
''Saya ikut Pak Rendi!'' seru Naya.
''Hm.'' jawab Rendi.
''Kalian hati-hati ya, kabarin terus.'' ucap Daisha dengan perasaan cemas.
''Oke.'' jawab Rendi dengan mencium kening Daisha dan juga Arka sebelum mereka pergi. Sudah menjadi kebiasaan bagi Rendi untuk selalu mencium kening istri dan juga anaknya sebelum pergi kemanapun, hal ini bertujuan untuk menciptakan rasa tenang dan kenyamanan di antara mereka.
Rendi dan Naya pun berjalan menerobos pekatnya kabut yang mulai turun. Suasana sore itu benar-benar terasa sangat dingin dan berkabut. Mereka menyelusuri setiap jalan setapak guna mencari keberadaan Beni. Berjalan ke arah tempat-tempat yang mungkin Beni singgahi.
''Beni!'' teriak Naya memanggil-manggil nama sahabatnya itu.
''Pak, kita cari kemana lagi ya?'' tanya Naya dengan perasaan tak tenang.
''Kamu tenang dulu jangan panik. Sekarang kamu coba hubungi Beni lagi, mungkin tadi hanya karena sinyal nya hilang.'' perintah Rendi.
''Iya pak.'' Naya mencoba menghubungi nomor Beni kembali. Berkali-kali ia tekan tombol hijau itu namun selalu jawaban dari operator yang ia dengar.
''Nggak bisa, pak.'' ucap Naya dengan manik mata yang mulai memerah. Perasaannya semakin tak karuan.
Tiba-tiba saja, ada segerombolan warga yang berlari dari arah belakang Rendi dan juga Naya. Mereka lari terbirit-birit menuruni jalan berbukit itu. Beberapa dari mereka ada yang membawa tali tambang dan ada juga yang berlari dengan membawa beberapa kotak berwarna putih.
Melihat banyaknya warga yang nampak tergesa-gesa dan terlihat panik itu, Rendi menghentikan salah satu dari mereka untuk bertanya.
''Pak, ada apa ya?'' tanya Rendi penasaran.
''Ada wisatawan yang terperosok ke jurang pak.'' ucap salah satu warga itu.
''Katanya korbannya laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan.'' tambahnya dan segera kembali berlari mengejar rombongan warga yang lain.
''Terima kasih pak.'' jawab Rendi.
''Beni?'' ucap Naya dengan lirih. Dadanya seperti tersentak.
''Kamu tenang dulu, semoga semua akan baik-baik saja dan semoga itu bukan Beni.'' Rendi mencoba untuk menenangkan Naya, meski dalam hatinya sedikit khawatir juga.
Naya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu, tenggorokannya terasa tercekat mendengar jawaban dari salah satu warga tadi.
__ADS_1
''Ayo, kita ikuti mereka!'' ucap Rendi. Dan hanya diangguki oleh Naya.
Naya merasa kakinya seperti tak bertulang, lemas. Namun ia harus tetap berlari mengikuti langkah orang-orang itu. Sepanjang perjalanan, di dalam hati Naya tak henti-hentinya merapalkan doa untuk keselamatan Beni. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu. Perasaannya saat ini sangatlah kacau, ia hanya bisa bermunajat pada sang kuasa agar segera menemukan keberadaan sahabatnya itu.
''Kamu dimana sih, Ben? Semoga kamu baik-baik aja. Kenapa sih kamu bikin aku khawatir kaya gini. Tuhan, jaga Beni dimana pun ia berada.'' ucap Naya dalam hati.
Setelah berlari kurang lebih tujuh ratus meter jauhnya, Rendi dan Naya sampai pada lokasi kecelakaan itu.
''Pak, dimana korbannya?'' tanya Rendi pada kerumunan warga itu.
''Sedang ditandu ke atas pak. Sepertinya patah kaki.'' jawab salah satu warga.
''Kenapa bisa sampai terpelosok ke jurang pak?'' tanya Rendi kembali.
''Dengar-dengar sih tadi sedang foto-foto pak, tiba-tiba saja terpeleset dan jatuh ke jurang.''
Naya semakin lemas saja mendengar jawaban itu. Ia semakin memperbanyak doa dan bermunajat pada sang kuasa.
''Kamu tunggu di sini, biar saya pastikan apakah itu Beni atau bukan.'' ucap Rendi.
''Saya ikut pak! Saya harus memastikan sendiri kalau itu bukan Beni.'' kata Naya dengan mata yang sudah memerah.
