Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Persiapan


__ADS_3

Waktu yang paling menyenangkan adalah saat kita bercengkrama. Menjaga hangatnya kebersamaan menggulirkan banyak detik dalam keceriaan. Bersama mereka yang yang mendapatkan hak istimewa, untuk sekedar berbicara omong kosong, dan untuk menghormati omong kosongnya.


''Nih di makan, katanya sih mujarab buat obat penyakit galau.'' ucap Daisha menyerahkan sebatang coklat metal queen pada Naya.


''Wah, makasih Sha. Baru juga ngebayangin makan ginian. Rejeki anak solehah ini mah.'' Naya langsung menyambar sebatang coklat yang Daisha berikan.


''Buruan dihabisin, sebentar lagi jam nya Arka pulang sekolah aku harus segera jemput nih.'' ucap Daisha.


''Gue ikutan jemput si ganteng dong, udah lama nggak ketemu kangen juga sama tuh anak.'' ucap Naya sembari mengambil tas jinjingnya dan bergegas mengikuti Daisha.


Setelah berpamitan pada ibu Rahayu, Daisha dan Naya segera melajukan mobilnya menuju sekolah Arka yang terletak tak jauh dari kediaman ibu Rahayu.


''Pakai mobil gue aja, Sha.'' ucap Naya sembari mengambil kunci mobil di dalam tasnya.


''Gaya bener yang udah punya mobil, tapi aku salut sih sama kamu, Nay. Best banget deh!'' ucap Daisha mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Naya.


''Makasih atas pujiannya, tapi mohon maaf nggak punya uang recehan.'' canda Naya.


''Sial*n!''


''Udah macam macan jinak aja kita nih.'' seru Naya dibalik kemudinya.


''Apaan macan jinak? Yang ada mah macan ternak, mama cantik anter.'' ucap Daisha.


''Basi itu mah!'' ucap Naya begitu membelokkan mobilnya memasuki halaman sekolah Arka yang cukup luas.


''Emang apaan macan jinak?'' tanya Daisha heran dengan ucapan absurd sahabatnya itu.


''Yaelah, gitu aja kagak tau. Macan jinak mah artinya mama cantik jiemput anak.'' ucap Naya terkekeh.


''Boleh.. boleh..'' ucap Daisha ikut tertawa.


''Yaudah turun gih keburu Arka nyariin elu.'' ucap Naya.


Daisha pun segera bergegas menuju ruang yang dikhususkan bagi orang tua atau wali yang menunggu atau menyambut kepulangan anak-anak mereka.


''Mama!'' teriak Arka sembari berlari menghampiri Daisha dan segera memeluknya erat.


''Sayang.. Kita langsung pulang ya, udah ditungguin tante Naya tuh di parkiran.'' ucap Daisha seraya menggandeng tangan Arka.


''Oke, ma.''


Sesaat setelah itu mereka pun kembali melajukan laju mobilnya untuk menuju rumah ibu Rahayu. Ketika dalam perjalanan, sebuah panggilan telepon masuk pada ponsel milik Daisha. Ia pun segera meraih ponselnya.


''Siapa ma yang telepon?'' tanya Arka penasaran.

__ADS_1


''Dari papa kamu, bentar ya mama angkat dulu.'' ucap Daisha seraya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


''Halo.'' ucap Daisha setelah panggilan telepon tersambung.


''Pukul tujuh malam nanti, segera bersiap. Kamu temani saya.'' ucap Rendi singkat.


''Hah? Ngapain pak?'' tanya Daisha kaget sekaligus heran.


''Sudah jangan banyak tanya, sebentar lagi akan ada orang butik yang mengantar baju sekaligus untuk melakukan fitting pada baju yang akan kamu pakai nanti.''


''Ngapain harus fitting baju segala sih pak? Baju saya masih banyak kok. Lagian gaun yang saya punya juga nggak jelek-jelek amat.'' protes Daisha.


''Saya tidak menerima penolakan. Dan saya juga sudah memerintahkan Naya untuk merias kamu nanti!'' sambung Rendi.


''Ampun deh, memangnya kita mau kemana sih pak?'' kesal Daisha.


''Kondangan.'' jawab Rendi asal.


''Pokoknya kamu siap-siap dan nurut saja. Nanti saya jemput pukul tujuh tepat.''


Tut..tut..tut..


Belum sempat Daisha menjawab, tiba-tiba saja panggilan itu pun dimatikan secara sepihak oleh Rendi.


''Ih, nyebelin banget sih tuh orang.'' gerutu Daisha sambil meletakan kembali ponselnya.


''Mama tuh kesel sama papa kamu. Sukanya maksa! Kamu kalau udah gede jangan suka maksa orang seenaknya sendiri ya, Arka.'' ucap Daisha.


''Tapi mama mau juga kan dipaksa sama papa? Buktinya mama selalu nurut apa kata papa.'' ucap Arka dengan polosnya.


