
Cinta, walaupun setiap malam selalu sekasur setiduran, tetap saja, saat sedikit jarak memisahkan akan selalu menjadi rindu.
Pada malam hari, ketika semua penghuni bumi tengah asyik terlelap, sepasang sejoli yang dimabuk asmara itu sedang sibuk meramu dan memadu.
''Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali?'' tanya Rendi selepas mencium kening istrinya setelah pergumulan panjang yang terjadi. Ia menatap lekat wajah istrinya yang mengalir penuh peluh.
''Apa kamu nggak enak badan? Atau mas terlalu memaksa kamu?'' tanya Rendi khawatir akan keadaan istrinya.
''Enggak kok mas, aku nggak kenapa-kenapa. Hanya saja akhir-akhir ini rasanya gampang sekali lelah.'' jawab Daisha.
''Ya sudah, kalau begitu kita istirahat saja sekarang.''
''Iya, mas.''
Setelah malam panjang yang menerjang, akhirnya sisa-sisa waktu sebelum fajar menyongsong itu pun tak luput mereka habiskan dengan kegiatan menabur setitik pahala dalam perjalanan berumah tangga. Sebuah titik dengan saling merengkuh, membasuh, dan juga melabuh. Menggenggam dalam dekapan malam.
Dan tentu saja, setelah itu pada pagi harinya akan terasa lebih cerah, kabut kemelut berganti menjadi denyut yang membelasut. Lenyap sudah segala carut marut.
''Sayang, kamu lihat ponselku nggak?'' tanya Rendi yang tak kunjung menemukan keberadaan ponselnya.
“Kenapa mas? Memangnya semalam kamu letakkan dimana?'' tanya Daisha dengan sebelah tangan memegang hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“Mas lupa.'' jawab Rendi sembari mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakkan ponselnya.
“Coba kamu ingat-ingat terlebih dahulu.'' titah Daisha.
Rendi meraba setiap sudut kamarnya, namun hasilnya tetap sia-sia.
“Sayang, berikan ponselmu.” kini tangan Rendi sudah terulur kearah istrinya.
Daisha pun langsung memberikannya tanpa ragu. Sebelum melakukan panggilan ke nomer ponselnya, Rendi sempat mengecek semua isi chat yang berada di room chat milik istrinya itu. Tak ada yang mencurigakan disana, hanya beberapa chat dari ibu, mommy Marina dan juga Naya. Namun matanya langsung tertuju pada satu nama yang membuatnya penasaran.
“Hubby?” tanya Rendi pada istrinya.
Daisha tersenyum dengan mengulum bibirnya malu. Daisha langsung ingin merebut ponselnya dari tangan Rendi namun suaminya itu mampu menghindari dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.
“Siapa Hubby?” tanya Rendi lagi.
“Itu nomer mas Rendi.” jawab Daisha malu.
__ADS_1
Rendi memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum bahagianya, jantungnya seakan ingin loncat saat ini juga hanya dengan mendengar jawaban kecil dari istrinya.
“Sini biar aku ganti saja kalau mas Rendi nggak suka.''
“Jangan! Mas suka kok. Nggak apa-apa sayang.” jawab Rendi menolak.
“Mas Rendi pasti save nomer aku dengan nama aneh ya?” Daisha menatap suaminya itu dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
“Hahaha.. Curigaan banget sih kamu?” jawab Rendi dengan gelak tawanya.
''Ya kan aku nggak tahu.'' jawab Daisha cemberut.
''Makanya mas mau pinjem ponsel kamu dulu untuk mencari tahu dimana ponselku berada.'' Rendi pun segera melakukan panggilan pada nomornya sendiri.
''Ya ampun, mas Rendi. Siapa yang menaruh ponsel di sini?'' Daisha segera meraih ponsel yang berada di dalam nakas begitu mendengar arah dari sumber suara nada dering pada ponsel milik suaminya.
''Maaf, mas lupa.'' ucap Rendi terkekeh.
“Nih, sekarang bisa kamu cek sendiri nama kamu di kontak hp mas.” Rendi memberikan ponselnya pada Daisha. Tentu saja istrinya itu menerimanya dengan senang hati.
