
Seribu cerita pernah dilalui dalam hidup, yang menyuarakan cerita dalam banyak sisi. Seperti pada pagi hari itu, tugas utamanya menjadi seorang istri telah dimulai. Pagi ini Daisha bangun lebih awal dari biasanya. Setelah membersihkan diri dari sisa pergulatannya semalam ia segera bergegas melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dengan hati riang, Daisha berjalan menapaki setiap anak tangga untuk turun menuju dapur.
''Selamat pagi nyonya.'' sapa bi Tatik yang tengah menanak nasi di dapur.
''Pagi juga bi.''
''Oh iya bi, seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, biar saya sendiri saja yang menyiapkan lauk dan sayur untuk mas Rendi dan juga Arka ya. Bibi cukup bantu saya untuk menyiapkan bahan-bahannya saja.'' ucap Daisha dengan lembut.
''Tapi pekerjaan bibi di sini kan ditugaskan untuk menyiapkan makanan bagi tuan dan juga nyonya, bibi tidak ingin makan gaji buta, nyonya.'' ucap bi Tatik dengan menundukkan kepalanya.
''Bibi tenang saja, bibi akan tetap memasak di sini. Tapi khusus makanan mas Rendi dan juga Arka, biar menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seorang istri dan juga ibu untuk menyiapkannya. Lagi pula Arka itu sangat pemilih sekali soal makanan. Tidak sembarang makanan ia mau. Jadi bibi bisa masak untuk yang lainnya. Terserah mau masak apa saja. Jika stok bahan di kulkas habis, bibi bisa beri tahu saya.''
''Baiklah. Siap, laksanakan nya!'' jawab bi Tatik patuh.
Kegiatan masak memasak pagi itu pun berlangsung dalam waktu yang tak lama. Dengan diselingi berbagai tawa dan candaan membuat kegiatan pagi itu terasa begitu menyenangkan. Daisha yang memang mudah bergaul dengan siapa saja menjadi gampang akrab dengan siapapun, termasuk dengan seluruh pegawai di rumah baru mereka.
''Finsih!'' seru Daisha senang.
''Wah.. Selain cantik, baik, dan juga penyayang, ternyata nyonya Daisha pandai memasak juga ya. Aromanya saja udah semriwing gini. Pasti rasanya juga mantap betul deh.'' ucap bi Tatik dengan mengacungkan kedua jempolnya pada majikannya itu.
''Bibi ini terlalu berlebihan. Tapi memang bener semua sih yang bibi bilang tadi.'' ucap Daisha terkekeh.
''Nyonya ini pandai melawak juga rupanya.'' ucap bi Tatik ikut tertawa.
''Biar nggak cepet tua, bi.'' sahut Daisha.
''Betul sekali, nya. Pasti tuan Rendi makin lope lope deh sama nyonya.''
''Aamiin.''
''Oh iya bi, tolong bantuin saya menata makanan ini di meja makan ya. Biar saya bangunkan dulu mas Rendi nya.'' ucap Daisha setelah meletakan apron dan mencuci tangannya.
''Siap, nya!''
Daisha pun segera bergegas menuju kamarnya terlebih dahulu untuk membangunkan suaminya, setelah itu ia beralih ke kamar putranya untuk membantu mempersiapkan keperluan sekolah Arka, sesuai dengan kebiasaannya dulu ketika masih menjadi pengasuh Arka.
''Ayo kita sarapan dulu sayang.'' ucap Daisha dengan menggandeng Arka yang kini sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.
''Mama udah masakin pesanan Arka semalam kan, ma?'' sahut Arka.
''Tenang saja, sudah mama siapkan semuanya khusus buat anak mama tersayang.'' jawab Daisha dengan senyum manisnya. Pasalnya semalam tadi sebelum tidur, Arka telah memintanya untuk memasakkan cumi saus pedas manis itu untuk menu sarapannya.
''Yey! Makasih, ma.'' sorak Arka.
__ADS_1
Seluruh hidangan yang telah Daisha masak kini sudah tersaji rapi di meja. Dari aromanya saja nampak tercium menggugah selera. Mereka duduk bersama dan saling berhadapan.
''Wah, sepertinya enak sekali.'' ucap Rendi meneliti seluruh makanan itu.
''Iya, dong. Siapa dulu yang masak.'' jawab Daisha.
''Beneran ini semua kamu yang masak sayang?'' tanya Rendi seolah tak percaya.
''Ya iya dong mas, untuk apa aku bangun lebih pagi kalau tidak untuk menyiapkan sarapan kalian.'' sewot Daisha.
