Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Kejujuran hati


__ADS_3

Daisha terbaring di atas ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Namun, dia sama sekali tidak tidur. Sesekali tubuhnya bergerak gelisah sampai dia menatap ke arah langit-langit kamar. Daisha masih belum dapat melupakan apa yang baru saja terjadi. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya menjadi berkecamuk remuk.


Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Dan bagaimana dengan Rendi?


Teka-teki hidup apa lagi ini?


Segala pikiran melayang-layang di benaknya. Untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Rasa sesak yang begitu menghantam hati dan perasaannya membuatnya tak bisa tidur sama sekali, untuk memejamkan matanya pun terasa begitu berat.


Setelah mengetahui perihal sebuah rahasia besar yang tersimpan selama ini, Daisha hanya mampu mendesah frustasi. Pengakuan yang ibunya sampaikan semakin membuat perasaannya menjadi semakin buruk. Daisha merasa ini semua tak benar. Seperti mimpi buruk yang begitu menyedihkan. Namun, haruskah ia tetap merasa bersedih setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya?


Larut dalam keheningan, tiba-tiba pintu kamarnya terdengar ada yang mengetuk. Menyadarkan Daisha dari lamunan yang begitu menyiksa batinnya. Dia sedikit tersentak dan spontan bangkit dari pembaringannya. Berjalan ke arah pintu sambil menggerutu. Mulutnya bersungut-sungut.


Dengan tanpa aba-aba ia membuka pintu kamarnya. Daisha hampir saja memaki orang yang mengganggu lamunannya jika dia tidak mendengar suara halus yang menyapanya. Namun bukannya menjawab, Daisha justru terdiam kaku. Lidahnya mendadak kelu. Rasa terkejut membuatnya mati kutu. Gugup dan takut. Jantungnya bahkan berdegup bertalu-talu.


''Belum tidur?'' tanya sosok di depannya itu dengan alunan nada yang begitu lembut.


Daisha hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


''Mau ikut saya ke lantai atas? Kita bisa melihat bintang di sana.'' ucap sosok lelaki didepannya.


Dan kini Daisha pun mengangguk pertanda menyetujui ajakan lelaki itu.


Sesampainya di roof top rumah milik tuannya, Daisha menghembuskan nafasnya kasar. Ia tarik dalam-dalam oksigen yang menipis saat malam hari agar memenuhi paru-parunya. Memandang langit malam yang bertabur akan ribuan bintang.

__ADS_1


''Daisha..'' ucap lelaki itu lirih.


Daisha yang merasa terpanggil namanya pun menoleh ke arah sumber suara. Ia pandangi sosok tangguh di hadapannya. Menatap erat pancaran matanya dan masuk ke dalam rentang tangannya, memeluk tubuh itu dengan begitu erat.


Nyaman, terasa sangat nyaman. Sejenak ia biarkan hening malam menghangatkan tubuhnya yang kini berada dalam dada bidang milik lelaki itu.


''Apapun yang telah terjadi, saya akan selalu menyayangimu.'' ucap lelaki itu dengan membelai lembut puncak kepala Daisha.


Daisha semakin mengeratkan pelukannya pada lelaki itu. Begitu erat seolah takut terlepas.


Cukup lama mereka berdua larut dalam dekapan yang begitu menghangatkan sisi-sisi jiwa yang mulai rapuh akan cacian kenyataan. Hati yang kering kerontang menjadi basah.


''Berjanjilah sekali lagi pada saya, kalau kamu adalah perempuan terkuat yang pernah saya temui.'' ucap Rendi dengan merengkuh kedua pipi kenyal milik Daisha.


Daisha pun hanya menganggukkan kepalanya lagi dan lagi, seolah mengiyakan apapun yang dikatakan oleh sosok lelaki di hadapannya. Namun, ingatannya tiba-tiba kembali melayang pada peristiwa yang baru saja terjadi tadi.


Kedua mata Daisha terbelalak kala mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh ibunya. Kedua tangan milik Daisha mendadak gemetar, bahkan tenggorokannya terasa tercekat.


Hatinya mendadak gelisah, tangannya mulai berkeringat, tubuhnya terasa kaku, lidah pun mendadak kelu. Dunianya runtuh mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya.