“Loh, kok?” Daisha kaget saat membuka kunci ponsel Rendi, ada sebuah foto pada saat momen pernikahan mereka yang dijadikan wallpaper begitu layar terbuka.
“Ribet.” jawab Rendi.
Sementara itu Rendi masih sibuk mengecek semua akun sosial media milik istrinya namun hasilnya ternyata Daisha tak memakai aplikasi apapun kecuali room chat. Ia pun sibuk berfoto selfi agar galeri istrinya penuh dengan jepretan wajah tampannya.
“Banyak banget chat ya.” gumam Daisha.
“Namaku mana sih, Mas?” Daisha yang heboh sendiri tak memperdulikan suaminya yang banyak mengambil foto mereka berdua.
“Mas!” panggil Daisha.
“Apa sayangku?”
“Namaku mana?”
“Kamu ketik aja nomer kamu nanti juga akan muncul di layar.” jawab Rendi.
Daisha langsung saja memencet beberapa angka dilayar ponsel milik suaminya.
__ADS_1
“MY UNIVERSE ❤️” gumam Daisha tak percaya.
Rendi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Kamu adalah prioritas dan tujuan dalam hidupku. Kekasih halal yang namamu selalu aku munajatkan pada Tuhan sepanjang hayat. Aku suka dengan semua yang ada dalam dirimu. Sikap lembut, keibuan, dan juga rasa malu-malumu. Aku harap sikapmu itu hanya kamu tunjukkan padaku, hanya aku suamimu.” jelas Rendi menatap lembut ke dalam manik mata istrinya.
Daisha mulai berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya, jangan tanyakan wajahnya saat ini karena sudah tentu kedua pipinya sudah seperti buah cherry yang merah merekah.
“Aku malu mas, mau ngumpet.” ucap Daisha salah tingkah.
“Hahaha.. Bilang saja kalau pengen peluk. Sini..” goda Rendi dan langsung meraih tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajah malu istrinya pada dada bidangnya.
''Sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang diberikan untuk ku kali ini.'' gumam Rendi dalam hati seraya mengecup lembut kening istrinya.
''Udah subuh mas, ayo kita sembahyang berjamaah dulu.'' Dengan berat, Rendi melepas pelukan pada istrinya yang terasa nyaman dan hangat begitu mendengar suara kumandang adzan.
''Iya, sayang.''
Matahari mulai mengintip malu-malu dari sisi ufuk timur. Menghampiri waktu fajar yang telah bersiap di sana. Kembali teringat tentang sebuah janji yang terbentang di langit biru beberapa waktu lalu. Disaksikan oleh ribuan restu, sebuah janji yang datang bersama pelangi. Hingga tanpa disadari, tiga bulan sejak hari itu telah berlalu.
Buka mata, tutup mata. Waktu berjalan menderu begitu cepat. Ia biarkan saja waktu berlalu cepat dan ia teguhkan dalam dirinya untuk menikmati setiap kesempatan guna membersamai waktu.
Suara kokok ayam jago semakin gencar bersahutan menyambut fajar yang masih malu-malu. Bersama sinar sang mentari, deru suara kokok ayam itu seolah memiliki mantra ajaib untuk mengusir gelapnya malam.
Tanpa aba-aba, Daisha terperanjat dari duduknya seusai menunaikan dua rakaat itu. Dengan langkah cepat ia segera berlari ke dalam kamar mandi.
''Sayang..'' ucap Rendi melihat istrinya yang tiba-tiba saja berlari masih dengan mukena yang membalut tubuhnya.
Rendi segera meletakan kain sarung dan sajadah pada tempatnya. Ia mendengar suara percikan air dari balik pintu kamar mandi yang terdengar gemericik.
''Huek!''
''Daisha!'' teriak Rendi. Ia pun segera menghampiri istrinya yang nampak terkulai lemas bersandar pada wastafel.
''Sayang, kamu kenapa?''
''Astaga, wajahmu pucat sekali.''
Rendi pun segera membopong tubuh Daisha kembali ke ranjangnya setelah dirasa sedikit mereda mual yang Daisha alami. Ia selimuti tubuh istrinya sebatas dada. Wajahnya nampak pucat tak bertenaga.
__ADS_1
''Istirahatlah sayang.'' Rendi membelai lembut puncak kepala istrinya yang kini mulai terlelap kembali.