
Suara adzan disambut iqomah baru saja Rama kumandangkan dengan merdu pada telinga bayi cantik yang masih merah itu. Sungguh siapapun yang menyaksikan momen itu, pasti akan ikut merasa hanyut akan haru oleh suasana yang begitu mengharu biru.
''Terima kasih tuan dan nyonya. Saya berhutang banyak kebaikan pada kalian.''
''Sama-sama. Kamu tenang saja, sesama manusia memang harus saling tolong menolong. Lalu, akan kamu beri nama siapa bayi cantik ini?'' tanya ibu Rahayu yang kini tengah menggendong bayi mungil yang begitu menggemaskan itu.
''Sebagai rasa terima kasih saya, kiranya tuan bersedia untuk memberikan nama untuk putri saya.'' ucap Marina dengan tatapan berkaca-kaca.
''Baiklah. Suatu kehormatan bagi saya bisa memberikan nama bagi bayimu ini. Karena bayi ini sangatlah cantik, saya akan memberi nama bayi mungil ini dengan nama Daisha Lituhayu. Sesuai dengan namanya, semoga kelak hidupnya dipenuhi dengan keindahan dan menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak orang.'' ucap ayah Rama setelah memikirkan hal itu baik-baik.
''Nama yang sangat cantik.'' ucap ibu Rahayu dan Marina secara bersamaan. Mereka yang berada di ruangan itu pun tersenyum haru.
''Tuan dan nyonya pasti bertanya-tanya dimana ayah dari bayi yang baru saja saya lahirkan bukan?'' tanya Marina seolah mengetahui apa yang sedari tadi ibu Rahayu dan ayah Rama pikirkan dalam benaknya.
''Sebenarnya anak ini adalah anak saya dengan seorang laki-laki yang begitu saya cintai, awalnya. Kami sudah menikah siri waktu itu, namun begitu mengetahui anak yang saya kandung ternyata berjenis kelamin perempuan, dia begitu kecewa. Lebih-lebih keluarganya. Saya diusir karena dianggap membawa aib untuk keluarga.'' ucap Marina dengan begitu tegar. Hatinya sudah kebal, jiwanya sudah terlatih untuk menjadi tegar.
''Lalu dimana ayah dari anak ini sekarang?'' tanya Rahayu ikut merasa iba.
''Dia pergi meninggalkan kami.'' ucap Marina sedih.
''Apa maksud kamu?'' tanya ibu Rahayu tak mengerti.
''Dia sudah tidak mempedulikan kami lagi sejak saat itu, ia pergi meninggalkan kami. Bahkan ia mengancam akan menggugurkan bayi tak berdosa ini. Lalu, saya memutuskan untuk pergi.'' ucap Marina yang kini menitikkan air matanya.
''Sangat tak beradab. Lelaki seperi itu tidak pantas disebut sebagai seorang ayah. Memangnya apa bedanya anak lelaki dan perempuan!'' ucap Rahayu begitu kesal.
__ADS_1
''Sabar ya, kamu harus kuat demi anak kamu.'' tambah ibu Rahayu memberi semangat.
Singkat cerita, Marina dan bayinya pun dibawa pulang ke rumah ibu Rahayu karena Marina yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.
''Mbak Rahayu, bolehkah saya minta satu lagi permintaan pada mbak Rahayu?'' tanya Marina.
''Ada apa Marina?''
''Sebenarnya saya malu mengatakan ini. Saya sudah terlalu banyak menyusahkan keluarga mbak Rahayu dan mas Rama. Tapi, hanya mbak Rahayu yang bisa saya percaya saat ini. Mbak, tolong jaga putri saya dengan baik, rawat dan sayangi dia seperti mbak Rahayu dan mas Rama menyayangi anak kandung mbak Rahayu sendiri.'' ucap Marina pilu.
''Apa maksud kamu Marina?''
''Ini semua demi keselamatan Daisha mbak, keluarga mas Yoga pasti tidak akan tinggal diam dan akan mencari keberadaan kami. Dia pasti akan mengambil anak saya jika mereka tahu saya telah melahirkan. Tolong mbak, jaga anak saya dan saya mohon simpan rahasia ini baik-baik. Saya tidak ingin anak ini kenapa-napa.'' ucap Marina dengan isak tangisnya.
