Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Menerka-nerka


__ADS_3

Hidup adalah perjuangan tanpa henti, tak usah kau menangisi hari kemarin. Karena hidup menawarkan begitu banyak ‘pintu’, terserah padamu ingin memilih yang mana untuk dibuka dan yang mana harus ditutup.


Daisha berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman. Ia memasang seatbelt dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Daisha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia buka kaca mobil lebar-lebar. Ia biarkan semilir angin menimpa kulit mulusnya. Bersama hembusan angin seolah menerbangkan semua beban yang menyesakkan dadanya. Setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit, ia berhentikan mobilnya di sebuah pelataran halaman yang cukup luas.


''Arka!'' teriaknya begitu melihat Arka keluar dari sekolahnya.


''Mama!'' jawab Arka segera menghampiri sang mama dan memeluknya.


''Gimana tadi sekolahnya?''


''Seru, ma. Arka punya temen baru lagi di sekolah.'' seru Arka.


''Good boy!''


''Kita ke kantor papa kamu dulu ya, mama mau mengantarkan makan siang pesanan pak bos.'' ucap Daisha.


''Siap, bos!'' jawab Arka.


''Nanti kita sekalian makan siang bersama di kantor papa ya, ma.'' ucap Arka dengan gembira.


''Iya, sayang.'' jawab Daisha dari balik kemudinya.


Daisha segera melajukan mobilnya menuju kantor Rendi, kebetulan sebentar lagi memasuki jam makan siang.


''Mama?'' tanya Arka.


''Ya sayang?''


''Mama jangan pernah tinggalin Arka, ya.'' kata Arka dengan sedikit nada sendu.


''Kok Arka ngomongnya gitu, sih nak?'' tanya Daisha.


''Arka nggak mau mama jauh dari Arka. Arka sayang banget sama mama. Arka janji, Arka nggak akan nakal lagi dan selalu nurut kata mama, yang penting mama selalu ada di samping Arka.'' ucapnya sedih.


Daisha melirik Arka yang duduk di samping kemudinya. Begitu memasuki gerbang kantor, ia segera memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang disediakan khusus bagi para jajaran petinggi di perusahaan.


''Arka, mama nggak akan ninggalin Arka selama kamu masih mengharapkan kehadiran mama di dekat kamu, sayang.'' jawab Daisha menggenggam erat tangan mungil itu.


''Lalu, kenapa mama tidak mau menikah dengan papa?'' tanya Arka kembali.


''Arka, pernikahan itu sebuah tanggung jawab yang besar, sayang. Dan juga pernikahan itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh dilakukan sembarangan. Karena melibatkan janji pada Tuhan di sana.'' jelas Daisha dengan nada sedikit bergetar dan menghembuskan nafasnya berat.


Sebuah pertanyaan sederhana yang mampu mengingatkan kembali tentang siapa dirinya. Dengan segenap rasa kesadaran diri, ia mencoba menghapus rasa yang mulai bersarang di hatinya.


''Ya sudah, kita turun yuk. Papa kamu pasti sudah nungguin.'' ucap Daisha kembali.


Daisha berjalan bersama Arka melewati beberapa karyawan. Senyum salam sapa selalu menghiasi wajah cantiknya sepanjang jalan menuju ruangan Rendi. Semenjak trio mak lampir terhempas dari perusahaan milik Rendi, tak ada lagi tatapan-tatapan hina dari setiap tatap sorot mata yang ia jumpai.


''Papa!'' sapa Arka begitu memasuki ruang kerja papanya.


''Hai, jagoan papa sudah pulang sekolah ya?''


''Iya, pa.''

__ADS_1


''Ini pak makan siangnya. Saya siapkan dulu.'' ucap Daisha menata beberapa kotak makan yang ia bawa dari rumah di sebuh meja di sudut ruangan itu.


''Arka, kita makan bersama-sama, ya.'' kata Rendi.


''Iya, pa.''


''Pak, saya permisi ke ruangan Beni sebentar. Ingin memberikan titipan ibu.''


''Tidak makan siang dulu?'' tanya Rendi.


''Saya masih kenyang, pak. Bapak dan Arka saja yang makan. Terima kasih.'' jawab Daisha.


''Saya permisi dulu, pak.''


''Hm.'' jawab Rendi sedikit merasa aneh dengan sikap Daisha yang nampak berbeda dari biasanya.


Tok tok tok.


''Masuk!'' saut seseorang dari dalam ruangan.


