
Keluarga adalah rumah. Keluarga adalah tempat terbaik untuk belajar tentang sebuah pengorbanan. Tak masalah seberapa besar rumah itu, yang penting selalu ada cinta kasih di dalamnya. Karena rumah adalah tempat di mana hati kita berada.
Berada di rumah ibunya, Daisha merasakan hangatnya berada dalam perhatian sang ibu. Kebersamaan dan canda tawa bersama orang-orang tersayang yang mewarnai hari-harinya adalah hadiah terindah dari Tuhan dalam hidupnya. Entah mengapa, melihat raut wajah sang ibu hari ini, ada perasaan lain dalam diri Daisha. Seperti ada sesuatu yang tersembunyi di sana.
''Mama!'' panggil Arka.
''Eh, iya sayang ada apa?'' jawab Daisha yang tersadar dari lamunannya.
''Itu sepertinya papa sudah sampai. Ayo kita ke depan, ma.'' ajak Arka menarik tangan Daisha.
''Tunggu Arka, nggak usah lari-lari nak, kita jalan pelan-pelan aja.'' ucap Daisha.
''Papa!'' teriak Arka berlari menuju gendongan papanya.
''Hai jagoan papa.'' ucap Rendi menangkap tubuh kecil putranya ke dalam dekapannya.
''Mamanya nggak ikut digendong juga, pak?'' gurau Beni.''
''Diem lu Beben!'' ucap Daisha.
''Pake jaim segala sih neng Shasha.'' ucap Beni terkekeh.
''Memangnya aku cewek apaan. Tapi kalau Pak Rendi nya maksa ya nggak nolak sih. Hahaha.'' tawa Daisha.
''Kalian ini, bercanda mulu.'' jawab Rendi yang sedikit tersipu.
''Pak, ini kalau Pak Rendi nggak cepet-cepet saya bisa nyuri start lho.'' goda Beni.
''Emangnya balapan pakai start segala.'' ucap Daisha.
''Ceritanya mau balapan cinta nih.'' sambung Naya dari dalam rumah.
''Nggak ada angin nggak ada hujan, sukanya nimbrung aja lu!'' ucap Beni.
''Suka-suka gue dong, mulut-mulut gue juga!'' jawab Naya tak mau kalah.
''Mulai deh.'' ucap Daisha melihat perdebatan kedua sahabatnya itu.
Setelah drama adu debat antara kedua sahabat Daisha itu, mereka berlima pun berjalan menuju ruang keluarga untuk sekedar duduk bersantai. Di sana, nampak ibu Rahayu yang baru saja selesai mencatat pesanan para pelanggan. Beni dan Rendi pun segera menyalami ibu Rahayu dengan takzim.
''Baru pulang kalian?'' tanya ibu Rahayu.
''Iya, bu.''
''Makan dulu, ibu sudah siapkan makanan untuk kalian.''
''Terima kasih bu, tapi kamu baru saja makan di luar bersama klien.'' jawab Rendi.
''Iya, bu. Masih kenyang, udah makan tadi di luar.'' tambah Beni.
__ADS_1
''Tumben, biasanya urusan makan nomor satu lu.'' ucap Naya.
''Lagi diet!'' jawab Beni.
''Gaya lu pake diet-dietan segala!''
''Biar cewek-cewek makin klepek-klepek sama pesona gue!''
Ibu Rahayu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan yang tak asing di antara mereka.
''Kalian santai saja dulu, ibu mau ke dapur melihat stok bahan masakan untuk besok.'' ucap ibu Rahayu.
''Iya, bu hati-hati di jalan ya, bu.'' ucap Beni dengan lembut.
''Pantesan Ben, kamu kuliah ngambil jurusan komunikasi.'' ucap Daisha.
''Pantesnya dimana?'' tanya Naya penasaran.
''Ya pantes aja, soalnya si Beni pandai nyepik orang.'' jawab Daisha.
''Hahaha iya juga ya. Tapi sayangnya nggak ada satupun yang kecantol sama doi.'' jawab Naya terkekeh.
''Sialan lu berdua! Awas aja kalau sampai kalian memohon-mohon cinta sama abang Beni.''
''Sangat teramat mustahil!'' jawab Naya terkekeh.
Berada dalam ruangan yang sama, tanpa terasa mereka pun larut dalam berbagai obrolan hangat namun cukup menggelitik dan terhibur.
