Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Garis biru


__ADS_3

''Bagaimana keadaan istri saya dokter?'' tanya Rendi dengan perasaan cemas.


''Kondisi ibu Daisha baik-baik saja Pak Rendi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.'' jawab dokter Meri, seorang dokter yang menjadi dokter keluarga Atmaja.


''Tapi?'' Belum sempat Rendi menyelesaikan pertanyaannya, dokter Meri kembali berucap.


''Tapi begini Pak Rendi, menurut prediksi saya dengan melihat tanda dan gejala yang dialami oleh ibu Daisha saat ini, dan terlebih lagi mengingat ibu Daisha yang sudah terlambat datang bulan, sebaiknya Pak Rendi segera membawa istri bapak ke dokter kandungan untuk mengetahui secara lebih akurat.'' jelas dokter Meri dengan senyumnya. Sebelah tangannya membawa sebuah alat testpack yang baru saja Daisha serahkan kepadanya. Dokter Meri tersenyum begitu melihat hasil yang ditunjukkan dari hasil testpack ini menunjukan dua buah garis biru,


''Maksud dokter istri saya sedang hamil?'' tanya Rendi tak percaya.


''Mas?'' Daisha yang mendengar ucapan dari dokter pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagia di hatinya. Pasalnya ketika tadi Daisha sedang melakukan tes kehamilan dengan menggunakan testpack, ia tak mempunyai keberanian untuk melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tersebut dan langsung menyerahkan alat itu kepada dokter Meri sesaat setelah ia keluar dari kamar mandi tadi.


Rendi pun segera memeluk erat dan menghujani dengan ciuman yang bertubi-tubi pada istrinya yang masih nampak sedikit pucat itu. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah pasangan suami istri itu.


''Betul Pak Rendi. Saya turut berbahagia untuk bapak dan juga ibu. Akan tetapi, sebaiknya saya minta kepada bapak untuk segera memeriksakan kandungan ibu Daisha pada dokter yang lebih berkompeten di bidangnya untuk mengetahui lebih detail tentang kondisi janin di dalam kandungan ibu Daisha.'' ucap dokter Meri dengan menyerahkan kembali alat testpack itu kepada Daisha.


''Alhamdulillah, nambah lagi calon ponakan gue.'' ucap Beni yang baru saja tiba di depan pintu kamar milik Rendi tatkala mendengar penjelasan dari dokter Meri tentang kabar bahagia bagi sahabatnya itu.


''Tapi dokter kenapa istri saya menjadi lemas dan mual-mual? Apa itu tidak berbahaya?'' tanya Rendi masih sedikit khawatir akan kondisi yang dialami oleh Daisha.


''Bapak tenang saja pak. Hal ini masih wajar terjadi selama mual dan lemas yang ibu Daisha alami tidak berlebihan. Dan hal ini sering terjadi pada ibu hamil diawal trimester kehamilan pertama. Efeknya tubuh ibu Daisha menjadi mudah lemas dan terasa mual-mual. Nanti akan saya buatkan resep untuk ibu Daisha, berupa vitamin dan juga obat pereda mual agar mengurangi rasa mual dan membantu tubuh ibu Daisha agar tidak lemas dan lemah.'' jawab dokter Meri dengan menyerahkan resep itu pada Rendi.


''Baik dokter, terima kasih banyak untuk penjelasannya.'' jawab Rendi dengan menerima resep obat yang diberikan oleh dokter Meri.


''Baiklah Pak Rendi, kalau begitu saya mohon pamit dulu karena masih ada beberapa pasien yang menunggu saya di tempat praktik dan sekali lagi selamat atas kehamilan ibu Daisha. Dijaga baik-baik ya bapak dan ibu. Permisi.'' ucap dokter Meri sambil menjabat tangan Rendi.


''Iya dokter. Terima kasih dan maaf sudah mengganggu waktu praktik anda.'' jawab Rendi dengan membalas jabat tangan dari dokter Meri.


''Ben, antarkan dokter Meri kembali ke tempat praktiknya dan sekalian tebus obat ini di apotik.'' perintah Rendi pada Beni sang asisten.

__ADS_1


''Siap, bos. Kami pamit dulu.'' jawab Beni dengan menundukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Selepas kepergian Beni dan dokter Meri, Rendi segera memeluk kembali tubuh istrinya dengan lembut dan hati-hati.


