
Sebuah filosofi tentang cinta. Berjuta makna, berjuta cerita, berjuta pula alurnya. Membaur dan tak terlepas dari sejuta problema. Cinta ibarat menjadi pagi yang lamat-lamat mengurai cahaya matahari. Biasa dan terbiasa.
Benar seperti kata orang, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu. Cinta tercipta karena terbiasa. Dalam pepatah jawa, dikatakan bahwa "witing tresno jalaran soko kulino".
''Jadi kalian udah resmi nih?'' goda Daisha pada kedua sahabatnya yang nampak masih malu-malu di sudut sana.
''Apaan sih, Sha!'' ucap Naya dengan wajah yang tersipu merah, malu-malu.
''Katanya sih nggak peduli, katanya sih bodoh amat, katanya sih nggak sayang, katanya juga nggak cinta, tapi ditinggal beli singkong goreng aja ada yang nangis kejer.'' goda Beni dengan mengerlingkan matanya pada Naya.
''Kalian rese' ah! Nggak suka gue.'' kesal Naya. Namun, dalam hatinya jelas berbunga. Terlepas dari belenggu ikatan antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan pertemanan yang telah terjalin selama beberapa tahun, friendzone.
Suasana hati Naya dan juga Beni malam ini begitu terasa ringan dan tanpa beban. Seolah telah terlepas dari tumpukan batu yang begitu menghimpit menyiksa, lega. Keduanya telah berhasil lepas dari belenggu keraguan dan ketidakpastian. Rasa takut yang selama ini membelenggu diantara hati dan pikiran mereka perlahan memudar bersama sambutan kasih yang perlahan terjalin.
''Jangan ngambek dong, Nay. Kalau masih baru emang suka gitu, malu-malu tapi mau.'' ucap Daisha terkekeh.
''Nyebelin, ah! Balik nih gue!'' kesal Naya.
''Lah besok kan kita juga udah balik ke rumah.'' sahut Beni.
''Akuin aja sih, Nay. Aku tuh udah menduga dari dulu, dulu banget malah. Kalau selama ini kalian itu hanya berusaha untuk saling menyangkalnya. Kalian takut akan terjebak dan merusak status kalian yang 'sahabat' itu kan? Tapi, jujur aku ikut bahagia akhirnya kalian bisa saling terbuka dan jujur tentang perasaan kalian satu sama lain.'' ucap Daisha memeluk Naya dengan erat.
''Makasih ya, Sha. Kamu emang sahabat terbaik yang pernah aku miliki.'' balas Naya dengan membalas pelukan sahabatnya itu dengan hati-hati, takut melukai keponakan kecil yang masih berada dalam kandungan sahabatnya.
''Dan semua ini berkat singkong goreng!'' sahut Beni terkekeh.
''Nah.. Kalau akur begitu kan sedap dipandang.'' sahut Rendi dengan tetap fokus pada ponselnya.
''Memangnya kami pernah nggak akur ya mas?'' tanya Daisha.
Dan semua orang yang berada di tempat itu pun saling berpandangan satu sama lain, beberapa detik kemudian mereka tertawa. Tawa bahagia dan menertawakan kisah hidup mereka.
Berada dalam suasana yang hangat dan akrab seperti ini membuat Daisha merasa hidupnya seolah sempurna. Ia selalu tersenyum bila ingat dulu ia juga habis-habisan menyangkalnya. Dan kini ia sendiri pun yang merasakannya. Semua terjadi begitu saja seakan-akan Tuhan memberitahu bahwa anugerah cintaNya sungguh luar biasa. Sekuat apapun kita coba untuk mencegahnya, bagai air ia tetap akan mengalir dari celah-celah yang ada.
__ADS_1
Masa-masa ketika ia dan suaminya dulu sering bersama, berbicara, bercanda, tertawa, dan beradu argumen yang kadang tidak terlalu penting. Namun itu yang membuat ikatan mereka semakin dekat. Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan hanya perihal waktu.
...ΩΩΩ...
Menjelang malam, semua kembali pada bilik masing-masing guna mengistirahatkan raga untuk menyongsong hari esok. Di atas sana, rembulan kini sudah tak malu-malu lagi bertahta di angkasa. Sepertinya malam telah bertambah malam, hingga bayang pun menjadi tebal menghitam tak terkikis sinar rembulan. Di dalam dinginnya malam itu, Daisha tengah beradu kasih bersama dengan suaminya guna menutup malam sebelum pagi menjelang. Hingga aroma nafas mereka saling memburu sebuah lentera kasih yang tertulis dalam desiran angin malam.