''Abang anterin Nay, sekalian mau balik juga. Takut bikin khawatir emak, anak bujang jam segini belum pulang-pulang.'' ucap Beni.
''Udah sono pulang!''
''Hati-hati ya om Beben dan tante Naya.'' ucap Arka.
''Oke. Kita duluan ya, Pak Rendi.'' pamit Naya.
''Pamit duluan, bos.'' sambung Beni.
Beni dan Naya pun berjalan ke arah dapur untuk berpamitan pada ibu Rahayu.
''Kita pulang sekarang atau nanti, pak? Sebentar lagi waktunya Arka untuk mandi sore.'' tanya Daisha.
''Sebaiknya kita juga pulang sekarang. Tapi sebelum pulang, saya mau bawa kalian ke suatu tempat terlebih dahulu.'' ucap Rendi.
''Kita mau kemana pa?'' tanya Arka penasaran.
''Rahasia, dong. Ayo, kita pamit dulu sama eyang Rahayu di belakang.'' ajak Rendi.
Setelah membereskan perlengkapan milik Arka, Daisha pun segera menyusul untuk berpamitan pada ibunya.
__ADS_1
''Bu, Daisha pamit dulu ya. Ibu baik-baik di rumah, jaga kesehatan, nggak usah terlalu capek.'' ucap Daisha memeluk ibunya.
''Iya, kamu juga. Nak Rendi, ibu titip putri ibu, ya.'' ucap ibu Rahayu. Rendi pun mengangguk memberi jawaban.
''Kita mau ke mana sih pak? Kok jalannya ke arah sini?'' tanya Daisha.
''Iya, pah. Kita mau kemana pa?''
''Sabar, nggak lama lagi juga sampai kok.'' jawab Rendi.
Mobil yang Rendi kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Sepoi angin di luar sana menambah syahdu suasana yang sedikit berawan, tidak panas namun tidak juga mendung.
''Lho pak, kok kita ke sini?'' tanya Daisha melihat sebuah papan putih berukuran cukup besar dan sebuah tanda panah di bawahnya.
''Iya.''
''Kita mau berdoa untuk oma dan opa ya, pah?'' tanya Arka.
''Iya sayang dan berdoa untuk mama Raline juga.'' jawab Rendi.
Daisha diam. Pandangannya menyapu ke arah deretan gundukan tanah yang berselimut rumput hijau yang tertata rapi di sana. Sejenak ia pandangi wajah lelaki yang berada di sampingnya, detik berikutnya pandangannya kembali le arah deretan gundukan tanah tadi. Ia kembali tertunduk dalam diam.
''Kita masuk ke dalam ya?'' ajak Rendi pada Daisha dan Arka.
Daisha pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki Rendi yang berjalan dengan pelan. Sebelah tangannya menggendong anak lelakinya. Belum sampai pada pintu masuk pusara, tiba-tiba saja langkah kaki Rendi terhenti dan tubuhnya berbalik ke arah belakang. Rendi menatap Daisha yang sedari tadi berjalan dalam kebisuan. Perlahan, tangannya terulur meraih sebelah tangan milik Daisha.
''Pak?'' ucap Daisha terkejut.
''Ayo, kita jalan bersama-sama.'' jawab Rendi.
''Enggak, pak. Saya di belakang saja.'' ucap Daisha lirih.
''Kenapa?'' tanya Rendi.
Mendapat pertanyaan dari Rendi, Daisha pun menjadi semakin menundukkan kepalanya. Entah mengapa ia merasa hatinya sedikit sesak.
''Tenang saja, saya hanya ingin mengenalkan kamu pada orang tua saya dan juga Raline.'' ucap Rendi sedikit memberi jeda pada kalimatnya.
Daisha pun semakin terkejut dan mengangkat kepalanya untuk mencari kebenaran dari ucapan Rendi.
''Tapi, pak?''
Rendi pun mengangguk memberi jawaban.
''Ayo, mama kita kenalan sama opa dan oma.'' ucap Arka ikut menggandeng tangan Daisha.
Untuk beberapa saat, Daisha kembali terdiam. Ia ragu untuk melanjutkan langkahnya. Kemudian, jemari tangannya digenggam erat oleh Rendi.
''Hanya sebentar.'' ucap Rendi.
__ADS_1
''Tapi saya nggak bisa, pak. Saya tidak ingin bapak mengkhianati mendiang istri bapak. Seperti yang selalu bapak ucapkan dulu.'' jawab Daisha dengan berat.