
...Undangan...
...Tuhan telah menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan. Perkenankan kami merangkai kasih sayang yang Kau ciptakan di antara putra-putri kami....
...Tempat :...
...Di Sudut Cerita Kita...
...Jalan Cinta nomor 123...
...Hari & tanggal :...
...Minggu, 20 Februari 20xx...
...Waktu :...
...pukul 09.00 Wib...
...Dengan segala hormat,...
...kami ucapkan terima kasih ...
...sebelum dan sesudahnya....
...Kami yang berbahagia...
...Rendi Atmaja & Daisha Lituhayu...
Sebuah undangan tercetak dan telah dibagikan pada segenap orang-orang tamu pilihan keluarga. Sederhana, hanya acara pesta sederhana sesuai dengan permintaan mempelai wanita. Meskipun, Rendi Atmaja adalah termasuk dalam jajaran bisnisman kelas atas, ditambah lagi dengan kehadiran Marina Mandadara yakni sebagai ibu kandung Daisha, yang merupakan pengusaha parfum terkemuka di kancah internasional, namun acara pernikahan itu dikemas dalam acara intimate wedding. Hangat, hikmat, sakral, dan lebih dekat.
Menjelang malam, langit meledakkan bintang-bintang. Purnama tersenyum. Sebentar lagi, sepi tak lagi sendiri. Kebahagiaan nan hakiki akan segera dimulai. Sungguh rona bahagia terpancar dengan jelas di raut wajah Daisha. Selanjutnya, Ia bersujud memohon restu pada kedua ibunya, Daisha kembali menitikkan air matanya, air mata bahagia. Seorang wanita yang ia kenal, sejak ia dilahirkan telah merawat dan membesarkannya dengan limpahan cinta kasih yang ia panggil dengan sebutan 'ibu'. Dan kini, ia menemukan kembali sosok wanita tangguh yang telah membawanya hadir dan berada di dunia yang indah ini, yang ia panggil dengan sebutan 'mommy'. Mereka telah berdamai dengan masa lalu. Dalam pelukan kedua ibunya, Daisha bersimpuh.
''Ibu, mommy..'' ucap Daisha terbata. Rasa hangat begitu memenuhi hatinya. Begitu pula dengan kedua ibunya, damai.
Setelah prosesi itu, mereka kembali menghangatkan malam dengan jamuan makan malam yang dihadiri oleh sanak saudara di rumah ibu Rahayu yang telah disulap sedemikian rupa.
__ADS_1
Dan pada pagi harinya, mereka tengah bersiap untuk menuju sebuah hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara akad pada esok hari.
''Eh calon pengantin, jangan semobil dong. Kalian harus dipingit dulu untuk sementara waktu.'' ucap tante Maya.
''Kenapa harus dipingit?'' tanya Rendi.
''Namanya juga calon pengantin, ya harus dipingit dulu. Biar ada kangen-kangennya pas besok ketemu di meja akad.'' sambung ibu Rahayu.
''Mulai dari sekarang kalian dilarang bertemu, dilarang chatting ataupun sejenisnya.'' tambah Marina.
''Kenapa harus seperti itu? Ah, menyebalkan.'' kesal Rendi.
''Nggak sabaran amat sih, bos.'' canda Beni.
''Papa sabar dong, jangan marah-marah. Nanti mama Daisha jadi takut sama papa.'' ucap Arka polos.
''Tuh, dengerin anak kamu.'' ucap tante Maya. Seketika semua orang yang berada di tempat itu pun ikut tertawa melihat tingkah Rendi yang serba salah.
Akhirnya Rendi pun mengalah karena mendapat perintah dan ceceran nasihat dari ketiga wanita yang sangat ia hormati. Dan kini ia telah berada di sebuah mobil yang berbeda dengan mobil yang ditumpangi oleh Daisha dan Arka.
''Bos, nggak usah cemberut gitu bos. Nggak sampai 24 jam lagi, bos bebas dah tuh mau ngapain aja.'' ucap Beni terkekeh.
Setelah menempuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di lokasi acara yang akan digunakan esok hari.
Rendi pun berjalan-jalan guna mengamati segala sesuatunya, memastikan bahwa sudah sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.
''Kerja bagus.''
''Makasih, bos. Sesuai permintaan yang mulia.'' canda Beni.
Beni pun hanya mendapat lirikan sinis dari atasannya itu.
