
Gedung-gedung pencakar langit di kota dihiasi kendaraan warna warni hilir mudik di jalanan membelah keheningan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 Wib, suasana kantor mulai lengang, karena karyawan sudah banyak yang pulang. Beberapa orang masih berkumpul di ruang depan sambil nonton televisi.
''Kita pulang sekarang.'' ucap Rendi.
''Duluan saja, bos. Saya harus menjemput Naya dulu, dia baru saja selesai meeting dengan WO di hotel sebelah.'' jawab Beni.
''Sekalian saja, toh jalannya searah.''
''Baik, bos.'' jawab Beni dan ia pun segera membereskan meja kerjanya.
Rendi dan Beni segera melajukan kendaraannya menuju sebuah hotel yang tak jauh dari perusahaan Rendi. Gemerlap lampu jalanan yang menghiasi malam menyatu bersama deru kendaraan yang selalu terdengar bising di antara heningnya malam.
''Kalian sudah lama berteman?'' tanya Rendi.
''Lumayan bos, kami bertiga mulai berteman sejak kami masuk SMA dulu kebetulan kami satu kelas.'' jawab Beni.
''Saya salut dengan pertemanan kalian.'' puji Rendi.
''Terima kasih, bos.''
''Kalian mampir saja dulu ke rumah, Daisha sudah menunggu kalian.'' ucap Rendi setelah tadi menghubungi Daisha dan mengatakan ia sedang bersama dengan kedua sahabatnya dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
''Memangnya bapak tidak keberatan kalau kami bertamu malam-malam begini?'' tanya Naya dari bangku belakang.
''Kalian tenang saja.'' jawab Rendi santai.
''Baiklah. Let's go!'' seru Naya senang.
Sesampainya di rumah Rendi, Daisha segera menghampiri kedua sahabatnya yang baru saja tiba setelah sebelumnya ia baru saja menemani Arka untuk tidur.
''Saya masuk dulu ke dalam, kalian santai saja di sini.'' ucap Rendi.
''Siap, bos!''
''Kita ke taman belakang aja yuk, biar lebih nyaman. Kalian kan berisik.'' ajak Daisha.
Pertemuan kembali tiga sahabat itu pun menjadi semakin meriah ketika Mbok Sum datang membawa seperangkat makanan cepat saji beserta dengan minumannya.
''Mbak Daisha, simbok di suruh mengantarkan ini untuk mbak Daisha dan temen-temennya.'' ucap Mbok Sum.
''Wah, makasih ya mbok.''
''Wah, asyik pas banget udah lapar, lumayan mengganjal perut nih.'' kata Beni segera membuka kotak berwarna merah dan berlogo kuning tersebut.
__ADS_1
''Ternyata Pak Rendi baik juga, ya.'' ucap Naya.
''Neng Shasha, bagi sini saus murtadnya!'' ucap Beni.
''Ha? Murtad apaan?'' tanya Daisha keheranan.
''Itu loh saus yang warna kuning. Apaan sih namanya.'' jawab Beni seraya menunjuk dengan jari tangannya.
''Murtad? Eh, masa murtad sih?'' ucap Beni berpikir dengan keras.
''Mustard, kali.'' jawab Daisha dengan terkekeh.
''Nah, itu maksud abang Beni.'' ucap Beni.
''Ya kali, dikiranya saus punya keyakinan pakai murtad segala! Dosa dong!'' ucap Naya dengan tawanya.
''Ya maaf, kadang ini lidah suka kepleset kalau ngomong.'' jawab Beni yang berakhir dengan tawa pula.
''Becanda mulu, lu!'' ucap Naya.
Hanya dalam hitungan menit semua makanan yang tersaji di hadapan mereka kini telah ludes habis, hanya menyisakan sisa-sisa bungkusnya saja.
''Kita cari makan ke luar yuk. Abang Beni masih lapar nih.'' ucap Beni.
''Pergi sendiri aja sono!'' ucap Naya.
''Nggak mau, takut.'' kata Beni.
''Takut diculik?'' tanya Daisha.
''Bukan lah, takut di kira jones.'' ucap Beni terkekeh.
''Lah kan emang iya!'' seru Naya.
''Sialan!''
Ketiga sahabat itu pun kembali mentertawakan hal-hal absurd yang selalu menghiasi kebersamaan mereka. Larut dalam berbagai macam obrolan ringan yang selalu berakhir dengan tawa.
