
Setelah acara pernikahan yang dilangsungkan beberapa waktu lalu, akhirnya seluruh keluarga pun meninggalkan hotel yang menjadi tempat berlangsungnya acara pernikahan. Begitu pula dengan Rendi dan keluarga barunya. Tak lupa mereka berpamitan kepada para tetua keluarga, yakni ibu Rahayu dan mommy Marina. Karena tante Maya sudah meninggalkan hotel terlebih dahulu.
''Bu, ibu hati-hati ya di rumah.'' ucap Daisha setelah memeluk ibu Rahayu.
''Kamu tenang saja, jadi istri yang baik untuk suamimu. Layani suamimu dengan sepenuh hati.'' petuah ibu Rahayu membalas pelukan Daisha.
''Iya, bu. Doakan kami ya bu.''
Setelah mendengarkan petuah-petuah dari sang ibunda, kini Daisha berganti memeluk mommy Marina, ibu kandungnya.
''Jadi istri dan ibu yang baik ya nak. Dan juga maafkan mommy karena mommy harus segera kembali ke Paris. Perusahaan begitu membutuhkan mommy.'' ucap mommy Marina dengan berat hati.
''Iya, mom. Daisha mengerti. Jaga diri mommy baik-baik ya selama berada di sana. Daisha pasti akan sangat merindukan mommy.''
''Thank you sayang. Mommy juga pasti akan selalu merindukan kalian.'' balas Marina seolah enggan melepas pelukannya pada putrinya yang belum lama ini ia temukan kembali.
''Besok biar saya dan Daisha yang antar mommy ke bandara.'' sahut Rendi dan mendapat anggukan dari Daisha dan Marina.
''Ben, setelah ini antarkan ibu dan mommy pulang ke rumah terlebih dahulu!'' ucap Rendi pada Beni, sang asisten kepercayaannya.
''Siap, bos!''
Setelah berpamitan, Rendi segera memboyong anak dan istrinya menuju tempat tinggal meraka yang baru. Sebuah rumah yang telah lama ia persiapkan sejak sebelum menikah dengan Daisha.
Sebuah rumah yang sangat futuristik. Seluruh desainnya sangat modern dan berkelas. Dengan pencahayaan alami yang baik dan kesatuan dengan alam yang begitu memukau, benar-benar rumah yang Daisha impikan.
''Mas, beneran ini kita langsung pindah ke rumah itu?'' tanya Daisha begitu mobil yang Rendi kemudikan melaju menuju ke arah kawasan elit di pinggiran kota yang akan mereka tempati.
''Bukan rumah itu tapi rumah kita.'' sahut Rendi
''Iya, ralat rumah kita.'' ucap Daisha patuh.
''Seperti yang pernah saya katakan waktu itu lagi pula rumah kita nanti akan lebih dekat dengan kantor.'' jawab Rendi.
''Apa kamu keberatan?'' tanya Rendi kembali.
''Oh, enggak mas. Sama sekali nggak keberatan kok. Tapi bagaimana dengan tante Maya? Apakah beliau akan baik-baik saja jika kita tinggalkan?'' tanya Daisha menyampaikan apa yang manjadi beban di pikirannya selama ini.
''Kamu tenang saja, di rumah kan banyak pelayan yang akan menemani tante Maya. Lagi pula sebentar lagi, tante Maya juga akan segera menikah.'' ucap Rendi tetap fokus dengan kemudinya.
__ADS_1
''Hah? Menikah? Dengan siapa? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?'' tanya Daisha dengan rasa terkejutnya.
''Nanti kamu juga akan tahu.'' jawab Rendi.
''Selalu jawabannya seperti itu setiap di tanya.'' kesal Daisha.
''Oma Maya akan menikah dengan opa Surya, mama.'' sahut Arka dari kursi belakang.
''Om Surya?'' tanya Daisha sejenak berpikir dan mengingat-ingat tentang sosok yang sedang mereka bicarakan.
''Om Surya, orang kepercayaan almarhum papa.'' sahut Rendi seolah membaca pertanyaan dalam benak istrinya.
''Oh, om Surya yang itu. Tapi kok kalian semua udah tahu sih? Cuma aku sendiri disini yang nggak tahu apa-apa.'' protes Daisha.
''Makanya jangan suka kabur-kaburan kalau sedang ada masalah.'' ucap Rendi dengan dalih menasihati istrinya itu.
''Siapa juga yang kabur, aku tuh cuma jalan-jalan aja waktu itu untuk menenangkan diri. Lagian kan waktu itu aku perginya juga nggak lama mas.'' kilah Daisha.
''Tapi bikin semua orang jadi panik.'' seru Rendi.