Rendi dan Naya pun segera berjalan ke arah ambulans yang baru saja tiba di lokasi itu, ambulans itu akan segera membawa korban yang terpelosok ke jurang itu untuk mendapatkan pertolongan medis.
''Permisi.'' Rendi dan Naya mencoba menerobos kerumunan warga.
Setelah berhasil mendekat ke arah mobil ambulans yang tengah bersiap membawa korban ke rumah sakit terdekat, Rendi merasa sedikit terhentak. Ia tak kuasa melihat tubuh korban yang terdapat beberapa luka dan berlumuran darah merah segar. Naya yang melihat itu pun tak kuasa menahan beban tubuhnya. Tubuhnya terperosok ke tanah.
''Astaghfirullah..'' ucap Rendi dalam hati.
''Nay, kamu kenapa?'' Rendi mencoba membantu Naya untuk berdiri.
''Saya takut pak.'' jawab Naya dengan sisa-sisa tenaganya untuk tetap berdiri dengan tegak. Air matanya sudah menetes.
Sekuat hati Rendi mencoba menatap wajah korban laki-laki itu yang tengah berbaring membelakanginya di atas brankar. Dan betapa terkejutnya Rendi ketika mengetahui wajah korban kecelakaan itu bukanlah Beni. Ada sedikit perasaan lega dalam hatinya namun juga perasaan iba melihat kondisi korban yang luka-luka dan meringis kesakitan.
''Suster, berikan perawatan yang terbaik untuk korban.'' ucap Rendi pada petugas medis yang sedang menangani pasien tersebut.
__ADS_1
''Pasti, pak.'' jawab perawat medis itu.
Setelah petugas medis dan mobil ambulans itu membawa korba pergi dari lokasi kejadian, Rendi pun segera membawa Naya untuk sedikit menepi dari kerumunan. Rendi meminta Naya untuk duduk sejenak di tepi pematang jalan itu.
''Kamu baik-baik saja kan?'' tanya Rendi dengan memberikan sebotol air mineral pada Naya.
''Terima kasih, pak. Saya baik-baik saja.'' jawab Naya menerima air mineral itu.
''Jika kamu merasa lelah, saya antarkan kamu kembali ke penginapan terlebih dahulu. Biar saya yang meneruskan untuk mencari Beni sebelum hari semakin gelap.''
''Enggak pak, saya baik-baik saja. Saya akan tetap ikut mencari Beni.'' jawab Naya setelah menghabiskan sebotol air mineral yang Rendi berikan kepadanya.
''Kamu yakin?'' tanya Rendi memastikan.
''Iya, pak.''
''Kalau begitu ayo kita lanjutkan pencarian.'' kata Rendi bangkit dari duduknya.
Rendi dan Naya pun kembali berjalan ke arah lain. Setelah berjalan kurang lebih lima puluh meter, Rendi melihat beberapa gubuk kedai yang nampaknya menyediakan berbagai olahan makanan di sana. Mereka pun segera berjalan ke arah kedai itu.
Dari kejauhan, Naya nampak tak asing dengan sosok laki-laki yang tengah duduk membelakangi mereka. Naya begitu hafal dengan punggung dan gaya rambut itu. Ia pun segera berlari ke arah laki-laki itu.
''Brengsek loe! Gue benci sama loe!'' teriak Naya dengan memukuli punggung bidang yang sedang duduk pada kursi kayu yang terletak di salah satu gubuk kedai.
''Naya!'' teriak Rendi yang ikut berlari dan mencoba menghentikan aksi Naya.
Merasa mendapati tubuhnya tengah di serang dari belakang, laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya menghadap Naya.
''Gue benci sama loe!'' teriak Naya dengan air mata yang terus saja berderai.
''Nay, kenapa sih? Ada apa? Kenapa kamu nangis?'' tanya laki-laki itu, yang tak lain adalah Beni.
Ternyata, selama ini Beni sedang asyik menikmati sajian sepiring singkong goreng hangat dan secangkir kopi hitam yang ia pesan di kedai itu.
Rendi dan Beni pun hanya saling pandang. Seolah mereka sedang bertelepati untuk berkomunikasi satu sama lain.
''Gue benci!'' teriak Naya sambil memukul-mukul lengan Beni.
__ADS_1
Beni pun segera membawa Naya ke dalam pelukannya. Ia biarkan sahabatnya itu menangis di dalam dadanya.
''Kenapa loe selalu bikin gue khawatir.'' ucap Naya lirih dan dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi wajah cantiknya.