''Hahahahaha...'' Naya pun tak dapat menghentikan tawanya mendengar apa yang diucapkan oleh Arka.


''Kenapa ketawa? Awas kamu ya!'' kesal Daisha pada Naya.


''Mulut mulut gue, suka-suka gue dong mau ketawa kek, mau mangap kek.'' canda Naya dengan tawanya.


Sesampainya di rumah ibu Rahayu, dua orang wanita dengan penampilan sangat rapi sudah menanti kedatangan Daisha.


''Selamat siang nona. Benar dengan nona Daisha? Perkenalkan saya Mira Santika owner MS Boutique dan ini Lusi asisten saya.'' sambut salah satu dari mereka dengan hormat.


''Benar, saya sendiri. Mari silahkan duduk.'' jawab Daisha.


''Terima kasih nona. Kalau begitu, sebaiknya nona segera untuk mencoba gaun yang sudah kami persiapkan.''


''Oh, iya.'' jawab Daisha pasrah.

__ADS_1


Beberapa saat setelah itu, Daisha pun menuju kamarnya untuk mencoba baju yang akan ia kenakan nanti.


''Mbak, ini beneran baju untuk saya?'' tanya Daisha tak percaya.


''Iya nona. Tuan Rendi sendiri yang memilihkan desain dan model gaun ini untuk nona. Apa ada yang kurang nona sukai dari gaun ini?'' ucap Mira Santika.


''Oh bukan begitu. Ini sangat-sangat bagus. Sangat berkelas sekali. Saya cuma nggak percaya aja saya akan memakai gaun ini.'' ucap Daisha tersenyum simpul.


Dalam hatinya ia akui jika gaun yang Rendi pilihkan untuknya sangatlah cantik. Ia juga sudah bisa membayangkan berapa digit yang harus dirogoh untuk sekedar memiliki gaun seperti yang kini ia kenakan. Sebuah gaun dengan desain sederhana namun sangat elegan dan menjadikan siapapun yang memakainya akan nampak cantik dan bersinar. Sebuah flowy dress ala korea dengan desain yang tidak terlalu terbuka. Gaun yang terbuat dari kain tule yang dipadu dengan kain brokat dan sentuhan ruffle di atasnya. Berpadu dengan high heels dan clutch yang cantik berwarna senada yang makin menciptakan kesan sempurna.


''Wah ternyata sangat pas sekali dengan tubuh nona. Nona sangat cantik sekali memakai gaun ini.'' ucap owner butik itu dengan kagum.


''Mbak, ini beneran untuk saya?'' tanya Daisha seraya melihat dirinya di cermin. Sangat cantik, pikirnya.


...ΩΩΩ...


Setelah membersihkan diri, Daisha pun kini telah duduk di meja rias yang berada di kamarnya dengan ditemani oleh Arka. Naya sebagai sang juru rias pun sedang mempersiapkan alat tempur yang akan digunakan untuk merias sahabatnya itu.


''Nggak usah menor-menor ya Nay.'' ucap Daisha setelah membersihkan wajahnya.


''Belum juga dimulai udah protes aja sih lu!''


''Ya abisnya kesel aku tuh, cuma mau kondangan aja ngapain harus pakai dandan segala sih!'' gerutu Daisha.


''Masih belum kelar juga ternyata ngocehnya. Kalau orang kaya mah gitu kali Sha, norak lu! Asal lu tau aja, tiap mereka mau kondangan atau menghadiri acara penting pasti semua harus serba baru, serba wow. Udah khatam gue soal yang begituan dan gue juga seneng sih, kan jadi banjir job rias gue.'' ucap Naya terkekeh.


''Mama jangan marah-marah terus, nanti cepet tua lho ma.'' sahut Arka ikut menggoda Daisha.


''Kamu nih sekarang udah mulai pinter ngeledek orang ya.'' ucap Daisha seraya membelai lembut puncak kepala Arka.


''Kan mama yang ngajarin.'' jawab Arka seraya mengacungkan kedua jarinya membentuk simbol peace.


''Kompak bener sih anak sama emak.'' goda Naya.


''Harus kompak dong tante, iya kan ma?'' ucap Arka.


''Yoi.''


''Yaudah diem, anteng.'' ucap Naya memulai merias wajah Daisha.


''Nay, jangan menor-menor!''


''Iya! Protes mulu, gue bikin kaya ondel-ondel sekalian lu!'' kesal Naya.


''Ide bagus tuh, biar Pak Rendi malu sekalian nanti.'' gurau Daisha.

__ADS_1


''Jangan! Mama harus tampil cantik maksimal dong!'' sahut Arka.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Daisha duduk di bangku riasnya, Naya telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Dan kini Daisha pun segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang telah dipersiapkan oleh Rendi.


__ADS_2