''Permisi, pak. Boleh saya masuk?'' ucap Daisha.


''Sial*n, aku kira siapa. Duduk, neng Shasha.'' jawab Beni.


''Nih.'' ucap Daisha menyerahkan kotak makan siang yang ia bawa.


''Widih, gitu dong. Datang tuh bawa buah tangan gini, jangan cuma bawa tangan hampa mulu.'' canda Beni.


''Makasih ya neng, Shasha.''


''Hm.''


''Aku udah makan tadi, habisin aja.'' jawab Daisha.


''Memang mantul sih masakan ibu, bener-bener nggak ada lawan!'' ucap Beni sambil menikmati makan siangnya.


''Mau minum? Aku pesankan cappucino?'' tanya Beni.


''Enggak, ah.''


''Kenapa sih? Lesu amat.'' ucap Beni dengan mulut penuh makanan.


''Habisin dulu, jangan banyak omong!'' jawab Daisha.


''Baik, bos.'' jawab Beni patuh.


''Kenapa sih, neng Shasha? Abang Beni perhatiin dari tadi kayaknya lesu amat!'' tanya Beni.


''Nggak apa-apa kok.''


''Bohong nih, abang Beni tuh tau kalau lagi diem gini pasti ada iya-iya.'' ujar Beni memandang raut wajah Daisha dengan seksama.


''Apaan sih, Ben!'' protes Daisha.

__ADS_1


''Kenapa? Ada apa? Mengapa?'' tanya Beni.


''Nggak kenapa-kenapa, nggak apa-apa, dan nggak mengapa-mengapa.'' jawab Daisha.


''Gue serius, Sha!''


''Hahaha slow down baby.'' jawab Daisha.


''Kemarin aku nggak sengaja ketemu Alvin pas lagi di toko buku.'' sambung Daisha.


Brak!


''Ben, bikin jantungan orang aja sih! Untung bukan barang tiruan, jadi aman dan tahan banting.'' ucap Daisha seraya mengelus dadanya terkejut.


''Alvin?''


''Hm.''


''Masih hidup tuh orang?'' tanya Beni dengan nada sedikit naik satu oktaf.


''Buktinya kemarin aku ketemu sama dia.'' jawab Daisha.


''Kamu nggak kenapa-napa kan, Sha? Nggak diapa-apain kan sama dia?'' tanya Beni serius.


''I'm okay.'' jawab Daisha.


''Dia kemarin nitip salam buat kalian.'' sambung Daisha.


''Cih! Nggak punya malu.'' jawab Beni.


''Udah sih, Ben. Lagian Alvin juga udah minta maaf kan?'' ucap Daisha.


''Terlambat! Berani-beraninya dia ketemu sama kamu? Ingin aku hajar rasanya tuh, orang.'' kata Beni begitu geram.


''Katanya dia akan tinggal di sini lagi.'' ucap Daisha.


''Pokoknya kamu jangan pernah lagi berhubungan sama dia. Aku sebagai sahabat kamu, nggak rela dan nggak akan rela kalau sampai dia nyakitin kamu lagi.'' ucap Beni.


''Enggak, Ben. Kamu tenang aja. Lagian aku juga cukup tau diri kok dan sadar diri siapa aku.'' ucap Daisha dengan menghembuskan nafasnya berat.


''Mentang-mentang orang kaya, jangan pikir dia bisa seenaknya saja!'' sambung Beni kembali.


''Kalau Naya tau, bisa habis tuh pasti si Alvin sama Naya.'' tambah Beni.


''Ya udahlah, aku balik ke ruangan pak Rendi dulu. Pasti Arka udah nyariin.''


''Oke, makasih ya, neng Shasha makan siangnya. Sering-sering, ya.''


''Rugi dong, ntar.'' jawab Daisha seraya menutup pintu.


Saat Rendi hendak membuka pintu ruangan Beni untuk menyusul Daisha, tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara dua sahabat itu dan mengurungkan niatnya. Ia mendengar semua percakapan itu, ia kembali teringat akan seseorang yang ia jumpai kemarin saat di mall bersama Daisha.


''Sebenarnya siapa lelaki itu? Kenapa Beni nampak tak suka pada lelaki itu? Padahal kata Daisha kemarin mereka berteman.'' batin Rendi menerka-nerka.

__ADS_1


''Ah, sudahlah. Bukan urusanku.'' jawab Rendi segera berbalik masuk ke dalam ruangannya kembali.


__ADS_2