
Dari balik kaca rumah dapat kita nikmati indahnya suasana di malam hari, terkadang langit begitu cerah berhiaskan bintang-bintang. Terkadang pula nampak hitam mencekam menyongsong turunnya air hujan. Suara guntur juga terkadang menggelegar melengkapi datangnya air hujan bersama kilatan cahaya yang menyambar di langit dengan kilauan yang begitu terang.
Hujan malam ini, sedikit menahan dua orang yang sedang berkutat dengan pekerjaan.
''Ben, bagaimana? Sudah selesai tugas yang saya minta tadi?'' tanya Rendi.
''Sudah, bos.'' jawab Beni menyerahkan laptop pada bosnya itu.
''Ben, sebenernya apa yang terjadi pada Daisha waktu itu? Dan, siapa perempuan itu?'' tanya Rendi kembali.
Sejenak Beni diam memandang ke awang-awang mencoba menggali ingatannya beberapa tahun lalu.
''Sebenarnya..''
Begitulah. Desember tahun 20xx akan segera usai dan berganti hari baru pertanda tahun yang baru pula. Banyak orang yang berbondong-bondong keluar rumah untuk menikmati peristiwa yang hanya terjadi setiap satu tahun sekali atau sekedar berkumpul bersama orang yang tersayang. Saat malam pergantian tahun telah tiba, semarak pesta kembang api dan tiupan terompet menggema memenuhi jagat raya.
“Guys! Malam tahun baru nanti kita bikin acara yuk!“ ucap Alvin dengan semangat terlampau batas.
''Gaskeun!” kata Beni yang selalu terlihat santai namun dengan cepat bisa berubah menjadi serigala pemburu domba jika sedang terusik. Ia sedang menikmati semangkuk mie rebus bertabur irisan cabai rawit di atasnya yang masih bergumul dengan asap yang begitu menusuk indra penciuman.
“Emang pada mau kemana sih kalian, hah?” ucap Naya yang terlihat tidak begitu tertarik dengan usulan Alvin.
“Gimana kalau kita nginep di villa daddy gue yang di puncak? Kebetulan keluarga bokap masih di luar semua jadi villanya kosong nggak dipakai.” ucap Alvin antusias.
''Enggak ah.'' jawab Daisha.
''Ayolah, Sha. Sekali ini saja.'' mohon Alvin.
“Liat pemandangan kembang api di atas bukit teh kayaknya keren juga.” imbuh Beni membuat Daisha makin geleng-geleng kepala.
“Gimana, Nay? Loe setuju nggak?'' tanya Alvin kembali.
Daisha dan Naya nampak berpikir dengan keras. Bagaimana caranya Naya memperoleh izin dari orang tuanya, dan Daisha pun memikirkan ibunya yang sendirian di rumah jika ia pergi.
''Nanti biar gue yang minta izin ke orang tua kalian.'' ucap Alvin seolah bisa membaca jalan pikiran kedua gadis di hadapannya.
“Nah ide bagu tuh. Gimana ladies? Bisa kan?” tanya Beni dengan mulut yang penuh mie instan.
Daisha lagi-lagi diam, kali ini terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Berada dalam dua pilihan yang begitu membimbangkan. Mengecewakan sahabat-sahabat kesayangannya itu dengan tidak menuruti keinginan mereka yang ingin merayakan tahun baru di puncak untuk menikmati suasana alam yang menenangkan, atau membuat senang mereka dengan menuruti usulan Alvin tadi.
__ADS_1
“Yaudah iya, aku ikut kalau Naya juga ikut.” Daisha pun menyerah karena terus didesak oleh Alvin.
Kemudian tatapan mereka beralih ke arah Naya yang sedang memainkan sedotan plastik di gelasnya.
''Em, gue juga ikutlah. Tapi bener ya elu yang bilang sama ortu gue.'' ucap Naya pada Alvin.
''Beres, bisa di atur.'' ucap Alvin.
''Inget ya, besok jam tiga gue jemput kalian.'' tambahnya lagi.
Setelah meminta izin pada Ibu Rahayu dan selesai menyiapkan perbekalan yang ia butuhkan untuk menyambut pesta pergantian tahun baru nanti, Daisha pun duduk di sebuah kursi rotan di teras rumahnya sambil menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya. Lamunannya tenang merangkul sudut kota, asiknya melagukan rindu dengan sahabat tercinta. Dingin angin pembawa senja menghantam menerpa permukaan kulit, tak sadar akan waktu yang seakan mempercepat lajunya. Membuatnya sejenak mengheningkan cipta.