''Guys, setiap aku sedih, kalian selalu ada di sisiku. Setiap aku ada musibah, kalian juga yang selalu ada di dekatku. Bahkan, tiap aku ngerasa hidupku lagi hancur, kalian juga yang selalu ada di samping aku.'' ucap Daisha haru.
''Santai aja kali, neng Shasha.'' ucap Beni.
''Sama-sama, Sha. Itu tandanya kita selalu ada buat kamu.'' jawab Naya tak kalah haru mengingat kembali akan kebersamaan yang telah mereka lalui bersama, baik saat suka maupun duka.
__ADS_1
''Bukan, guys bukan itu. Itu tandanya kehadiran kalian tuh bawa sial.'' ucap Daisha terkekeh.
''Sialan, lu! Gue udah baper beneran taunya lagi ngelawak!'' ucap Naya kesal.
''Bawa pulang juga nih, anak! Bikin kesel orang aja kerjaannya.'' gerutu Beni.
Dari kejauhan, Rendi tersenyum melihat Daisha yang kembali nampak bahagia saat tertawa bersama kedua sahabatnya. Beberapa hari ini, Rendi memperhatikan Daisha yang agak berbeda dari biasanya, entah mengapa Rendi merasa harus segera mengembalikan kembali senyum manis yang belakangan ini nampak sedikit terkikis dari wajah cantik pengasuh anaknya itu. Jadi, Rendi berpikir untuk mendatangkan kedua sahabat dari pengasuh anaknya itu agar bisa menjadi pelipur lara bagi Daisha.
...ΩΩΩ...
''Pagi, sayang.'' ucap Daisha membantu Arka bangun.
''Pagi, mama.''
''Mah, hari ini Arka nggak mau sekolah dulu, ya?'' ucap Arka.
''Loh, kenapa nggak mau sekolah?'' tanya Daisha heran.
''Arka pengen jalan-jalan sama mama.''
''Jalan-jalan kan bisa nanti setelah pulang sekolah, sayang.'' ucap Daisha kembali.
''Tapi, Arka pengennya jalan-jalan sekarang, Ma.'' rengek Arka.
''Em, baiklah. Tapi kamu harus izin papa kamu dulu ya, kalau mau bolos sekolah.''
''Oke! Makasih mama!'' seru Arka senang.
Setelah membantu menyiapkan pakaian ganti milik Arka, Daisha pun segera membereskan tempat tidur anak majikannya itu yang sedikit berantakan. Ketika ia hendak melipat selimut, ia menemukan sebuah benda yang nampak tak asing untuknya.
''Ini kan sapu sapu tangan yang waktu itu aku pakai untuk membersihkan luka Arka. Kenapa bisa ada di sini?'' ucap Daisha mencoba mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu.
''Ternyata Arka yang menyimpannya, pantas saja aku cari kemana-mana nggak ketemu.'' gumam Daisha.
''Mama lagi ngapain?'' tanya Arka yang baru saja selesai mandi.
''Eh, ini mama lagi beresin selimut kamu.'' ucap Daisha terkejut dan menyembunyikan sapu tangan itu.
''Maafkan Arka ya ma, Arka nggak bilang dulu sama mama kalau Arka yang menyimpan sapu tangan itu. Dulu sebelum mama tinggal di sini, kalau Arka kangen sama mama, Arka selalu pegang sapu tangan itu, Arka jadi merasa kalau mama ada di dekat Arka.'' ucap Arka merasa bersalah.
''Kenapa sama persis dengan apa yang aku rasakan ketika kecil dulu, ya? Selalu merasa tenang setelah menggenggam sapu tangan itu.'' ucap Daisha dalam hati.
''Nggak apa-apa sayang, sekarang sapu tangan ini milik Arka. Arka simpan dan jaga sapu tangan ini baik-baik ya untuk mama karena sapu tangan ini sangat penting bagi mama.'' ucap Daisha.
__ADS_1
Daisha kembali mengingat kenangannya ketika kecil dengan sapu tangan itu. Entah mengapa ia selalu ingin membawa sapu tangan itu kemanapun ia pergi. Sebuah sapu tangan berwarna merah jambu dengan bordiran sejumlah lima tangkai bunga Baby breath bermekaran berwana merah muda di salah satu sisinya. Bunga yang konon katanya melambangkan sebuah kepolosan, kesucian hingga kerap dimaknai sebagai lembaran baru, harapan baru serta cinta kasih ketika pasangan tengah merayakan kelahiran bayi perempuan.