Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Sebuah pertanyaan?


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Gerimis ditiup oleh matahari, menyebarkan kehangatan kepada setiap lengan yang bersiap menyongsong pagi.


Di rumah ini, setiap pegawai memiliki tugasnya masing-masing. Setelah melakukan kewajibannya, Daisha segera berjalan menuju dapur. Sepanjang perjalanannya menuju dapur, ia melewati sebuah ruangan yang cukup luas milik tante Maya yang selalu ia gunakan untuk melukis. Tanpa berniat untuk melihat, pintu ruangan itu sedikit terbuka. Kebetulan, lampu ruangan itu masih menyala. Menampilkan beberapa lukisan indah yang tergeletak di sana dengan goresan-goresan tinta yang begitu apik dan syarat akan nilai estetika. Tanpa sengaja, pandangan mata Daisha tertuju pada sebuah lukisan yang menampilkan sosok gadis kecil dengan rambut berkuncir dua dengan pita bunga daisy di sana. Pada ke dua bahunya, nampak gambar jemari tangan yang sedang merangkulnya dari sisi samping. Gadis itu tersenyum manis. Dari garis tawanya, gadis itu nampak sangat bahagia. Ia pun berjalan mendekat ke arah lukisan itu, lukisan yang sepertinya belum sepenuhnya terselesaikan oleh penciptanya. Pandangan matanya tiba-tiba mengarah ke arah sebuah benda kecil yang terlukis di leher gadis kecil itu. Sontak tangannya pun segera meraih sebuah kalung yang selalu ia pakai.


Krek! Pintu mulai terbuka dengan lebar.


''Daisha, sedang apa kamu di sini?'' tanya tante Maya memasuki ruangan.


''Eh tante, maaf saya lancang masuk ke sini. Tadi pintunya sedikit terbuka dan tanpa sengaja saya melihat lukisan ini. Saya pun jadi tertarik untuk masuk ke dalam untuk melihat. Maaf ya tante saya tidak ijin dulu.'' ucap Daisha dengan rasa bersalahnya.


''Oh begitu. Ini adalah lukisan yang baru tante kerjakan, memang belum selesai sih.'' jawab tante Maya merapikan lukisan itu.''


''Kalau boleh saya tahu, siapa gadis kecil yang ada dalam lukisan tante ini?'' tanya Daisha memberanikan diri.


''Entahlah, tante hanya disuruh oleh teman lama untuk melukisnya.'' jawab tante Maya tanpa dibuat-buat.


''Oh.. bagus sekali tante lukisannya.'' puji Daisha tanpa berniat untuk bertanya lebih. Akan ia cari tahu sendiri nanti siapa pemilik lukisan ini, pikirnya.


''Terima kasih.'' jawab tante Maya.


''Kalau begitu saya permisi dulu tante, mau melihat mbok di dapur.'' pamit Daisha.


Setelah keluar dari galery milik tante Maya, Daisha terus saja mengamati liontin yang ia pakai. ''Kenapa sangat mirip dengan liontin yang aku pakai ya? Tapi, liontin seperti itu kan pasti banyak yang punya. Ah sudahlah, akan aku cari tahu nanti.'' ucapnya dalam hati.


Semakin ia berjalan ke arah dapur, aroma sedap bumbu yang sedang ditumis begitu menggoda dan menusuk-nusuk indra penciumannya.


''Lagi masak apa mbok?'' tanya Daisha begitu melihat mbok Tum sedang menumis bumbu.


''Masak daging rendang mbak, pesanan den Arka kemarin siang .'' jawab mbok Tom sembari menekan tombol kompor guna mengecilkan api.


''Rendang? Arka minta dibuatkan rendang?'' tanya Daisha heran.


''Iya mbak, katanya itu masakan kesukaan mbak Daisha jadi simbok disuruh untuk masakin.'' jawab mbok Tum terus mengaduk-aduk bumbu yang sedang ia tumis agar matang merata.


''Ya ampun, manis banget sih anak itu. Ya sudah kalau gitu, saya ke kamar Arka dulu ya mbok.'' ucap Daisha meninggalkan dapur.


Dengan hati-hati Daisha membuka handel pintu kamar milik Arka. Nampak sang empunya kamar masih terjaga dalam buaian mimpi. Daisha berjalan ke arah ranjang dan merapikan selimut yang sedikit berantakan yang membungkus tubuh kecil itu.


''Kamu kenapa manis sekali sih?'' gumam Daisha dengan terus memandangi wajah yang masih terlelap itu.


''Terima kasih ya sayang, karena kehadiran kamu hidup mama menjadi lebih berwarna.'' ucap Daisha kemudian mengecup lembut kening Arka.


Diam-diam dari balik pintu, Rendi sedari tadi memperhatikan apa yang sedang Daisha lakukan. Ia pun tersenyum melihat itu.


''Tunggu saja, saya akan segera memberi kejutan spesial untuk kalian.'' ucap Rendi dalam hati.

__ADS_1


...ΩΩΩ...


