
Waktu berlalu dengan cepat. Semua persiapan telah rampung dikerjakan. Begitu pula dengan Daisha, ia telah mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun yang sangat indah. Begitu tatanan rambutnya selesai dirapikan oleh Naya, Daisha pun berjalan ke arah cermin untuk melihat pantulan dirinya. Tak perlu diragukan lagi, penampilan Daisha malam ini begitu menawan.
''Mama cantik sekali.'' ucap Arka dengan kagum.
''Terima kasih sayang.'' balas Daisha dengan sebuah senyuman.
''Bener-bener kaya cinderella, so gorgeous sobat gue satu ini.'' ucap Naya mengacungkan kedua jempolnya.
''Nggak usah memuji berlebihan, emang udah syantik dari sononya.'' kelakar Daisha.
''Dih, pede boros!''
''Oh iya Arka, sebaiknya kamu ikut aja nemenin mama dan papa ya nak?'' ucap Daisha.
''Oh no no no! Biar Arka di rumah aja sama tante Naya ya. Iya kan boy?'' sahut Naya meminta persetujuan dari Arka.
''Iya, ma. Arka sama tante Naya aja. Kan ada eyang juga yang menemani Arka.'' balas Arka dengan mengedipkan matanya pada Naya.
''Baiklah.'' jawab Daisha pasrah setelah berulang kali membujuk Arka untuk ikut bersamanya.
Sebenarnya ia merasa sangat gugup, ini adalah pertama kalinya ia menghadiri sebuah pesta kalangan orang berada. Jujur ia merasa sangat grogi dan entah mengapa kepercayaan dirinya menjadi sedikit memudar.
Tepat pukul tujuh malam sesuai dengan yang dijanjikan, Rendi tiba di kediaman ibu Rahayu.
''Itu suara mobil papa.'' seru Arka mengintip di balik jendela.
''Duh, kok aku jadi deg-degan gini ya.'' gumam Daisha sambil meremas jemari tangannya yang mendadak menjadi dingin.
''Udah sih, tinggal berangkat aja. Yang penting elu ikutin terus tuh Pak Rendi nya, jangan sampai ilang nanti nangis lu kaya anak ayam kehilangan induknya.'' goda Naya.
''Ih, rese lu!'' kesal Daisha.
''Ayo, ma. Cepetan kita turun. Papa pasti bakalan terpesona melihat penampilan mama.'' goda Arka sambil menarik tangan Daisha.
''Sabar dong sayang, mama belum terbiasa pakai high heels nih.'' ucap Daisha.
Tak ingin membuat Rendi menunggu lama, Daisha pun segera berjalan untuk menghampiri Rendi. Begitu sampai di lantai bawah, nampak Ibu Rahayu yang sedang berbincang-bincang dengan Rendi. Rendi mengenakan setelan jas yang senada dengan gaun yang Daisha kenakan. Dari kejauhan, nampak dari tatapan Rendi yang begitu terpana ketika melihat penampilan Daisha, benar-benar mempesona. Tak salah jika ia kembali melabuhkan hatinya pada sosok perempuan anggun di hadapannya. Begitu pula dengan Daisha, ia juga mengakui jika malam ini Rendi semakin terlihat tampan dengan apa yang ia kenakan.
''Sudah-sudah, jangan dilihatin terus anak ibu.'' goda ibu Rahayu pada Rendi.
Mendengar ucapan ibu Rahayu, Rendi menjadi sedikit salah tingkah.
''Eh, enggak kok bu.'' kilah Rendi seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
''Sudah siap?'' tanya Rendi kembali pada Daisha.
''Sudah.''
''Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang.'' ucap Rendi seraya menatap jam yang melingkar di tangannya.
''Kami pergi dulu ya, bu. Daisha titip Arka.'' pamit Daisha pada ibu Rahayu.
''Baik-baik ya sayang, jangan nakal.'' ucap Daisha menundukkan dirinya sejajar dingin tinggi Arka.
''Siap, Ma. Mama tenang saja.'' ucap Arka dengan hormat.
''Kalau begitu, kami permisi dulu.'' ucap Rendi dengan mengacungkan jempolnya pada Arka dari balik badannya dan dibalas pula oleh Arka.
Setelah berpamitan, Daisha pun berjalan beriringan bersama Rendi. Dengan sigap, Rendi membukakan pintu mobilnya untuk Daisha.
''Terima kasih.'' ucap Daisha dengan pipi yang bersemu. Sungguh manis sekali lelaki pujaan hatinya malam ini, pikir Daisha. Jika tidak ada riasan yang menghiasi wajahnya, tentulah akan kentara sekali rona merah di pipinya.
Mobil pun melaju dengan sedang, tidak pelan tidak pula cepat.
