
''Saya akan selalu ada bersama kamu.''
Sebuah rangkaian kata sederhana yang syarat akan makna. Begitu menyejukkan. Tutur katanya menenangkan bagaikan setitik embun di musim kemarau.
Kini Rendi membawa Daisha menuju sebuah bangku taman di atas atap rumahnya. Masih memandang jauh ribuan kelip bintang di awan.
''Setelah ini apa yang akan kamu lakukan?'' tanya Rendi menerawang jauh.
''Entahlah.'' jawab Daisha dengan mengangkat kedua bahunya masih dengan posisi semula. Dengan tetap menatap langit yang sama.
Setelah berdiam cukup lama, hanyut dalam pikiran yang memenuhi isi kepala. Rendi pun kembali membuka suaranya.
''Jika kamu ingin mencari keberadaan orang tua kandungmu, saya akan bantu.'' ucapnya memandang bola mata indah di sampingnya yang kini tengah dipenuhi dengan keresahan itu.
''Seharusnya kita bahagia bukan mengetahui kebenaran ini?'' tanya Daisha masih dengan pandangan jauh pada bintang-bintang.
''Apa kamu merasa bahagia?'' tanya Rendi kembali.
''Entah.'' jawabnya lirih.
''Percayalah, bahwa takdir tidak akan mencundangi tanpa belas kasihan.'' ucap Rendi.
''Kamu benar. Harusnya aku bahagia sekarang.'' jawab Daisha.
Pelukmu tak hanya hangat, tapi serupa harapan masa depan, saat kita berdekatan saling mendekap. Karena terkadang lebih baik menempatkan cinta ke dalam pelukan daripada memasukkannya ke dalam kata-kata.
''Lekaslah temui ibumu, dan peluk ia dengan hangat.'' ucap Rendi tanpa melepas pelukannya pada wanita yang ia cinta.
Daisha pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan Rendi.
''Terima kasih telah menghadirkan rasa nyaman yang nyata. Karena bersamamu, aku lupa pernah terluka.'' jawab Daisha semakin mengeratkan pelukannya.
Pernah menjadi sebuah ketentuan pada pertemuan yang saling mengisi hingga saling meniadakan. Namun pada detik ke sekian kita sadar bahwa penerimaan akan membuat kita merasa utuh jika sudah sepenuhnya. Sebab, di antara semua cahaya, cinta adalah yang paling terang. Di antara semua embun, kasih sayang adalah yang paling sejuk.
Memang tidak ada yg lebih mengagumkan dari waktu. Ia bisa mengubah apa saja yang ia mau.
...ΩΩΩ...
''Daisha maafkan ibu karena belum bisa mempertemukan kamu dengan ibu kandungmu, nak.'' ucap ibu Rahayu.
''Nggak apa-apa bu, Daisha udah bahagia punya ibu di sini.''
''Tentang hubunganmu dengan nak Rendi, ibu sangat merestui kalian. Bahkan sangat. Maafkan ibu karena kemarin-kemarin membuat hubungan kalian menjadi sedikit renggang.'' ucap ibu Rahayu dengan nada bersalah.
''Sudahlah bu, ibu tidak perlu minta maaf. Semua sudah berlalu. Sekarang ibu jangan sedih lagi, Daisha akan tetap ada untuk ibu.''
__ADS_1
''Terima kasih sayang.''
Mereka pun kembali berpelukan, menguatkan kembali hati yang sempat sendu. Hingga suara teriakan anak kecil menghentikan pelukan hangat anak dan ibu tersebut.
''Mama!!'' panggil Arka dengan begitu riang.
''Sayang.'' balas Daisha membawa Arka ke dalam pelukannya.
''Mama kemana saja? Arka kangen sama mama.'' ucap Arka sedih.
''Maafkan mama ya sayang, mama janji setelah ini mama nggak akan pergi lagi.''
''Janji?'' ucap Arka seraya mengangkat jari kelingkingnya untuk mengucap janji.
''Janji!'' jawab Daisha mantap.
''Mama tahu nggak? Waktu mama pergi, papa juga sedih lho, Ma. Papa jadi sering marah-marah terus sama om Beben. Arka aja sampai kasian sama om Beben kena omel papa terus.'' ucap Arka yang kini berada dalam pangkuan Daisha.
''Benarkah?'' tanya Daisha.
''Iya, ma. Pokoknya mama jangan pernah pergi lagi. Rumah ini jadi kacau!'' ucap Arka.