Tin.. tin... tin..
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Daisha. Nampak ketiga sahabatnya sudah berada di sebuah mobil yang Alvin kendarai.
''Halo neng Shasha!'' sapa Beni.
"Yaudah ah cabut yuk! Keburu macet nanti jalannya.'' ucap Alvin.
Ingin rasanya ku hambat laju waktu agar selalu bisa bercengkrama lebih lama lagi dengan mereka. Bersama dengan sahabat yang begitu mewarnai dan menjadi pelangi garis masa muda yang begitu penuh dengan cerita.
Tempat sebaik-baiknya tempat, alam dapat menghipnotis siapa saja yang merenungi keindahannya. Bicara tentang keindahan alam, terkadang cinta sering ikut campur dengan sendirinya dan tanpa kita sadari. Karena mencintai alam sama saja dengan mencintai diri kita sendiri bukan?
''Ini sih surga dunia namanya.'' tambah Beni.
''Apa? Kenapa pada lihatin gue? Bener kan yang gue omongin?'' tanya Beni.
''Iya iya, Ben.'' ucap Daisha terkekeh.
''Itu kamar kalian berdua, dan ini kamar gue sama Beni.'' ucap Alvin menunjukkan dua kamar di lantai atas.
''Oke.'' jawab kami serentak.
Petang mulai menerjang. Berganti malam yang semakin larut, hitam langit semakin pekat berhias kilauan bintang yang memberi tanda saatnya untuk menyalakan api unggun. Duduk melingkar mengelilingi kobaran api yang mulai menyala untuk sekedar menghangatkan udara puncak yang begitu menusuk menembus tulang.
''Ben, jangan deketin muka gue kenapa sih itu apinya. Panas tau.'' ucap Naya yang sedang memperhatikan Beni yang membolak-balikkan jagung manis di panggangan.
''Biar nggak kedinginan makanya gue deketin ke elu.'' ucap Beni terkekeh.
__ADS_1
''Sia-sia dong treatment gue kena arang.'' ucap Naya kesal.
''Emangnya elu suka faisal?'' tanya Beni.
''Faisal siapa? Gebetan baru, Nay?'' tanya Daisha.
''Hah? Kagak!'' ucap Naya.
''Kok gebetan sih? Itu loh faisal yang perawatan wajah.'' kata Beni.
Suasana mendadak menjadi hening. Beberapa detik kemudian tawa mereka pun pecah.
''Hahahah Ben, elu ikutan stand up comedy aja sono!'' ucap Naya.
''Aku bakalan jadi admin fanbase kalau kamu jadi artis ntar.'' ucap Daisha.
''Kalau gitu, gue yang jadi pemandu soraknya.'' sambung Alvin dengan tawanya.
''Sialan lu semua!'' kata Beni sambil mencomot jagung bakar yang baru saja ia panggang.
''Kalian tahu, para komika itu otaknya jenius semua. Bayangin aja mereka melakukan observasi, memotret fenomena sosial, menganalis dan membahasnya secara monolog yang lucu secara sendirian.'' tambah Beni.
''Kalau sendirian komika, kalau lagi rombongan namanya komisi.'' sambung Daisha terkekeh.
Lagi-lagi tawa riang mereka memecah keheningan malam yang semakin mendekati detik pergantian tahun yang baru. Gemerlap kembang api yang saling bersahutan mulai menghiasi langit malam yang berkilauan bintang.
''Happy new year!'' teriak mereka bersemangat.
Setelah lelah menikmati malam pergantian tahun baru dan sang fajar mulai menyapa, mereka pun mulai beranjak kembali ke kamar yang telah disediakan guna mengistirahatkan raga yang mulai menuntut untuk tidur. Saat Daisha baru saja mengambil air putih di dapur, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang.
''Ssst, ini gue.'' ucap seseorang dengan berbisik.
''Alvin? Ngapain sih pakai di tutup segala mulut aku! Sakit tau.''
''Maaf, takutnya berisik.'' ucap Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
''Minggir, aku udah ngantuk.''
''Eh, tunggu dulu, Sha. Ada yang pengen aku omongin sama kamu.'' ucap Alvin memegang tangan Daisha untuk menahannya agar tidak pergi.
__ADS_1
''Mau ngomong apa?'' tanya Daisha dengan jantung yang mulai berdebar.
''Kita ke sana ya!'' tunjuk Alvin pada sebuah balkon yang menghadap langsung ke arah kebun teh.