Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Kehadiranmu


__ADS_3

Menjadi hamil berarti menjadi sangat hidup. Menjadi sangat utuh. Dihuni dengan susah payah. Jiwa dan jiwa diregangkan bersama dengan tubuh, menjadikannya kehamilan sebagai masa transisi, pertumbuhan, dan awal yang mendalam.


Setelah mengetahui jika Daisha tengah mengandung buah cinta mereka, Rendi segera membuat janji dengan dokter kandungan yang direkomendasikan oleh dokter keluarga mereka.


''Ayo, kita berangkat sekarang. Mas sudah menghubungi dokter Nana.'' ucap Rendi pada Daisha begitu mengakhiri panggilan pada ponselnya.


''Memangnya mas Rendi nggak ada rapat penting?'' tanya Daisha ingin memastikan.


''Ada. Tapi setelah jam makan siang. Lagi pula, Beni sudah mas tugaskan kembali ke kantor untuk menghandle semuanya.'' jelas Rendi.


''Baiklah.'' jawab Daisha patuh.


Mereka pun segera bersiap-siap untuk menuju rumah sakit. Senyum terus mengambang di wajah pasangan suami istri itu. Rendi menggenggam tangan Daisha dan berulang kali mengecup punggung tangan istrinya itu dengan mesra. Begitu pula dengan Daisha, ia merasa sangat bahagia dengan kehadiran jabang bayi yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya.


''Kita jemput Arka dulu, ya.'' tutur Rendi dari balik kemudinya.


''Iya, mas.''


Setelah menjemput putranya dari sekolah, mereka segera bergegas menuju rumah sakit. Rendi pun segera memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir yang tersedia.


''Pa, kenapa kita ke rumah sakit? Mama sakit lagi?'' tanya Arka cemas.


''Ma, mama kenapa? Mama baik-baik aja kan, ma?'' tanya Arka dengan bertubi-tubi.


''Enggak sayang, mama nggak kenapa-kenapa kok.'' jawab Daisha dengan membelai lembut kepala putranya.


''Terus kenapa kita ke sini?'' tanya Arka kembali.


''Nanti kamu juga akan tahu.'' jawab Rendi dengan tersenyum.


Mereka pun melangkahkan kaki mereka menuju poli obgyn. Sedari tadi Arka selalu memperhatikan mama Daisha dengan seksama. Ia meneliti, apakah ada yang terluka atau tidak. Namun, ia tak mendapati sedikitpun luka pada tubuh mamanya itu. Ia kemudian membaca sebuah tulisan yang terpampang besar pada ruangan yang mereka masuki.


''P o l i o b y g n.'' Arka mengeja setiap huruf yang tertulis di sana.


''Tempat apa ini? Kenapa perut orang-orang itu terlihat besar? Apa mama Daisha sedang hamil? Tapi kenapa perut mama Daisha tidak besar seperti mereka?'' gumam Arka menerka-nerka.


Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, tiba giliran Daisha untuk diperiksa.


''Ibu Daisha, silakan masuk.'' panggil perawat.

__ADS_1


Rendi segera berdiri. Daisha merasa sedikit gugup kali ini. Ia pun mencoba untuk menata debaran di jantungnya sebelum memasuki ruangan.


''Ayo, sayang.'' ajak Rendi pada Daisha dan juga Arka.


Arka pun menggenggam erat tangan Daisha, seolah menyalurkan kekuatan padanya ketika melihat mamanya nampak gugup.


''Mama jangan takut. Ada Arka dan juga papa di sini.'' ucap Arka dengan begitu tulus.


''Iya, sayang. Terima kasih. Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam.'' jawab Daisha yang kini merasa sedikit tenang.


Begitu memasuki ruangan periksa, mereka pun dipersilakan duduk. Setelah sesi perkenalan dan berbincang seputar kondisi yang Daisha alami, dokter itu pun mempersilakan Daisha untuk berbaring pada sebuah brankar yang di sebelahnya terdapat alat USG.


''Baiklah kalau begitu, kita langsung cek saja ya, silakan ibu Daisha berbaring di sana.'' ucap dokter Nana.


Daisha segera berbaring di sana. Rendi membawa Arka untuk berdiri di samping Daisha dan menatap layar monitor di dekat brankar. Perawat mulai mengoleskan gel pada perut Daisha.