''Selain menyebalkan ternyata kamu dapat juga diandalkan.'' ucap Rendi tanpa menatap Beni.
''Bos jangan menyepelekan dong, gini-gini abdi setia lho.'' ucap Beni terkekeh.
__ADS_1
''Memangnya saya raja aja pakai abdi segala.''
''Lah nggak nyadar. Si bos kan kalau udah mengeluarkan titah nggak pakai koma!''
''Itu karena saya percaya sama kamu.'' balas Rendi tak kalah seru.
''Hahaha makasih lho bos, jadi tersanjung! Asal jangan lupa sama itu tuh..'' canda Beni dengan menautkan jarinya membentuk simbol finger heart yang digoyang-goyangkan.
...ΩΩΩ...
Di pagi yang penuh rahmat itu, kedatangan sepasang pengantin yang lelaki tampan rupawan dan yang perempuan cantik jelita, yang muda, yang berbalut rona cinta dari pancaran matanya. Berhiaskan rangkaian bunga-bunga berwarna putih yang bertebaran dimana saja. Bersih, suci, dan sakral. Semarak awan berarak, riang. Sabana permadani menghijau. Kupu-kupu bersabda; "hari bahagia segera dimulai!"
Perlahan, kuncup-kuncup doa mulai merekah. Wangi, semerbak aromanya melingkari isi alam semesta. Sepasang yang di ranting-ranting ikut bernyanyi, bunga pun tersenyum. Dedaunan menari, ikuti irama angin.
Sedikit dalam degup gugup, Daisha berulang kali merapalkan doa untuk acaranya pagi ini. Demi kelancaran acara, demi sakinah, mawadah, dan warohmah nya rumah tangga. Tidak ada pinta istimewa yang ia perbincangkan bersamaNya, tentangmu.
"Berjuanglah untuk mimpi yang kelak menghantui."
Kemudian, angin mensemogakan pintaku, lewat hembusannya. Kerumunan desir udara yang terus bergerak melaju, turut mengaminkan segenap pinta.
Pada pagi yang dingin itu adalah pagi yang mesra bagi sepasang insan yang hendak dipersatukan oleh Tuhan. Restu itu tersalur melalui tangan bapak dan ibu. Di depan penghulu dan disaksikan oleh beberapa saksi dan segenap keluarga, Rendi menjabat erat tangan penghulu di depannya. Dalam hembusan satu nafas lantang, seusai kata sah terdengar, dua sejoli itu telah menjadi satu. Satu badan satu jiwa, satu hembusan nafas satu doa, satu sujud satu pinta, dan satu iman dalam satu amin. Senyum kelegaan begitu menghiasi wajah-wajah bahagia mereka.
Seketika dunia menjadi punya kita berdua, sesaat setelah dikau menghalalkan aku dari orang tua. Seperangkat alat sholat jadi mahar cintamu. Dan aku hanya perlu cinta dan kasihmu untuk mengiringi langkah baktiku.
Betapa banyak senyum yang mengiringi cinta kita, persatuan kita. Banyak doa yang diaminkan untuk kebahagiaan kita. Kini, asmara kita adalah ibadah penyempurna iman sepanjang masa.
Di dalam ruangan berbeda, Daisha pun terpatri menjawab semua penantian. Terpaku, cintamu menuntunku ke singgasana peraduan. Senyum kelegaan begitu menghiasi wajahnya tatkala kata 'sah' terdengar.
Kemudian ia berjalan menuju singgasana, teriring langkah kaki terbalut rindu. Teduh senyummu hiasi cinta yang berlabuh. Terpaku, tatapannya tertuju pada lelaki yang kini telah menjadi imamnya. Tampan, garis wajah bahagia itu.
Untuk pertama kalinya, mereka kembali dipertemukan dengan status yang telah berbeda. Sebagai sepasang suami dan istri. Dengan khusuk Rendi meletakkan tangannya pada puncak kepala Daisha, bermunajat pada sang Maha cinta.
Kemudian, dibalas dengan uluran tangan yang khidmat dan begitu hormat oleh Daisha.
''Padamu, yang selalu bersemayam, janji suci telah kau ikatkan. Eja namamu telah aku genggam. Denganmu, engkau adalah imam kehidupan. Bersama mendayung sampan kehidupan.''
__ADS_1
Riak malam yang damai, tawa ceria di siang hari akan menjadi kebahagiaan yang tiada tara tatkala semua ada dalam pernikahan."