Setelah mengantarkan Arka ke sekolah, Daisha pun memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya sembari menunggu Arka selesai sekolah. Kembali menghabiskan waktu yang terbuang bersama sang ibu.


Setibanya ia di rumah, sambutan hangat pun mewarnai kedatangannya.


''Sudah makan, Sha? Ada ayam bakar di dapur.'' ucap ibu Rahayu setelah mendudukkan diri bersama Daisha di ruang tengah.


''Sudah bu, kebetulan tadi udah sarapan sama daging rendang spesial dari Arka.'' ucap Daisha dengan riang.


''Bersyukurlah kamu nak dikelilingi banyak orang yang begitu tulus menyayangi kamu.'' ucap ibu Rahayu haru.


''Iya bu, Daisha sangat bersyukur. Terima kasih ya bu.''


Mereka pun larut dalam pelukan hangat yang begitu menenangkan. Hingga sebuah dering telepon mengusik untuk segera diraih.


''Dari Naya bu, Daisha angkat dulu ya.'' ucap Daisha meraih ponsel dari dalam tasnya dan segera menekan tombol yang berwarna hijau.


''Lu dimana Nay? Gue mau otw nyusul ke situ.'' ucap Naya dari seberang telepon.


''Aku lagi di rumah ibu, baru aja sampai.'' jawab Daisha.


''Oke, gua meluncur ke sana. Btw, mau nitip apa nih mumpung gue lagi mampir di supermarket.'' tanya Naya.


''Buah aja Nay.'' jawab Daisha.


''Cakeppp..''


''Anjaaaay! Gue serius kali malah dikira lagi pantun.'' protes Naya.


''Hahaha.. Terserah kamu aja deh, apa aja doyan yang penting gretong.'' jawab Daisha terkekeh.


''Ya udah, tunggu ya.''


Tut.. tut.. tut...


Setelah itu pun sambungan telepon terputus.


''Kenapa? Naya mau ke sini?'' tanya ibu Rahayu.


''Iya bu.''


Tak berselang waktu lama, sebuah mobil Br*o berwarna merah berhenti di halaman rumah milik ibu Rahayu. Daisha pun segera bergegas menuju halaman depan.


''Ciyeee ada yang baru nih..'' goda Daisha.

__ADS_1


''Iya dong, hasil kerja rodi.'' jawab Naya sembari menyerahkan paper bag berisi buah-buahan pada Daisha.


''Syukur deh Nay, aku ikut seneng akhirnya bisa kebeli juga.''


''Iya, kalau naik ojek online terus bikin nguras kantong. Lagian ribet kalau harus naik motor, printilan yang harus gue bawa untuk merias klien seabrek.'' jawab Naya.


''Yaudah duduk dulu gih, aku ambilkan minum dulu spesial untuk mbak MUA kondang ini.'' goda Daisha.


''Bisa aja lu!'' balas Naya.


Setelah beberapa saat, Daisha keluar membawa dua gelas besar jus mangga yang Naya berikan tadi.


''Nih, minum.''


''Makasih, pas haus.'' jawab Naya yang selalu nyablak dan berkata apa adanya.


''Jaman sekarang susah ya, Sha nyari cowok yang setia.'' ucap Naya.


''Kenapa emang? Abis putus lagi?'' tanya Daisha yang sudah tak heran dengan ucapan sahabatnya itu.


''Ya gitu deh.''


''Ya ampun Naya, tobat dong! Heran deh, punya temen cewek satu nggak ada capeknya gonta ganti pacar mulu.'' kesal Daisha.


''Bodo! Yang penting pacaran gue kan jalur solehah.'' protes Naya.


''Mana ada pacaran jalur solehah!''


''Buktinya gue ada. Paling banter gandengan tangan doang. Kalau ada yang berani minta lebih, gue putusin deh saat itu juga. Kelar kan masalah!'' ucap Naya.


''Astaga. Masih mau nyari cowok yang setia?'' tanya Daisha.


''Huum.'' ucap Naya dengan mulut yang terus mengunyah keripik kentang yang ia beli tadi.


''Coba deh, kamu nyari cowo yang udah lama menjomblo. Ya minimal jomblo tiga tahunan lah pasti orangnya setia.''


''Kok lu tau kalau orang kaya gitu bakalan setia?'' tanya Naya heran.


''Ya iyalah, nyari pacar aja susah. Gimana mau selingkuh coba!'' kelakar Daisha.


''Gue tabok juga lu!''


''Udah sih Nay, mendingan kamu fokus sama karier dulu. Cuti dulu lah nyari pacar. Ibarat kata 'hiatus' dan fokus sama karier yang sedang kamu rintis.'' nasihat Daisha.


''Gebetan tuh ibarat kata penyemangat hari-hari. Kan seneng tuh bangun tidur ada yang ngucapin selamat pagi.'' jawab Naya.

__ADS_1


''Ampun deh. Pacaran sama kasir indomei aja sana! Tiap pagi pasti bakalan dapat ucapan selamat pagi. Kesel gue!'' kesal Daisha.


__ADS_2