''Wah, mama hebat!'' seru Arka.
''Terima kasih ya sayang.'' ucap Rendi bangga dan haru pada istrinya itu.
''Ya sudah, ayo di makan. Pokoknya harus dihabisin semua!'' perintah Daisha.
''Siap, bos!'' jawab Rendi dan juga Arka kompak.
Mereka menikmati waktu sarapan dengan begitu bahagia. Nampak rona ceria terpampang dari raut wajah mereka. Setelah menghabiskan sarapan pagi mereka, tiba-tiba Daisha merasa pusing dan sedikit mual. Ia pun segera berlari menuju kamar mandi terdekat. Rendi pun heran dan mengejarnya.
''Sayang, kamu kenapa?'' teriak Rendi mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu.
''Daisha sayang buka pintunya!'' ucap Rendi makin panik. Begitu pula dengan Arka.
''Mama kenapa, pa?'' tanya Arka ikut khawatir.
''Sayang kamu kenapa?''
''Nggak kenapa-kenapa kok mas. Cuma pusing terus mendadak mual, tapi nggak muntah kok.'' jawab Daisha sambil keluar dari kamar mandi dan membersihkan wajahnya dengan tisu.
''Kamu sakit?'' tanya Rendi khawatir.
''Enggak, mas. Paling cuma kecapekan saja.'' jawab Daisha.
''Ya sudah, kamu istirahat saja ya. Kita ke kamar.''
''Mas gendong ya sayang?'' ucap Rendi hendak membopong tubuh istrinya.
''Nggak usah mas, aku masih bisa jalan sendiri kok.'' sergah Daisha.
Setelah membaringkan istrinya di kasur, Rendi segera merogoh ponsel di saku celananya untuk menghubungi seseorang.
''Mas mau ngapain?'' tanya Daisha.
__ADS_1
''Telepon dokter.''
''Nggak usah mas. Aku tuh nggak kenapa-kenapa. Buktinya sekarang udah nggak mual lagi kok. Nih, udah sehat lagi kan.'' sahut Daisha dengan menampilkan wajah yang seceria mungkin.
''Beneran? Tapi mas khawatir sayang.''
''Sekarang tanggal berapa ya mas?'' tanya Daisha.
''Tanggal dua puluh enam. Kenapa kamu malah tanya tanggal berapa?'' tanya Rendi heran.
''Oh, iya benar. Sudah tanggalnya.'' ucap Daisha begitu mengetahuinya.
''Tanggal apa?'' tanya Rendi makin tak mengerti.
''Jadwal bulanan, mas. Kalau udah tanggalnya kadang sering terasa pusing dan mual.'' jawab Daisha tak ingin membuat suaminya makin penasaran.
''Oh, gitu. Mas kira kamu kenapa.'' jawab Rendi sambil menaikkan alisnya.
''Emm, kamu khawatir atau curiga mas? Hayo.. Aku tahu apa yang yang ada dipikiran mas Rendi lho.'' tuduh Daisha pada suaminya itu.
''Enggak sayang, mas nggak mikirin apa-apa kok.'' kilah Rendi.
''Sabar ya mas, kita harus mencobanya lebih giat lagi mulai minggu depan.'' goda Daisha.
''Jangan menggoda mas dong sayang. Jadi selama tamunya datang mas harus puasa dong?'' tanya Rendi dengan ekspresi sedihnya.
''Yups, seratus buat kamu!'' ucap Daisha terkekeh.
''Yah...'' jawab Rendi terkulai lemas.
''Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu. Mas pergi dulu nganterin Arka ke sekolah, setelah itu langsung pulang ke rumah lagi.''
''Tapi Arka nggak mau sekolah, pa. Arka mau jagaian mama aja.'' protes Arka.
''Mama udah sehat kok sayang, tiduran bentar juga nanti terus sehat lagi. Kalian berangkat ya.'' ucap Daisha pada suami dan juga putranya.
''Aku panggilkan ibu ya untuk jagain kamu?'' ucap Rendi kembali.
''Nggak usah mas, aku baik-baik aja kok. Mas Rendi langsung berangkat kerja aja, kasian tuh si Beben pasti udah ngomel-ngomel terus kaya anak ayam karena nggak ada induknya di kantor.''
''Kamu pikir mas ini induk ayam?'' gemas Rendi pada istrinya.
''Hahaha.. bukan induk ayam, tapi bapak ayam.'' ucap Daisha terkekeh.
__ADS_1
''Awas kamu ya, seminggu lagi tunggu tanggal mainnya! Nggak akan mas beri ampun!''
''Siapa takut!''