''Iya, maaf. Jadi ketika aku pergi, tante Maya sudah dilamar oleh om Surya?'' tanya Daisha menerka-nerka.
''Hmm. Begitulah.'' jawab Rendi singkat.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh menit, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah yang nampak asri dan begitu menyejukan itu.
''Akhirnya sampai juga.'' ucap Daisha merasa lega. Ia menghirup oksigen banyak-banyak ke dalam paru-parunya.
''Yey! Rumah baru!'' seru Arka senang.
''Makasih, ya pak. Eh, mas.'' ralat Daisha dengan terkekeh karena mendapatkan tatapan mata elang dari Rendi.
''Ayo kita masuk ke dalam.'' ajak Rendi dengan menggandeng Daisha dan putranya.
Begitu sampai di depan pintu, beberapa pelayan sudah menyambut kedatangan tuan baru mereka dengan begitu hangat dan hormat.
''Selamat datang tuan dan nyonya dan juga tuan muda.'' ucap mereka kompak.
''Terima kasih.'' jawab Daisha sungkan. Pasalnya ia tak pernah diperlakukan dengan begitu agung seperti saat ini.
__ADS_1
''Kalian boleh kembali bekerja.'' ucap Rendi. Dan dua pelayan itu pun segera kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing.
''Bagaimana? Ada yang tak kamu suka dari rumah ini? Atau ada yang ingin kamu ubah dari rumah ini?'' tanya Rendi setelah membawa Daisha dan Arka untuk berkeliling melihat keadaan rumah mereka.
''Enggak, mas. Ini sangat sempurna.'' ucap Daisha merasa terkesima. Ia memandangi sebuah foto pernikahan mereka yang kini sudah terpasang dengan apik di sudut ruangan utama. Sebuah foto dirinya dengan gaun pernikahan sederhana namun sangat elegan yang berwarna broken white dan nampak begitu serasi bersanding dengan Rendi dan juga Arka.
''Bagus ya ma?'' ucap Arka ikut mengagumi keindahan foto yang terpampang pada dinding itu.
''Iya, sayang.'' jawab Daisha merasa haru.
Daisha merasa sangat bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Setelah ribuan badai menghantam kehidupannya, kini ia merasa sangat bersyukur dan bahagia. Ia telah berhasil memetik hasil dari buah kesabaran yang selama ini ia tuai. Bukan hanya dengan harta benda yang kini melimpah ruah, namun dengan banyaknya limpahan cinta kasih yang ia rasakan dari orang-orang yang ia sayang. Ia kembali menemukan sebuah rumah. Rumah terindah yang senantiasa dipenuhi cinta di dalamnya.
Menjelang tengah malam, Daisha baru saja keluar dari kamar putranya yang tadi sempat merajuk karena ingin ditemani untuk tidur. Setelah memastikan putranya sudah tertidur lelap, Daisha segera berjalan menuju sebuah ruangan yang menjada singgasana cinta bagi dirinya dan juga suaminya.
''Mas, belum tidur?'' tanya Daisha menutup pintu dengan hati-hati.
''Belum. Mas baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sempat terbengkalai beberapa hari ini.'' jawab Rendi dengan menutup laptopnya.
''Sudah malam mas, sebaiknya kita istirahat. Besok pagi kan mas Rendi udah mulai bekerja lagi.''
''Daisha.'' panggil Rendi dengan lembut.
''Ada apa?''
''Maaf ya, jika bulan madu kita harus ditunda dulu.'' ucap Rendi penuh sesal.
''Ya ampun, nggak usah dipikirkan mas. Bukankah setiap hari kita juga sedang berbulan madu?'' canda Daisha.
''Kamu sedang menggoda saya?''
''Hahahaha enggak mas bercanda doang.'' ucap Daisha terkekeh.
''Dengar sayang, setiap kali aku menatap matamu, aku merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan pada hari pertama kita bertemu."
''Benarkah?'' goda Daisha.
''Nggak percaya?'' tanya Rendi.
''Enggak! Buktinya mana?''
__ADS_1
''Benar mau bukti? Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang juga.'' ucap Rendi dengan menarik Daisha ke dalam pelukannya. Dan hal-hal lain pun terjadi dan berlanjut pada sebuah titik nafas yang saling beradu.
''Terima kasih sayang. Kamu adalah doaku yang dijawab, keinginanku yang terpenuhi, dan impianku yang terwujud. Terima kasih telah benar-benar bersamaku.'' ucap Rendi dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus menatap manik mata Daisha setelah peristiwa penuh peluh dan lenguh yang baru saja mereka akhiri.