan senyum merona yang senada dengan warna pemulas bibirnya.


''Ternyata kamu.'' ucap ibu Rahayu begitu membuka pintu.


''Boleh saya masuk ke dalam, mbak?'' tanya wanita itu.


Ibu Rahayu pun mempersilakan tamunya itu untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu di rumahnya.


''Terima kasih, mbak. Sudah menerima kedatangan saya.'' jawab perempuan itu dengan ukiran senyum yang selalu menghias wajah cantiknya meski usianya sudah tidak muda lagi.


''Katakan apa sebenarnya yang kamu inginkan!'' ucap ibu Rahayu dengan raut wajah yang nampak merasa tak begitu nyaman.


''Seperti yang pernah saya katakan waktu lalu, mbak Rahayu pasti paham akan hal itu.'' jawabnya lugas.


''Sudah berulang kali saya katakan, Daisha itu anak kandung saya dengan mas Ramadhan.'' ucap ibu Rahayu dingin.


Wanita itu terus memperhatikan raut wajah ibu Rahayu dengan intens. Setelahnya ia pun kembali berucap.

__ADS_1


''Jadi, Daisha dan Rendi adalah saudara sepupu?'' tanya wanita itu kembali meminta sebuah kejelasan.


''Iya.'' jawab ibu Rahayu singkat.


''Em.. Jadi, Daisha dan Rendi yang akan menjadi korban di sini?'' ucapnya dengan mata yang begitu menuntut.


''Karena mas Ramadhan adalah adik kandung dari mas Pras, jadi begitulah.'' jawab ibu Rahayu dingin.


''Saya nggak nyangka, mbak Rahayu ternyata tega mengorbankan perasaan anak mbak Rahayu sendiri. Saya nggak bisa bayangkan bagaimana perasaan Daisha nanti ketika dia tahu tentang hal ini. Apa mbak Rahayu tidak melihat cinta yang teramat besar dari balik mata mereka!'' ucap wanita itu tak kalah dingin.


''Kenapa mbak Rahayu tidak mengatakan saja yang sebenarnya!'' ucap wanita itu dengan senyum yang begitu memuakkan.


''Apa maksud kamu?'' tanya ibu Rahayu sedikit memicingkan matanya mulai tersulut amarah.


''Selain tega mengorbankan perasaan anak sendiri, ternyata mbak Rahayu begitu egois. Padahal setahu saya, mas Rama dulu begitu mencintai mbak Rahayu karena mbak Rahayu adalah sosok wanita yang begitu lemah lembut dan penyayang. Bahkan, mas Rama rela meninggalkan nama besar keluarganya hanya demi menikahi mbak Rahayu. Ternyata penilaian saya selama ini salah tentang mbak Rahayu.'' ucap wanita itu begitu penuh penekanan dalam setiap tutur katanya.


Deg!


Sejenak ibu Rahayu merasa begitu tertusuk atas setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita di hadapannya itu. Hatinya merasa terkoyak, nadinya seakan mulai melemas. Benarkah ia setega itu? Benarkan ia seegois itu? Namun, ia terpaksa melakukan itu semua karena sebuah alasan yang besar.


''Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, Maya.'' ucap ibu Rahayu dingin.


''Ingat ya mbak, sepandai apapun mbak Rahayu menutupi kebenarannya, suatu saat pasti akan terbuka juga. Dan saya harap, mbak Rahayu tidak menyesali apa yang sudah mbak Rahayu lakukan kali ini, karena telah tega mengorbankan perasaan anak mbak sendiri.'' ucap wanita itu berlalu dari rumah ibu Rahayu.


Tubuh ibu Rahayu pun seketika menjadi lemas seolah kehilangan tulang-tulang penyangga bobot tubuhnya. Ia terperosot jatuh di balik pintu. Tangisnya pecah. Ia merasa perasaannya begitu tercabik. Kata-kata yang Maya ucapkan begitu terngiang di telinga. Dilema pun memenuhi relung hatinya.


''Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan..'' ucap ibu Rahayu meratapi nasib sedihnya.

__ADS_1


''Aku tidak ingin menyakiti perasaan anak gadisku apabila harus memisahkannya dari laki-laki yang ia cintai, namun aku juga belum siap jika Daisha mengetahui kenyataan yang sebenarnya dan akan pergi meninggalkan aku..'' ucap ibu Rahayu di sela tangisnya.


''Mas Rama, apa yang harus aku perbuat?'' ratap ibu Rahayu sedih.


__ADS_2