
Hidup hanyalah abu-abu sebelum aku bertemu denganmu. Aku lupa cara mengeja tawa, dan aku lupa bagaimana cara berharap. Dan aku juga lupa bagaimana cara mencinta.
Ketika bertemu denganmu, tak kurasakan lagi ruang kosong dalam jiwaku. Bersamamu, waktu terasa berjalan cepat. Masih ku ingat di antara sepoi angin pantai pada senja yang menua, kau katakan kau menyayangiku dan hatimu hanyalah untukku. Aku percaya.
Memang tak pernah berbohong, senja selalu memberikan warna terbaik untuk seseorang yang sedang menunggu, untuk memanjakan jiwa dan pandangan. Serta waktu yang indah untuk mengistirahatkan pikiran yang telah bergelut seharian penuh dengan keresahan. Layaknya hujan, senja pun hanya singgah sebentar untuk memberi warna yang indah sebelum langit berganti menjadi hitam temaram.
Ketakutan kekhawatiran selalu menjadi kebiasaan saat malam tiba. Di saat orang lain menjadikan malam sebagai waktu istirahat tapi bagi beberapa orang malam menjadi waktu yang tidak baik bagi pikiran. Karena saat sunyi datang keresahan yang tadinya hilang muncul kembali, semua luka dan duka mengelilingi malam yang gelap.
Deru suara mobil beradu dengan bisingnya aspal malam yang semakin membalut resah dua insan anak manusia yang dilanda cinta, yang kini terselip kerikil tajam yang menjadi penghalang. Kemelut rasa yang membuat luka.
Dengan kecepatan sedang, Rendi membelah malam dengan membawa sosok gadis yang tengah terlelap di sampingnya. Lelah, ya gadis itu nampak begitu lelah.
Ia pandangi sosok teduh di sampingnya. Dari raut wajahnya, jelas menyimpan luka. Dari aroma hembusan nafasnya menggambarkan gejolak rasa yang seperti sia-sia. Mengapa tiba-tiba seakan kau pergi melepas rengkuhanmu dan berhenti menyemai rasa tanpa sebab? Angan-angan membuncah, carut marut tak berarah. Mungkin alam semesta tak menerimanya. Dan waktu tak memberi kesempatannya. Tapi setidaknya aku telah berhasil menemukanmu, kembali kini.
Setibanya di pelataran rumah, Rendi tak tega untuk membangunkan wanita yang berhasil memporak-porandakan hatinya. Untuk mengusik tidurnya pun ia seakan tak rela. Dengan kedua tangannya, Rendi membopong tubuh ramping milik Daisha masuk ke dalam rumahnya.
''Daisha! Daisha kenapa nak Rendi?'' tanya ibu Rahayu yang pecah akan tangisnya begitu menyambut kepulangan anak gadisnya.
''Daisha hanya kelelahan bu, biar saya baringkan ia di kamarnya.'' jawab Rendi berjalan ke kamar milik Daisha.
Dengan begitu hati-hati, Ia baringkan gadis itu ke dalam ranjang empuk miliknya. Ia rapikan selimut sampai menutup atas perutnya.
''Sebaiknya kita turun saja dan biarkan Daisha beristirahat dulu.'' ucap Rendi dengan suara pelan takut mengganggu tidur perempuan di hadapannya.
__ADS_1
''Pak Rendi benar, bu. Biarkan Daisha istirahat dulu.'' ucap Naya mencoba menenangkan ibu Rahayu yang terus saja menangis.
Dengan berbagai ajakan dan bujukan, akhirnya ibu Rahayu pun bersedia memberikan sedikit waktu untuk Daisha sejenak beristirahat.
''Terima kasih nak Rendi, sudah membawa Daisha kembali pulang.'' ucap ibu Rahayu tulus.
''Sudah kewajiban saya bu.'' jawab Rendi singkat.
Melihat sorot cinta yang begitu besar dari pancaran mata milik anak lelaki yang kini berstatus sebagai keponakannya, mendadak hati ibu Rahayu kembali menjadi pilu. Benarkah ia setega itu? Berbagai angan berkecamuk memenuhi isi kepalanya. Di tambah dengan sorot mata yang nampak begitu penuh amarah dari manik mata milik Maya yang kini duduk di hadapannya, membuat ibu Rahayu semakin merasa begitu berdosa. Setelah memikirkan dan menimbang baik-baik akan segalanya, akhirnya ibu Rahayu pun kembali membuka mulutnya.
