Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Sorot teduh


__ADS_3

''Jadi begitu ceritanya?'' tanya Rendi.


''Iya, bos.'' jawab Beni yang kembali terbawa perasaan kesal pada mantan sahabatnya itu.


Rendi sejenak diam mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Beni. Lagi-lagi ia perasaannya diliputi kekaguman pada sosok perempuan yang menjadi pengasuh anaknya itu.


''Apa dia diancam sehingga tidak melaporkan pada polisi?'' tanya Rendi kembali.


''Tidak bos. Neng Shasha itu perempuan yang baik, terlalu baik malah. Eh, maksud saya Daisha.'' ucap Beni yang tidak dapat memungkiri rasa kagumnya terhadap sahabat perempuannya itu.


Rendi kembali diam dan memperhatikan wajah asistennya itu secara seksama.


''Apa kau menyukainya?'' tanya Rendi.


''Hahaha.. Kenapa bos tanya seperti itu? Bohong jika saya mengatakan tidak menyukainya. Laki-laki mana yang bisa menolak pesona gadis seperti Daisha. Udah cantik, baik, penyayang, pekerja keras, dan pemaaf pula. Saya sangat menyayangi sahabat saya itu. Dan juga saya tahu betul bagaimana perjuangan hidupnya selama ini.'' jawab Beni jujur.


''Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padanya?'' tanya Rendi kembali.


''Sudah, bos. Sering malah, tapi selalu ditolak mentah-mentah.'' ucap Beni terkekeh.


Rendi pun sedikit mengangkat bibirnya seolah ikut menertawai pengakuan dari asistennya itu.


''Sudah malam, sebaiknya kita segera pulang.'' ucap Rendi mengakhiri percakapan.


''Oke, bos.''


Rinai hujan malam ini menderai membasahi bumi. Pohon-pohon peneduh yang berada di bahu jalan yang tingginya tak lebih dari rentetan bangunan gedung-gedung pencakar langit di kanan kirinya itu pun sedikit tersamarkan dari pandangan oleh rintik hujan yang jatuh. Sedari tadi angin berhembus sedikit kencang. Sedikit menggoyangkan daun-daun yang tadinya masih bertengger di ujung ranting dan akhirnya perlahan terlepas juga.


Hujan mulai reda bertepatan dengan Rendi yang baru saja memasuki pelataran rumahnya. Segera ia memarkirkan kendaraannya. Kemudian, Rendi berjalan memasuki rumah yang mulai sedikit berkurang pencahayaannya karena waktu yang mulai larut. Ia berjalan menuju kamar anak lelakinya dan sedikit mengintip di sana. Ia berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara.


''Rupanya sudah tidur, maafkan papa tidak bisa pulang awal ya, nak. Tidur yang nyenyak, jagoan papa.'' ucap Rendi mengecup puncak kepala anak lelakinya yang sudah terbuai ke alam mimpi. Ia tutup pintu kamar itu dengan perlahan dan berjalan menuju kamarnya. Namun, langkah kakinya terhenti tatkala melewati sebuah kamar yang berdinding putih tulang dengan sedikit cahaya remang yang menerangi penghuninya. Dari celah pintu yang terbuka menampilkan seseorang yang sedang duduk bersila.


Tok.. tok.. tok..


''Apa kamu sudah tidur?'' tanya Rendi dari balik pintu.


''Belum, pak.'' Daisha segera berjalan ke arah pintu dan menghampiri bosnya tersebut.


''Bapak baru pulang?'' tanya Daisha.

__ADS_1


''Hm.''


''Bapak mau saya buatkan teh?'' tawar Daisha.


''Tidak, saya sudah minum tadi.''


''Ada perlu apa ya, pak?'' tanya Daisha bingung pasalnya bosnya itu jarang sekali untuk sekedar menyapa bahkan malam ini bosnya itu mendatangi dan mengetuk pintu kamarnya.


Sejenak Rendi terdiam. Pandangannya menerawang masuk ke dalam manik mata perempuan di hadapannya itu. Ia selami kedalamannya dalam diam, seolah ingin ia salurkan sepercik kekuatan untuknya.


''Daisha, tetap jadi orang baik. Miliki hati yang tak pernah membenci, senyuman yang tak pernah menyakiti, dan kasih sayang yang tak pernah berakhir." Ucap Rendi tulus.