Daisha dan ibu Rahayu pun tersenyum mendengar ucapan Arka yang begitu menggemaskan.
''Yaudah kita sekarang turun untuk sarapan dulu, yuk. Pasti oma Maya sudah nungguin dari tadi. Setelah ini ibu juga harus segera kembali ke rumah. Ibu harus mengontrol kegiatan dapur.'' ucap ibu Rahayu.
''Daisha, kamu panggil dulu nak Rendi nya. Biar Arka sama eyang ya kita ke meja makan duluan?'' kata ibu Rahayu memberikan perintah.
''Iya, eyang.'' ucap Arka menyetujui saran dari ibu Rahayu.
Begitu sampai di pintu kamar milik Rendi, Daisha berulang kali mencoba untuk mengetuk pintu. Hingga beberapa waktu tak ada jawaban dari balik pintu.
''Mungkin pak Rendi udah di bawah.'' pikir Daisha.
Saat hendak membalikkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara aneh dari dalam kamar. Daisha pun mengurungkan niatnya dan kembali ke arah pintu. Ia menajamkan telinganya dan betapa terkejutnya ia karena dari dalam kamar terdengar suara tangis. Tanpa menunggu lama, Daisha pun berniat untuk mendobrak pintu itu. Namun ternyata tidak terkunci. Ia pun segera masuk dan melihat Rendi yang sedang berteriak dan menangis.
''Jangan! Jangan pergi!''
''Saya mohon, jangan tinggalkan saya!!''
Mendengar raungan dan teriakan tuannya, Daisha pun segera menghampirinya.
''Pak Rendi, bangun!''
''Jangan!! Jangan tinggalin saya!!''
__ADS_1
''Pak! Bapak kenapa! Bangun pak!'' ucap Daisha panik dan menepuk-nepuk pipi milik Rendi.
''Daishaaa!!!!'' teriak Rendi membuka matanya. Ia pun terbangun. Seketika keringat membanjiri keningnya. Nafasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari ribuan kilo meter jauhnya.
''Sadar pak, bapak tadi hanya mimpi.'' ucap Daisha menenangkan Rendi. Ia pun menghapus keringat yang membanjiri kening lelaki di hadapannya.
''Jangan pergi! Saya mohon!'' ucap Rendi membawa Daisha ke dalam pelukannya.
''Enggak pak, saya di sini kok. Bapak tenang ya.'' jawab Daisha.
Setelah merasa baikan dan kembali sadar, Daisha pun melepas dekapan yang Rendi berikan.
''Ternyata yang dikatakan Arka tadi benar ya?'' tanya Daisha dengan tak bisa menyembunyikan tawanya.
''Memangnya apa yang dikatakan Arka?'' tanya Rendi tak mengerti.
''Selama saya pergi kemarin, bapak kena virus 5G+ kan?''
''Apa itu? Jaringan internet baru?'' tanya Rendi semakin bingung.
''Bukan dong, bapak ih. 5G+ itu artinya gelisah, galau, gundah, gawat, gelagapan, plus merana. Iya kan?'' jawab Daisha dengan gelak tawanya.
''Itu sih karangan kamu saja.'' elak Rendi.
''Dih bapak nggak mau ngaku! Gengsi mah jangan di gede-gedein kali pak!''
''Siapa juga yang gengsi.'' sewot Rendi.
''Oh iya, satu lagi. Bapak pasti kemarin juga kena virus 5K kan?'' sambung Daisha.
''Apa lagi sih?'' protes Rendi gemas.
''Jangan marah-marah dong pak, cepat tua nanti! 5K itu kacau, karut, keruh, khawatir dan kusut.'' jawab Daisha.
''Terserah kamu saja!'' elak Rendi seraya bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi di kamarnya.
''Dih, marah.'' ucap Daisha terkekeh.
''Buruan pak mandinya! Nggak usah pakai luluran sama maskeran segala udah ganteng maksimal kok! Cepetan ya, pak! Udah siang nanti terlambat kerjanya! Saya tunggu di bawah ya, pak!'' teriak Daisha dan berjalan menuju lantai bawah.
''Oh iya, baju kerjanya udah saya siapkan juga!'' tambah Daisha dan berlalu.
Dari balik pintu kamar mandi, Rendi pun menyunggingkan senyumnya. Dalam relung hatinya, ia merasa lega dan sangat bersyukur.
''Udah mulai ngoceh-ngoceh nggak jelas lagi tuh anak.'' ucap Rendi tak dapat menghentikan senyuman yang menghiasi bibirnya.
__ADS_1