''Nak Rendi, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang harus kalian tahu. Tapi, kita tunggu Daisha terbangun dulu.'' ucap ibu Rahayu dengan meremas erat jemari tangannya sendiri.
Mendadak suasana menjadi hening kembali. Mereka saling diam dengan isi kepala masing-masing. Tiba-tiba sebuah langkah kaki berjalan mendekat ke arah mereka berada.
''Daisha sayang.. Kamu sudah bangun nak? Kamu kemana saja nak? Ibu khawatir sekali.'' ibu Rahayu cemas dan segera menghampiri dan memeluk putrinya dengan erat. Memastikan bahwa tidak ada luka dan cacat sedikitpun pada tubuh putrinya.
''Maafkan Daisha bu. Daisha pergi nggak pamit dulu sama ibu.''
''Kamu nggak perlu minta maaf sayang, ibu sudah lega sekarang karena kamu baik-baik saja.'' ucap ibu Rahayu seraya menghapus sisa-sisa air matanya.
Kemudian ibu Rahayu membawa Daisha menuju sebuah sofa tempat mereka semula duduk bersama. Rendi duduk di sebelah tante Maya yang sedari tadi pandangannya tak pernah lepas memperhatikan ibu Rahayu dengan tatapan yang begitu menghunus. Sedangkan Naya menggeser tubuhnya untuk memberi ruang pada Daisha agar bisa duduk di sebelah ibunya. Beni yang sedari tadi ikut berpencar melakukan pencarian terhadap Daisha pun baru saja kembali setelah mendapati kabar bahwasanya Daisha telah pulang dan berada di rumah tuannya. Dan satu lagi, sosok tuan muda yang sedari kemarin ikut gundah mencari keberadaan sosok ibu baginya yang tak kunjung pulang. Terlalu lelah menunggu, Arka pun sudah terlelap terbuat ke alam mimpi. Esok pagi ketika ia membuka mata, pastilah ia akan bahagia tatkala mendapati sosok ibu baginya sudah kembali berada di dekatnya.
''Daisha ada yang ingin tante sampaikan pada kamu.'' ucap tante Maya yang sedari tadi hanya diam kini membuka mulutnya.
__ADS_1
Mendadak ibu Rahayu pun menjadi cemas dan menduga-duga apa yang akan Maya sampaikan pada putri semata wayangnya. Buru-buru Ibu Rahayu memotong ucapan adik iparnya itu sebelum melanjutkan pembicaraannya. Ia sudah memikirkan bahwa ia sendiri yang akan mengatakan rahasia besar itu pada putrinya.
''Tunggu! Ada yang harus kamu tahu terlebih dulu, sayang.'' sergah ibu Rahayu dan meraih jemari lentik milik Daisha.
Perhatian dan tatapan mereka semua pun kini tertuju pada ibu Rahayu. Dengan menghembuskan nafas berat, ibu Rahayu mulai membuka suaranya.
''Daisha sayang, maafkan ibu. Ada satu hal yang harus kamu tahu. Tapi ibu mohon sama kamu, jangan marah dan jangan benci ibu ya, nak.'' ucap ibu Rahayu dengan air mata yang kembali menetes.
Dengan penuh kasih sayang, Daisha menghapus jejak air mata milik ibunya.
''Ibu kenapa bicara seperti itu, mana mungkin Daisha membenci ibu kandung Daisha sendiri.'' jawab Daisha begitu tulus.
''Bukan sayang, setelah kamu mengetahui hal ini ibu tidak yakin jika kamu masih sudi untuk menyayangi ibu.'' ucap ibu Rahayu dengan sedikit terbata.
Semua orang yang berada di tempat itu pun makin dibuat penasaran dengan apa yang akan ibu Rahayu sampaikan. Lebih-lebih, Daisha.
''Sampai kapanpun Daisha akan tetap menyayangi ibu dan almarhum ayah, apapun yang terjadi, bu. Ibu jangan bicara seperti itu lagi ya .'' ucap Daisha seolah memberi kekuatan pada ibunya yang nampak begitu berat untuk merangkai kata.
''Terima kasih, sayang. Terima kasih.'' ucap ibu Rahayu memeluk putrinya dengan begitu erat. Setelah beberapa saat, ibu Rahayu pun melepas kembali pelukannya dan menatap Daisha begitu dalam.
''Anakku, Daisha. Sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang ibu dan ayahmu jaga dan simpan rapat-rapat selama ini dari kamu, nak.'' ucap ibu Rahayu menjeda kalimatnya.
''Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk ibu membukanya dan kamu mengetahui yang sebenarnya.''
__ADS_1