Semakin malam semakin menerjang menjulang. Lantunan lembut desah nafas mengukir bingkisan hati untuk menenun sebuah cerita malam yang terlukis dalam sebuah lenguhan yang kau ciptakan. Tak tercerai tetes embun kau siramkan selaksa kasih sayang. Dan rintiknya membawa sebuah sajak kedamaian untuk mimpi hangat yang melelapkan singgasana angan. Terusir kata yang disampaikan risalah hati untuk langit-langit jiwamu yang anggun menari bersama tiupan angin.
''Terima kasih sayangku.'' kecup Rendi pada kening istrinya yang sedikit berpeluh setelah peraduan itu.
Daisha semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. Buncit perutnya sedikit menyusahkan gerakannya, namun semua itu tak mengurangi nilai-nilai kasih yang menggelora. Semakin erat dan terikat.
Rendi membalas pelukan erat istrinya dengan dekapan cinta. Kecupan-kecupan hangat menghujam lembut di setiap inchi tubuh istrinya. Di dalam benaknya, Rendi selalu berterima kasih pada sang pencipta. Betapa maha dahsyatnya cinta kasih dariNya untuknya.
''Terima kasih istriku, terima kasih juga anak papa. Sehat-sehat ya, nak.'' Rendi membelai lembut perut buncit milik Daisha.
''Aku sangat mencintaimu.'' tambahnya.
Dari lekuk gerak tubuhmu mengisyaratkan sebuah rasa yang membahana memenuhi ruang batin. Tak lain redup sang mentari telah memadamkan senja dan membingkai hari menjadi panorama malam yang indah. Lebih indah karena ada indahnya dirimu di sisiku. Detik irama lagu hati terus terlantun menjadi sebuah bait dalam penggalan cerita hati.
Kemudian, dua jiwa yang dipenuhi akan cinta kasih itu pun segera terlelap. Bersama alunan malam yang menuju fajar yang sebentar lagi akan tiba.
Hingga pagi menjelang, mereka masih asyik bercumbu dibalik selimut yang hangat. Hawa dingin yang terasa menusuk kalbu, seolah semakin memanjakan untuk terus mengajak berbaring dan merapikan kembali selimut mereka.
''Ayo semuanya sarapan dulu, setelah ini kita harus siap-siap untuk kembali pulang.'' teriak Daisha pada pintu-pintu kamar yang masih ditutup rapat oleh pemiliknya. Kepulan aroma masakan begitu menggugah selera yang sudah tersaji di meja.
''Jam berapa sih sekarang?'' tanya Naya yang sambil berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajah bangun tidurnya.
''Udah jam sembilan tau!'' ucap Daisha yang tengah sibuk menyeduh susu hamilnya.
''Ya ampun, kirain masih subuh.'' sahut Naya setelah mencuci mukanya dengan air segar.
''Contoh nih ibu hamil satu ini, meskipun perutnya udah buncit tapi tetap rajin dan berdedikasi.'' kata Beni setelah menyeruput teh hijau di cangkirnya.
__ADS_1
''Kalau mau muji ya muji aja kali, nggak usah pakai ngatain buncit segala!'' ucap Daisha.
''Kan faktanya gitu.'' canda Beni.
''Ngomong-ngomong, Pak Rendi kemana?'' tanya Naya.
''Tuh orangnya.'' tunjuk Daisha pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar.
''Yuk sarapan dulu, mas. Udah ditungguin nih.'' kata Daisha.
''Oke.''
Setelah selesai membereskan piring dan meja makan, tiba-tiba saja Daisha merasakan perutnya sedikit terguncang.
''Aduh!'' ucap Daisha meringis kesakitan memegangi dan membelai lembut perutnya.
''Mama kenapa?'' tanya Arka langsung menghampiri mamanya.
''Sayang, kenapa? Apanya yang sakit?'' tanya Rendi panik.
''Sha!'' teriak Beni.
''Ayo cepat ke rumah sakit!'' teriak Naya dengan panik. Suasana pagi itu, mereka semua kembali dibuat panik dan waspada. Setelah berdiam sejenak, Daisha pun akhirnya berkata.
''Dede bayinya nendang.'' jawab Daisha dengan senyumnya yang lebar.
''Huft! Kirain udah mau lahiran.'' ucap mereka dengan perasaan lega.
''Masih dua bulan lagi.'' jawab Daisha.
''Sehat-sehat ya keponakan tante.'' ucap Naya mengelus lembut perut sahabatnya itu.
Hidup bagaikan pesawat kertas, terbang dan pergi membawa impian. Sekuat tenaga dengan hembusan angin terus melaju terbang. Jangan bandingkan jarak terbangnya, tapi bagaimana dan apa yang dilalui. Karena itulah satu hal yang penting, selalu sesuai kata hati.
__ADS_1
Terima kasih, Pesawat Kertas.
...•TAMAT•...