Tatapan Daisha tak lepas dari sorot mata tajam yang membuatnya merasa terpaku. Perlahan hatinya merasa teduh dan merasa hangat. Ia menundukkan kepalanya, mencoba untuk menahan hawa panas di sudut matanya. Entah mengapa, ia merasa mudah rapuh akhir-akhir ini.


Perlahan Rendi membawa Daisha ke dalam pelukannya, ia belai lembut surai kepala perempuan yang belakangan ini sedikit meruntuhkan egonya. Dan Rendi biarkan perempuan itu menangis di dalam pelukannya.


Merasa damai dalam balutan kasih sayang, air mata Daisha pun lolos dengan sendirinya. Ia merutuki kelemahannya kali ini. Ia benci memperlihatkan sisi rapuhnya pada orang lain. Setelah beberapa saat, Daisha mencoba mengurai pelukan lelaki tampan itu.


''Maaf pak, saya nggak sengaja.'' ucap Daisha sembari menghapus jejak air matanya.


''Menangislah jika harus menangis, tidak usah berpura-pura. Tapi setelah ini, berjanjilah untuk menjadi lebih kuat lagi.'' ucap Rendi ikut menghapus sisa air mata milik Daisha.


Daisha pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


''Iya.''


...ΩΩΩ...


Pagi ini Beni sudah berada di rumah Rendi untuk mengantarkan berkas yang diminta oleh bosnya itu. Dengan berpakaian rapi dan sepatu mengkilap, Beni berjalan memasuki kediaman bosnya itu bak seorang super model dengan badan atletis yang menebarkan semerbak keharuman aroma wangi parfum yang dari baunya saja nampak dari golongan parfum kelas mentereng. Daisha baru saja keluar dari kamarnya dan hendak membantu untuk menyiapkan sarapan untuk Arka.


''Buset, wangi bener bang!'' seru Daisha yang melihat Beni melewati ruang makan.


''Eh, ada neng Shasha.'' jawab Beni.


''Aku curiga, kayaknya kamu nggak mandi deh ini tapi cuman pake parfum doang.'' ucap Daisha.


''Enak aja! Ya mandi beneran atuh neng Shasha. Abang Beni mah rajin kalau di suruh mandi biar makin ganteng.'' ucap Beni.


''Iyain aja deh, biar seneng.'' ucap Daisha terkekeh.

__ADS_1


''Sialan lu!''


''Ngomong-ngomong pak bos kemana? Kok di ruang kerjanya nggak ada?'' tanya Beni.


''Mana aku tahu, emangnya aku emaknya.'' jawab Daisha acuh sambil berjalan menuju dapur.


''Ditanya beneran nih lho!'' protes Beni yang mengikuti langkah Daisha.


''Kayaknya jam enam tadi udah keluar, palingan lagi joging.''


''Eh coba! Udha gue belain pagi-pagi buta gini datang ke sini, eh orangnya malah asyik-asyikan joging? Tau gitu, abis subuh tadi balik tidur lagi gue.'' gerutu Beni.


''Ehem!''


Seketika kedua orang yang sedang berdebat di dapur itu pun menoleh ke arah sumber suara.


''Eh, pak bos. Baru pulang olah raga bos?'' sapa Beni dengan sopan.


''Hahaha.. Tadi aja marah-marah giliran ada orangnya kicep!'' goda Daisha dengan terkekeh.


''Diem lu!'' ucap Beni menutup mulut Daisha yang sedang tertawa.


''Lepas, Ben! Sakit tau! Tanganmu bau!'' protes Daisha dengan memukul-mukul lengan sahabatnya itu.


''Makanya diem!'' jawab Beni.


Rendi memperhatikan kedua orang di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Beni yang mulai peka akan keadaan pun segera melepas dekapan tangannya pada mulut Daisha.


''Maaf bos, kelepasan.'' ucap Beni sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


''Sakit tau, Ben!'' ucap Daisha.


''Maaf maaf neng Shasha.'' ucap Beni kembali.


''Kalian ngapain berduaan di dapur?'' tanya Rendi dengan nada dingin.


''Lagi nyuci baju bos.'' ucap Daisha asal.


Rendi yang mendengar jawaban Daisha pun menajamkan matanya dan seperti ingin menerkam mangsanya.

__ADS_1


''Ya abisnya kalau di dapur itu kan pasti mau masak atau mau menyiapkan makanan, pakai tanya lagi.'' kata Daisha.


''Hahaha.'' Beni pun tak dapat menahan tawanya.


__ADS_2