Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Menjadi bayang-bayang


__ADS_3

Tiada kata di dunia ini yang lebih indah dari kata cinta. Tiada karya yang lebih mulia dari mencintai. Tiada hadiah yang lebih istimewa selain dicintai. Cukup banyak untaian kata yang memberi pemahaman bahwa, cinta terbentuk dengan sederhana. Namun, apakah sesederhana itu? Andai bisa sesederhana itu, mungkin tidak akan aku biarkan mencintaimu sejak awal. Namun, semua ini di luar kendaliku.


''Pak Rendi.'' ucap Daisha.


''Hm.'' jawab Rendi yang masih memperhatikan wajah Daisha dengan lekat.


''Saya akan tunggu bapak dan Arka di sini.'' ucap Daisha setelah cukup lama diam dan melepas genggaman tangannya dari tangan Rendi.


''Kita pulang saja sekarang, lain kali kita ke sini lagi.'' ucap Rendi yang berjalan kembali menuju arah mobilnya berada.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka bertiga larut dalam sebuah keheningan. Hanya sesekali celotehan dari Arka dan sedikit jawaban dari Daisha yang mewarnai suasana perjalanan itu. Selebihnya, mereka kembali diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Hingga malam menjelang, Daisha pun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menemani Arka belajar dan bermain. Daisha pun ikut membaringkan tubuhnya di ranjang milik Arka. Ia memeluk anak itu begitu erat.


''Mama, kenapa tadi mama marah saat di makam oma dan opa?'' tanya Arka.


''Enggak sayang, mama nggak marah kok.'' jawab Daisha sambil membelai lembut Arka.


''Mama, meskipun Arka bukan anak kandung mama, tapi Arka sangat menyayangi mama. Arka ingin mama Daisha menjadi mama untuk Arka.'' ucap Arka.


''Terima kasih, sayang. Mama juga sayang banget sama Arka.''


''Sekarang Arka tidur ya, sudah malam.''


''Iya, ma.''


Tangan Daisha tak henti membelai lembut puncak kepala Arka. Namun, pikirannya melayang entah kemana. Bayangan wajah ayah dari anak lelaki di pelukannya itu selalu melintas tanpa permisi dan menjajah rasa di pikirannya. Saat ia sedang berusaha untuk mengikis perasaannya, mengapa lelaki itu membawanya ke dalam keadaan yang begitu sulit untuknya. Harusnya ia bahagia, harusnya ia bergembira. Namun, ingatannya kembali terngiang tatkala tanpa sengaja mendengar ucapan Rendi bahwa ia tidak akan pernah mengkhianati cinta mendiang istrinya. Daisha tergugu dalam diam, hingga air matanya menggenang membasahi pipi mulusnya. Dengan cepat ia hapus air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Dalam hatinya, ia merasa takut. Takut jika ia hanya akan menjadi pelarian. Takut jika dirinya hanya akan menjadi bayang-bayang.


Mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya, dengan cepat Daisha pun segera memejamkan matanya.


Dengan langkah hati-hati, perlahan Rendi masuk ke dalam kamar Arka. Ia rapikan selimut untuk menutupi tubuh anak lelakinya dan perempuan yang telah berhasil meruntuhkan egonya. Sejenak ia pandangi wajah teduh yang tengah terlelap itu.


''Pak Rendi.'' ucap Daisha membuka matanya dengan pelan.


''Lanjutkan saja tidurnya, saya akan kembali ke kamar.'' ucap Rendi berjalan ke luar dari kamar Arka.


''Pak Rendi, tunggu!'' ucap Daisha.

__ADS_1


''Bisa kita bicara sebentar?'' tanya Daisha bangkit dan berjalan menyusul langkah Rendi.


''Kita ke ruang kerja saya saja.'' jawab Rendi.


''Baik, pak.'' ucap Daisha mengikuti langkah kaki Rendi.


''Silahkan duduk.''


''Terima kasih, pak.''


''Mau bicara apa?'' tanya Rendi begitu mendudukkan dirinya pada sebuah kursi di meja kerjanya.


''Saya mau minta maaf perihal kejadian tadi.'' ucap Daisha tertunduk.


''Maaf jika saya egois dan tidak tahu diri.'' sambung Daisha.


Rendi memperhatikan setiap tutur yang keluar dari mulut perempuan di hadapannya itu. Merasa begitu diperhatikan, mendadak tangan Daisha pun menjadi dingin, ia meremas ujung bajunya untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya berhadapan dengan bos sekaligus laki-laki yang telah berhasil memporak porandakan perasaanya itu.