''Kita mau menghadiri pesta dimana sih pak?'' tanya Daisha yang sudah merasa gatal ingin bertanya.
''Nanti kamu juga akan tahu.'' jawab Rendi singkat.
''Kalau ditanya selalu aja jawabnya gitu, nyebelin.'' gerutu Daisha lirih.
''Bodo!'' kesal Daisha karena setiap pertanyaan yang ia tanyakan pada Rendi selalu mendapatkan jawaban yang sama.
''Kamu tahu enggak, semenjak bertemu dengan kamu Arka sekarang menjadi sama cerewetnya dengan kamu.'' goda Rendi.
''Siapa juga yang nyuruh saya untuk menjadi pengasuh Arka.''
''Jadi kamu nggak mau menjadi pengasuh anak saya?'' tanya Rendi.
''Bukannya begitu, saya seneng kok pak jadi pengasuh Arka. Tapi bapak yang selalu bikin saya jadi kesel.'' ucap Daisha cemberut.
''Jadi kamu hanya ingin menjadi pengasuh Arka saja? Tidak ingin lebih?'' tanya Rendi dengan nada yang sulit di artikan.
Daisha pun seketika mengatupkan kedua mulutnya mendengar ucapan Rendi.
''Maksud bapak apa?'' tanya Daisha tak mengerti.
''Bukan apa-apa.'' kilah Rendi. Mendadak suasana menjadi sedikit canggung. Hanya suara musik dari audio player dan angin malam yang menemani perjalanan mereka berdua.
__ADS_1
''Kita mau kemana sih pak? Perasaan dari tadi nggak sampai-sampai.''
''Loh, bukannya kita tadi udah lewat sini ya? Bapak nggak tahu jalan apa gimana sih?'' ucap Daisha seraya menunjuk sebuah taman yang menurutnya sudah mereka lewati tadi.
''Nanti kamu juga akan tahu.'' jawab Rendi.
''Terserah deh.'' kesal Daisha.
Rendi pun semakin tak kuasa menahan tawanya gemas. Ia semakin bertambah gemas ketika melihat Daisha melipat kedua tangannya di dadanya, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. Hingga sebuah dering panggilan telepon menghentikan tawanya. Segera ia raih ponsel itu dari balik saku jasnya.
''Oke.'' sebuah kata singkat yang terucap dari bibirnya dan kembali ia menyimpan ponselnya. Ia bergegas melajukan kembali mobilnya dengan sedikit cepat.
Tak selang beberapa lama, mobil yang Rendi kendarai pun sampai pada sebuah restoran mewah yang menonjolkan kesan klasik dengan nuansa serba putih berpadu dengan ornamen-ornamen kayu yang epik dan menampilkan kesan antik dan estetik.
''Kok sepi banget sih pak? Bener nggak ini alamatnya? Jangan-jangan bapak salah lagi.'' ucap Daisha.
''Ayo kita turun.'' perintah Rendi.
''Pak tunggu, ini beneran tempatnya? Udah bubar kali pak pestanya, kita pulang lagi aja yuk pak.'' kata Daisha dengan menarik lengan Rendi.
''Cepat, ayo kita masuk.'' ucap Rendi meraih tangan Daisha.
''Kok tangan kamu dingin? Kamu takut?'' tanya Rendi.
''Enggak, siapa juga yang takut. Pak, bapak nggak berniat untuk menculik saya kan?'' Daisha semakin mengeratkan pegangannya pada lengan milik Rendi.
''Kamu ini ada-ada saja.'' ucap Rendi terkekeh.
''Sudah, ayo cepat masuk.''
''Pak, tungguin dong. Jangan cepet-cepet jalannya, bapak nggak lihat saya pakai high heels gini. Gelap banget ini lho.'' gerutu Daisha.
''Makanya kamu pegangin tangan saya yang bener.'' goda Rendi.
''Bapak modus tau nggak!''
Setelah berjalan dengan diwarnai bumbu perdebatan, akhirnya Rendi dan Daisha pun sampai pada sebuah taman yang gelap gulita. Tanpa ada penerangan sedikitpun. Hanya terang cahaya rembulan yang menjadi penerang dalam kegelapan malam itu.
''Pak, bapak jangan bercanda deh. Kita pulang aja yuk!'' rengek Daisha.
''Ssstt... Diem saja kamu!''
Setibanya mereka di tengah-tengah taman, Rendi pun menyalakan flash light pada ponselnya. Seketika saja tempat itu menjadi terang. Semua lampu menyala dengan beriringan. Daisha pun menyipitkan kedua matanya guna menyesuaikan dengan suasana yang mendadak menjadi terang benderang. Ia merasa terkejut dan tak percaya melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
''Pak?'' ucap Daisha seolah tak percaya.
Rendi pun tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada jemari cantik milik Daisha.