''Saya harus pergi, mbak. Saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini dan tidak mungkin juga saya membawa Daisha pergi bersama saya, akan sangat berbahaya bagi keselamatannya.'' ucap Marina dengan perasaan yang berkecamuk, kalut, takut, dan tak rela.
''Saya akan pergi sejauh mungkin dan bila perlu saya akan meninggalkan negara ini. Saya akan memperhatikan Daisha dari jauh. Saya percaya bahwa mbak Rahayu dan mas Rama adalah orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk menolong saya dan anak saya.'' ucap Marina penuh harap.
...ΩΩΩ...
Hari ini adalah hari terakhir bagi Marina untuk bisa menatap, menggendong dan menyusui putri kecilnya. Ia pandangi sosok kecil di gendongannya itu dengan lekat. Begitu cantik dan menggemaskan.
''Maafkan mommy sayang, mommy terpaksa harus meninggalkan kamu di sini. Jadi anak yang baik dan penebar kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingmu ya nak.'' ucap Marina mendoakan dengan tulus.
Berulang kali ia mencium lembut bayi mungil di pelukannya. Ia selipkan sebuah sapu tangan berwarna merah jambu di dekat ranjang kecil milik Daisha. Sebuah sapu tangan yang ia buat sendiri dengan bordiran sejumlah lima tangkai bunga Baby breath bermekaran berwana merah muda di salah satu sisinya, jumlah bunga yang sesuai dengan tanggal dan bulan lahir bayinya. Tepat tanggal lima bulan lima.
__ADS_1
Berat rasanya harus berpisah dari darah daging yang baru saja ia lahirkan. Ibu mana yang tega menitipkan anak kandungnya sendiri pada orang lain? Namun, sepertinya ini adalah jalan yang terbaik, pikirnya.
''Saya titip anak saya ya mbak, tolong sayangi dan rawat anak ini dengan baik.'' ucap Marina yang kini sudah menenteng sebuah koper di tangannya.
''Pasti, kami akan menjaga anak ini dengan baik.'' jawab ibu Rahayu mantap.
''Berhati-hatilah. Dan berjanjilah akan kembali untuk anak kamu.'' ucap ayah Rama.
Marina pun hanya menganggukkan kepalanya. Raganya seolah mengatakan bahwa ia akan segera kembali, namun dalam hatinya ia tidak bisa berjanji.
Kembali ia cium dengan lembut bayi cantik itu untuk terakhir kalinya. Hingga sebuah taksi yang berhenti di halaman rumah itu menghentikan ciumannya.
''Saya harus pergi sekarang. Terima kasih atas semua kebaikan dan ketulusan mbak Rahayu dan mas Rama. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian. Saya permisi ya mbak.'' ucap Marina dengan berat. Langkah kakinya terasa begitu berat, hatinya begitu tercekat, namun ini adalah sebuah takdir yang harus ia tempuh.
Bersama deru angin, membawa langkah Marina menuju entah kemana.
''Maafkan mommy sayang, maafkan mommy harus pergi. Ini semua demi keselamatanmu nak.'' ucap Marina dalam taksi. Air matanya turun bersama dengan rintik hujan yang mulai deras jatuh membasahi bumi.
......................
Hembusan nafas panjang terdengar memekik di gendang telinga. Ibu Rahayu baru saja menyelesaikan ceritanya. Mendadak suasana hening.
Kedua mata Daisha terbelalak kala mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibunya. Kedua tangan milik Daisha mendadak gemetar, bahkan tenggorokannya terasa tercekat. Dingin, ia rasakan begitu dingin merambat hingga relung hatinya.
Gelisah, tangannya mulai berkeringat, tubuhnya terasa kaku, lidah pun mendadak kelu. Dunianya runtuh mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya. Ingin menangis dan berteriak, namun nihil.
__ADS_1
Sebuah rahasia besar itu terbuka. Sebuah kebenaran yang merubah segalanya. Sebuah rahasia yang tersimpan rapi selama puluhan tahun mulai tereja.
Ada rasa hangat menyeruak di dalam dadanya, namun kenyataan ini juga begitu menghujam perasaannya.