''Mas, aku hamil.'' ucap Daisha berbinar. Ia masih setengah tak percaya akan kabar bahagia itu.


''Alhmdulillah sayang.'' kembali Rendi mengecup lembut kening istrinya.


''Daisha seneng banget mas ternyata akan diberikan kepercayaan sama Allah secepat ini.'' ucap Daisha dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia.


''Iya, sayang. Ini semua rejeki dari Allah untuk kita.'' jawab Rendi tak kalah haru. Ia pun membelai lembut dan berulang kali menciumi perut istrinya yang masih nampak rata itu.


''Ayo mas kita ke dokter kandungan sekarang aja!'' ucap Daisha tak sabaran.


''Sabar sayang. Kamu harus makan dulu ya. Setelah itu kita akan bersiap ke dokter untuk memeriksakan kandungan kamu. Dan kita ajak Arka juga nanti, dia pasti akan sangat senang kalau tahu mamanya sedang hamil.''


Beni baru saja tiba sekembalinya ia dari mengantar dokter Meri dan juga dari apotik untuk menebus resep obat yang diberikan oleh dokter Meri untuk Daisha.


''Permisi bos, ini obatnya.'' ucap Beni yang memasuki kamar atasannya dan ia pun melihat Rendi yang sedang menyuapi Daisha dengan begitu telaten.


''Uluh.. uluh... romantisnya!'' seru Beni.


''Ngomong-ngomong, selamat ya neng Shasha untuk kehamilannya. Baik-baik ya lu sama tuh dede utun di perut.'' ucap Beni seraya hendak memeluk sahabatnya itu namun kembali ia urungkan tangannya karena mendapat sebuah tatapan elang dari sang atasan.


''Maaf bos, kelepasan.'' ucap Beni dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


''Hahahaha...'' Daisha pun tak dapat menghentikan tawanya melihat dua lelaki di hadapannya yang selalu saja tak akur.


''Iya, doain ya om Beben.'' jawab Daisha dengan menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


''Bos, saya mau ngomong serius nih. Jaga sahabat saya dan dede bayinya di perut baik-baik ya bos. Jangan sampai kenapa-kenapa. Awas aja lu!'' ucap Beni kembali.


''Eitts, tunggu dulu. Kali ini saya ngomong dan berperan sebagai sahabat Daisha bos! Jangan marah dulu! Hehehe...'' ucap Beni sebelum mendapatkan kembali tatapan sinis dari atasannya itu.


''Hm.''


''Makasih ya Ben. Mau peluk?'' goda Daisha dengan terkekeh.


''Nggak! Takut gue!'' kilah Beni.


''Jangan macam-macam kamu!'' sahut Rendi dengan raut wajah cemburu yang tak dapat ia sembunyikan.


''Hahaha bercanda, kali mas. Jangan ngambek gitu ah, kamu tuh lucu tahu kalau lagi cemburu gini.'' ucap Daisha dengan menggoda suaminya. Entah mengapa ia merasa senang melihat wajah cemburu yang sering suaminya perlihatkan itu.


''Siapa juga yang cemburu!'' kilah Rendi.


''Udah dong, jangan mesra-mesraan terus di depan kaum dhuafa. Ntar malem aja lah dilanjutin lagi.'' ucap Beni memelas.


''Apaan kaum dhuafa! Sembarangan deh kalau ngomong.'' protes Daisha pada Beni, sang sahabat.


''Lha itu, kalian tuh tega tau! Kalian nggak nyadar apa di depan kalian ini ada golongan orang yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan, penderitaan, dan bentuk ketidakberuntungan lainnya dalam perihal asmara dan cinta.'' ucap Beni dengan gaya khasnya.


''Makanya nikah!'' sahut Rendi sebal.


''Tuh dengerin kata laki gue! Nikah Ben, Nikah!'' sambung Daisha ikut terkekeh.


''Nay! Naya! Dimana sih lu! Buruan ke sini. Temenin gue!'' rengek Beni bak anak kecil yang kehilangan ibunya.


Mereka semua pun larut dalam suasana haru bahagia dalam balutan canda tawa.

__ADS_1


__ADS_2