Bukan hanya Daisha saja yang terkejut mendengar sebuah kalimat yang terucap dari mulut ibu Rahayu. Semua orang yang berada di tempat itu pun sama terkejutnya dengan Daisha, kecuali tante Maya. Ia sedikit menyunggingkan senyum bibirnya kala mendengar apa yang baru saja ibu Rahayu katakan. Tak dapat tante Maya pungkiri, mengetahui kenyataan yang sebenarnya memang akan menyakitkan bagi Daisha, awalnya. Namun, akan lebih menyakitkan lagi jika kelak Daisha mengetahui kebenaran yang ada dari mulut orang lain. Lambat laun, Daisha pasti akan berlapang dada dan mulai menerimanya. Ucap tante Maya dalam hatinya.


''Daisha sayang, maafkan ayah dan ibu karena telah merahasiakan hal ini dari kamu, nak.'' ucap ibu Rahayu dengan terbata. Kucuran air mata tak kuasa ia bendung dan terus saja mengalir membasahi wajahnya.

__ADS_1


''Sebenarnya apa yang terjadi bu? Jangan buat Daisha takut.'' ucap Daisha yang mulai resah.


''Jika ibu merasa tidak nyaman, kami bisa pergi dari sini terlebih dahulu.'' ucap Rendi melihat kegelisahan di wajah ayu milik ibu Rahayu. Dan semua pun menganggukkan kepalanya seolah menyetujui apa yang baru saja Rendi ucapkan.


''Tidak! Kalian tetap di sini saja. Kalian juga berhak mengetahui kenyataan yang sebenarnya.'' sergah ibu Rahayu.


''Baiklah, jika ibu merasa kehadiran kami tidak memberatkan.'' jawab Rendi.


''Iya, nak Rendi.''


Dengan tarikan nafas yang panjang, ibu Daisha mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ibu Daisha membawa semua orang yang berada di tempat itu kembali mengarungi lorong waktu menuju peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun lalu.


''Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, adalah tahun di mana almarhum ayah dan ibu bertemu untuk pertama kalinya. Di sebuah barak pengungsian di desa tempat terjadinya sebuah bencana alam. Waktu itu ibu ditugaskan oleh rumah sakit untuk membantu korban di sana. Saat itu, ayahmu adalah seorang pemuda tampan yang berhati mulia yang rela memberikan sebagian hartanya untuk para korban di pengungsian itu. Singkat cerita, karena intensitas kami yang sering bertemu, kami pun saling jatuh cinta. Namun, karena sebuah 'keadaan' yang berbeda orang tua ayahmu tidak merestui hubungan kami waktu itu.'' ibu Rahayu menjeda kembali ucapannya. Ia pun kembali mengatur nafasnya. Sungguh mengingat dan menggali memori lalu, sangatlah melukai hati kecilnya. Kembali membuka tabir kisah hidupnya dua puluh lima tahun yang lalu.


''Karena kekuatan cinta kami yang teramat besar dan mungkin juga karena ego kami yang tinggi ketika itu, ayahmu rela meninggalkan nama besar keluarganya dan memilih untuk menikahi ibu di desa tempat asal ibu.'' sesal ibu Rahayu dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.


Daisha kembali menggenggam erat tangan milik ibunya yang mulai terasa dingin. Tanpa berniat menyela sedikitpun apa yang ingin ibunya sampaikan. Guratan keriput yang tergambar di tangan wanita itu, pertanda sudah banyak asam garam hidup yang telah dilaluinya.


''Berulang kali kami datang memohon dan bersujud untuk meraih restu dari tuan Atmaja, namun perjuangan kami sepertinya sia-sia. Hingga akhir ajalnya, tuan Atmaja tetap tidak merestui jalinan cinta antara ayahmu dan ibu.''


''Tunggu dulu! Ada yang harus aku luruskan di sini!'' ucap tante Maya memotong ucapan ibu Rahayu. Semua orang pun kini beralih menatap ke arah tante Maya.


''Kamu salah, mbak. Kejadian yang sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu.'' ucap tante Maya.

__ADS_1


__ADS_2