Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Drama


__ADS_3

''Kita mau ngapain sih bos ke sini?'' tanya Beni merasa keheranan karena atasannya itu membawa mereka berdua menuju sebuah perkampungan penduduk yang masih asri, banyak berbagai jenis pepohonan menjulang tinggi dengan rindang, sepanjang perjalanan mereka juga melewati hamparan perkebunan luas di sana.


''Cepat kamu turun dan tanya dimana rumah Pak Kasim!'' perintah Rendi.


''Iya bos.'' Beni pun segera turun dari mobil dan bertanya pada beberapa pemuda yang tengah duduk-duduk santai di sebuah pos ronda.


''Permisi, mau numpang tanya. Rumah Pak Kasim di sebelah mana ya?'' tanya Beni sopan.


Gerombolan pemuda itu pun memandang Beni dari atas kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. Kemudian mereka pun kompak tertawa terbahak.


''Hahahaha..''


''Woi, saya lagi nanya lho.'' ucap Beni merasa kesal.


Kemudian salah seorang dari pemuda itu berjalan mendekat ke arah Beni.


''Ngapain lu nyari rumah bokap gue?'' tanya seorang pemuda itu.


''Oh jadi anda ini anaknya Pak Kasim, kebetulan sekali kalau begitu.'' ucap Beni.


''Bisa beri tahu saya dimana rumah Pak Kasim?'' tanyanya kembali.


''Lu nggak tahu sedang berhadapan dengan siapa!'' sentak seorang pemuda berambut kribo yang berjalan mendekat ke arah Beni berdiri. Mereka pun kembali tertawa dengan begitu keras.


''Lu harus hormat sama bos!'' ucap pemuda kribo itu lagi dengan menunjuk pria yang berdiri di depannya.


''Di dunia ini nggak ada yang gratis bray! Gue perhatiin lu pasti punya banyak duit. Lu ngerti kan maksud gue!'' ucap pemuda yang mengaku anak Pak Kasim itu dengan arogan.


Beni pun memicingkan matanya dan merasa jengah atas sikap mereka. Ia pun melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu tanpa pamit.


''Woi! Mau kemana lu! Urusan kita belum kelar!'' teriak pemuda itu.


Beni tak mempedulikan teriakan mereka dan terus melangkahkan kakinya menuju mobil Rendi.


''Berhenti lu!'' teriak mereka menghadang langkah Beni.


Dengan sigap, Beni segera menghindar dari cengkraman tangan beberapa pemuda itu.


''Habisin!'' ucap seorang pemuda yang mengaku menjadi ketua kelompok dari segerombolan pemuda desa itu.


Kemudian, gerombolan pemuda itu hendak menghajar Beni, namun dengan gerakan secepat kilat, Beni berhasil menghindari pukulan mereka.


Belum sempat Beni membalas pukulan para pemuda itu, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya berteriak dengan kencang.


''Ucup!!!!''


Perempuan paruh baya itu pun segera menengahi perkelahian yang sangat tidak seimbang, empat lawan satu. Perempuan paruh baya itu menjewer telinga mereka satu persatu secara bergantian.


''Bikin malu aja sih lu pada! Tiap hari kerjaannya berantem mulu!''


''Ampun nyak! Ampun!'' rengek mereka meringis kesakitan.

__ADS_1


Sedari tadi Rendi hanya berdiam diri di dalam mobil sembari memperhatikan mereka dari kejauhan.


''Sangat memalukan!'' Rendi berdecih dengan tatapan tak suka.


''Maafin anak-anak nyak ya mas ganteng, ini mereka emang kudu dikasih pelajaran! Nggak kapok-kapok sih lu pada tiap hari bikin keributan!'' kesal perempuan paruh baya itu dengan menjewer telinga mereka lagi.


''Ampun nyak!''


''Kalau nyak boleh tau, mas ganteng ini mau kemana dan ada keperluan apa ya kemari?'' tanya perempuan paruh baya lagi.


''Eh, begini bu. Saya dan juga atasan saya datang ke sini mau mencari rumah Pak Kasim.'' jawab Beni kembali merapikan kerah bajunya.


''Lah saya Nyak Sumi, bininya babe Kasim.'' ucap perempuan paruh baya itu lagi.


''Wah lagi-lagi kebetulan. Kalau saya boleh tau, dimana ya rumah ibu? Saya dan atasan saya ingin bertemu dengan pak Kasim.'' tanya Beni.


''Tuh rumah nyak disitu. Ayolah kita ke sana.'' ucap nyak Sumi.


''Jangan pada bertingkah lagi lu! Nyak sunat lagi otong lu baru tau rasa!''


''Jangan dong nyak, benda pusaka disunat lagi ya habis nyak.'' jawab mereka ketakutan.


Beni pun segera melangkahkan kakinya mengikuti nyak Sumi sembari memberikan tatapan tajam pada segerombolan pemuda itu.


''Nah ini rumah nyak. Silahkan duduk dulu, nyak panggil dulu si babe di belakang.''