''Nah, ini dia.'' seru dokter Nana dengan melihat sesuatu di layar monitor.


''Lihatlah, ini adalah rahim ibu Daisha. Dan lihatlah titik itu, itu adalah bayi ibu, besarnya sudah sebesar kacang.'' tutur dokter Nana.


Rendi menatap pada layar dengan tatapan takjub. Bahkan matanya tak berkedip sama sekali saking bahagianya. Senyum haru menghiasi wajah tampannya. Ia menggenggam jemari Daisha dengan begitu erat.


''Mas..'' Daisha tak kuasa menahan haru. Ia menitikan air matanya.


''Selamat ya, sepertinya tuan Arka akan segera menjadi kakak.'' ucap dokter Nana pada Arka.


''Dan selamat kepada ibu Daisha dan juga Pak Rendi, kalian akan segera mendapatkan anak ke dua.'' tutur dokter Nana tulus.


''Terima kasih dokter.'' jawab mereka serempak.


Setelah itu, mereka kembali dipersilakan duduk. Dan dokter Nana pun menuliskan beberapa resep vitamin untuk Daisha.


''Apakah masih ada yang ingin ditanyakan?'' tanya dokter Nana.


''Apakah ada makanan yang dilarang atau sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk saya lakukan dokter?'' tanya Daisha. Rendi pun memperhatikan dengan seksama.


Dokter Nana pun menjelaskan semua hal. Dimulai dari makanan, kegiatan sehari-hari, hingga kegiatan s** yang aman dilakukan. Kemudian, mereka pun segera pamit undur diri.


''Jadi, Arka akan punya adik?'' tanya Arka begitu mereka masuk ke dalam mobil. Sedari tadi ia lebih banyak diam dan memperhatikan apa yang terjadi.

__ADS_1


''Iya, sayang. Kamu akan segera menjadi kakak. Apa kamu senang?'' tanya Daisha hati-hati.


Arka kembali diam. Membuat Daisha dan juga Rendi sedikit merasa khawatir, takut-takut kalau Arka tidak mau menerima kehadiran adiknya kelak.


''Arka.. senang.'' ucap Arka menjeda kalimatnya.


''Alhamdulillah, terima kasih sayang.'' ucap Daisha memeluk putranya itu dengan penuh kasih sayang.


''Arka akan menjadi kakak yang baik untuk adik, dan juga Arka akan selalu menjaga dan melindungi mama dan adik bayi yang ada di dalam perut mama. Arka tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti mama dan adik. Karena Arka adalah lelaki sejati.'' ucap Arka tegas.


''Iya, sayang. Terima kasih.'' ucap Daisha terharu. Ia menciumi kening putranya itu. Rendi pun tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya.


''Terima kasih Tuhan atas segala rahmat dan karuniamu.'' ucap Daisha dalam hati.


''Sebelum kamu dikandung, aku menginginkanmu. Sebelum kau lahir aku mencintaimu.''


Rendi dan Daisha pun dapat tersenyum dengan lega. Senyum Rendi semakin cerah, kehadiran buah hati mereka menjadi hadiah terindah dalam pernikahan mereka.


...ΩΩΩ...


Hari berganti demi hari. Setiap hari adalah belajar dan pelajaran.


''Mas, tiba-tiba kok aku pengen makan buah langsat ya? Kayaknya enak banget deh..'' ucap Daisha membayangkan betapa lezatnya ketika mencicipi buah langsat itu.


''Iya sayang, besok mas belikan.'' jawab Rendi di sela kantuknya.


''Kok beli sih mas?'' tanya Daisha.


''Ya kan kita nggak punya pohon langsat sayang. Jadi besok kita cari dulu ya ke supermarket.'' jawab Rendi.


''Nggak!''


''Lho kok enggak? Tadi katanya mau buah langsat, kok sekarang enggak?'' tanya Rendi mengerutkan keningnya.


''Aku tuh memang pengen makan buah langsat, tapi nggak mau kalau beli.'' jawab Daisha cemberut.


''Terus?''


''Ya mas Rendi metik sendiri lah!'' jawab Daisha.

__ADS_1


''Hah?''


__ADS_2