''Tidak perlu minta maaf, saya yang salah.'' ucap Rendi dengan terus menatap lekat manik mata milik Daisha.


''Pak, boleh saya bertanya satu hal?'' tanya Daisha dengan sedikit terbata.


''Kenapa bapak tadi membawa saya ke pusara milik orang tua bapak dan mendiang istri bapak?'' tanya Daisha dengan segenap keberaniannya.


''Saya akan mengenalkan kamu pada mereka.'' jawab Rendi dingin.


''Untuk apa? Dan sebagai apa?'' tanya Daisha kembali.


Rendi pun kembali terdiam. Ia tatap perempuan di hadapannya itu yang semakin tertunduk dan nampak sedang berusaha menghindar tatapannya itu.


''Apakah perlu sebuah penjelasan?'' tanya Rendi.


''Iya. Saya butuh penjelasan dari bapak.'' jawab Daisha.


''Kita butuh kata-kata untuk menjelaskan perasaan. Kita harus bicara dan berhenti menyembunyikan kata hati serta mencari jawaban dari sebuah perasaan.'' ucap Daisha dengan nada bergetar.

__ADS_1


''Tak cukupkah kehadiranku menjawabnya?'' tanya Rendi.


Daisha pun semakin menundukkan kepalanya, sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak kembali terjatuh untuk kedua kalinya di hadapan lelaki yang ia cintai itu.


''Kebetulan. Kebetulan bukan sesuatu yang dianggap meremehkan, namun sebuah kebetulan yang tampaknya sudah direncanakan dengan sangat baik oleh-NYA. Seperti yang kita rasakan saat ini. Kebetulan yang membawa kamu hadir dalam kehidupan saya dan Arka. Kebetulan yang membuat saya menurunkan sedikit ego dan kembali membuka hati. Dan sebuah kebetulan, karena semenjak saat itu kehadiran kamu membuat kehidupan Arka menjadi ceria kembali. Bukan hanya Arka saja, tapi juga untuk saya.'' ucap Rendi yang kini sudah berlutut di hadapan Daisha.


Perlahan ia bawa perempuan itu ke dalam pelukannya. Ia genggam erat jemari tangannya, seolah takut terlepas dan menghilang. Ia kecup lembut kening itu. Ia eratkan dekapannya dan ia biarkan perempuan di pelukannya itu menangis dengan perasaan yang membuncah.


Ada cahaya keindahan yang menyemburat, menggetarkan jantung. Ada perasaan hangat yang menyembur merasuk ke dalam nadi. Kebungkaman cinta yang selama ini membuat dada sesak hingga akhirnya membuncah meneguk indahnya kisah.


''Kita harus berterima kasih pada Arka, karenanya saya bisa menyadari perasaan saya selama ini pada kamu.'' ucap Rendi setelah tangis Daisha sedikit reda.


Daisha pun mengangkat kepalanya dan menatap dengan penuh tanda tanya pada lelaki di hadapannya itu.


''Iya, berkat Arka saya bisa membuka hati saya kembali.'' ucap Rendi.


''Saat kamu sedang libur dan pulang ke rumah ibu..''


*FLASHBACK*


''Papa, Arka masuk ya.'' ucap Arka membuka pintu kamar milik papanya.


''Iya, sayang. Masuklah.'' jawab Rendi.


''Papa, ayo kita pergi ke rumah eyang Rahayu. Ayo Kita susul mama!'' rengek Arka.


''Oke, tapi papa mandi dulu ya. Papa masih bau habis olah raga. Arka tunggu di sini dulu ya.'' ucap Rendi.


''Hore! Iya, pa.'' sorak Arka bahagia.


Setelah Rendi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Arka pun bermain dan berlarian mengelilingi kamar milik orang tuanya itu. Hingga tanpa sengaja, ia sedikit terpeleset dan menabrak sebuah lemari yang berada di dekat pintu keluar menuju balkon kamar.


''Aduh!'' teriak Arka bergantian memegang lutut dan kepalanya yang tertimpa sebuah benda yang terjatuh dari atas lemari itu.


''Arka! Kamu kenapa, nak?'' tanya Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat putranya terjatuh.

__ADS_1


''Tadi Arka kepleset, pah. Kena lemari ini, eh kepala Arka juga tertimpa ini.'' ucap Arka dengan menunjukkan sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga di sana.


''Kita obati dulu, ya. Papa ambilkan dulu obatnya.'' ucap Rendi berjalan untuk mencari kotak P3K di kamarnya dan menaruh kotak kayu itu di nakas dekat ranjangnya.


__ADS_2