''Iya nyak, terima kasih.'' jawab Beni.


Tak selang berapa lama, Pak Kasim pun keluar dari balik pintu dan menghampiri Beni dan juga Rendi yang sedang duduk di teras rumahnya.


Setelah cukup berbasa-basi, akhirnya Rendi pun menjelaskan maksud dan tujuan akan kedatangannya.


''Jadi begini be, kedatangan saya dan juga teman saya kesini adalah untuk melihat perkebunan buah langsat milik babe. Menurut informasi yang saya dapat, hasil panen dari kebun langsat milik babe ini terkenal paling besar dan manis-manis buahnya. Kebetulan ada misi besar yang harus segera saya kerjakan di kebun itu.'' ucap Rendi.


''Boleh boleh, ayo ikut babe.''


Kemudian babe Kasim pun mengajak Rendi dan juga Beni ke kebun buah-buahan miliknya yang terletak di belakang rumahnya.


''Nah ini kebunnya. Sekarang belum musimnya mas, jadi buahnya ya sangat sedikit.'' ucap babe Kasim.


''Iya be, semoga nasib baik masih berpihak pada saya. Ini semua demi kesejahteraan hidup saya selanjutnya.'' ucap Rendi mengamati pohon-pohon langsat itu.


''Nah itu ada tuh sebiji!'' teriak babe Kasim.


''Alhamdulillah!'' seru Rendi senang.


''Bos, ngapain sih girang banget gitu! Sebenarnya kita mau ngapain?'' tanya Beni heran.


''Cepat manjat! Dan ambil buah langsat itu!'' perintah Rendi.


''Lah kenapa jadi saya sih bos?'' gerutu Beni.

__ADS_1


''Buruan petik!''


''Nggak mau! Enak aja main nyuruh-nyuruh!'' protes Beni.


''Lagian juga kalau si bos pengen makan buah langsat, ya tinggal beli aja di pasar kan banyak bos. Ngapain juga kita harus sampe sini.'' kesal Beni.


''Ini semua demi anak saya!'' ucap Rendi.


''Apa hubungannya? Perkara buah langsat aja harus susah-susah manjat begini.'' kesal Beni.


''Ini semua juga gara-gara sahabat kamu!'' gerutu Rendi.


''Siapa? Daisha?'' tanya Beni masih tak mengerti.


''Ya siapa lagi.''


''Hahahhaha..'' Beni tak dapat menghentikan tawanya.


''Jadi neng Shasha ngidam? Bilang ngapa bos dari tadi!''


''Kalau dipikir-pikir anak bos pinter juga ya, sedari dini udah pinter ngerjain bapaknya!'' ucap Beni terbahak-bahak.


''Sialan kamu!''


Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang dan juga cukup pelik, akhirnya Rendi berhasil membawa setangkai buah langsat yang masih belum matang sempurna itu. Kemudian mereka pun segera berpamitan pada babe Kasim dan Beni kembali melajukan mobil milik atasannya itu menuju rumah Rendi.


''Mas, kok lama banget sih!'' ucap Daisha dengan wajah cemberut dan dengan kedua tangannya bersilang di dada.


''Ini mas bawa apa yang kamu minta.'' ucap Rendi menyerahkan setangkai buah langsat itu pada istrinya.


''Kok masih mentah sih mas? Ya nggak enak dong. Tega banget sih sama istri sendiri suruh makan buah mentah kaya gitu. Emangnya mas Rendi mau aku sakit perut? Mas Rendi nggak kasian sama anak mas Rendi?'' kesal Daisha.


''Bukan gitu sayang. Tapi ini gimana buah langsatnya? Mas kan juga dari kemarin udah bilang buat beli di toko buah atau cari di supermarket saja ya yang sudah jelas matangnya.'' ucap Rendi.


''Nggak!'' jawab Daisha.


''Ya ampun sayang, kamu nggak tahu perjuangan yang udah mas lakukan demi buah langsat ini?'' ucap Rendi.


''Kenapa jadi mas Rendi yang marah sih? Harusnya tuh aku yang marah! Menyebalkan sekali!'' kesal Daisha.


''Sabar.. sabar..'' ucap Rendi dalam hati.


''Maaf sayang, jangan marah ya.'' pinta Rendi setelah menata pikirannya dan kembali mengingat jabang bayi yang kini ada di dalam perut istrinya itu.


''Buang aja mas, masih mentah pasti juga nggak enak. Atau mas Rendi aja yang makan dari pada mubazir.'' ucap Daisha dengan entengnya.


''Di buang?'' tanya Rendi menahan geram di hatinya.


''Iya.''


''Astaga!'' ucap Rendi seraya mengusap wajahnya kesal.

__ADS_1


''Lagian sekarang aku juga udah nggak pengen makan itu lagi kok mas, aku pengennya makan....'' ucap Daisha dengan membayangkan sesuatu yang nampak lezat di benaknya.


''Drama apa lagi ini!'' ucap Beni yang sedari tadi menyimak perdebatan suami istri tersebut.


__ADS_2