Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Mikir & dzikir


__ADS_3

Senin pagi menemukanku lagi. Senin kembali menyapa dengan membawa sejuta harapan. Senin, semangat nan indah.


Sejak beberapa hari lalu, Arka telah mulai rajin dan tertib untuk berangkat ke sekolah. Ia juga sudah memiliki beberapa teman akrab ketika berada di dalam kelas. Daisha cukup merasa bangga dan bahagia melihat perkembangan anak asuhnya tersebut. Setiap hari, ia juga bertugas menemani Arka untuk berangkat dan menunggui ketika pulang sekolah. Pihak sekolah memang tidak memberi perhatian khusus bagi Arka, dengan harapan agar Arka bisa dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara mandiri.


Ketika sudah memasuki sesi kegiatan belajar mengajar, meskipun Arka ketinggalan beberapa materi pelajaran namun Arka begitu cepat menangkap dan merespon materi yang gurunya sampaikan. Kecerdasannya memang patut diacungi dua jempol.


Dalam beberapa kali kesempatan pula, Daisha yang selalu mendampingi Arka sempat dimintai beberapa masukan dan kritikannya oleh pihak sekolah Arka tentang pembelajaran yang ada yang berkaitan dengan bidang ilmu psikologi. Berbekal ilmu yang sudah ia pelajari ketika duduk di bangku kuliah dulu, dengan senang hati, ia pun ikut belajar dan mengamati kegiatan pembelajaran di sekolah itu.


...ΩΩΩ...


Hari ini adalah hari pertama untuk Beni memulai bekerja sebagai salah seorang karyawan magang di PT. Gautama Atmaja, perusahaan milik Rendi Atmaja. Ia ditempatkan di bagian pemasaran dengan berbekal ijazah yang ia miliki. Dalam beberapa kesempatan, Beni sempat beberapa kali didapuk untuk mendampingi Rendi ketika sedang melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan dan bertemu dengan beberapa rekan bisnis. Karena bakat dan kemampuannya dalam berkomunikasi dan bernegosiasi dengan beberapa klien yang cukup menjanjikan, akhirnya Rendi resmi mengangkat Beni menjadi asisten pribadinya untuk menggantikan asistennya yang lama yang ia pindah tugaskan ke kantor cabang lain. Dan ia pun mengenalkan Beni pada semua karyawan di kantornya ketika briefing pagi sebelum jam kerja di mulai.


''Kerjamu cukup baik, pertahankan dan terus belajar. Jangan pernah merasa tinggi hati.'' ucap Rendi.


''Terima kasih Pak Rendi, saya akan bekerja dengan baik dan juga dengan sepenuh hati.'' jawab Beni senang bukan kepalang karena baru beberapa bulan ia bekerja di perusahaan Rendi, ia sudah naik jabatan menjadi seorang asisten pribadi bos besar itu.


''Saya tidak butuh omong kosong itu, cukup beri saya bukti.''


''Baik, bos. Saya akan buktikan itu.'' jawab Beni mantap.


''Kamu boleh pergi dan pelajari ini dengan cermat.'' ucap Rendi dengan menyerahkan setumpuk berkas pada Beni.


''Siap, bos. Saya permisi.'' pamit Beni.


Ketika jam istirahat, Beni berjalan menuju pantry untuk menemui sahabatnya, Naya.


''Selamat siang neng Naya.'' sapa Beni.


''Dih ada asisten bos datang ke sini. Ngapain lu? Mau pamer?''


''Ya ampun, galak banget sih calon makmumnya abang.'' ucap Beni menggoda sahabat perempuannya itu.


''Nggak sudi banget jadi makmumnya elu!'' jawab Naya.

__ADS_1


''Hahaha kemakan omongan sendiri tau rasa kamu.'' ucap Beni terkekeh.


''Nggak akan!'' sambung Naya.


''Makan siang yuk, Nay. Aku yang traktir deh. Laper nih.'' ajak Beni.


''Em, boleh deh. Laper juga gue.'' jawab Naya.


Mereka berdua pun berjalan menuju kantin kantor di lantai empat. Sebuah kantin yang didesain dengan nuansa cafe khas kawula muda dengan menyajikan menu-menu khas kaki lima namun dengan rasa bintang lima yang ramah dan aman di kantong. Tempat yang nyaman dan menu makanan yang beragam, menjadikan banyak karyawan betah nangkring di sana. Ibu Rahayu pun diminta oleh Rendi menjadi salah satu penyuplai menu makanan di kantin itu, karena rasa masakan ibu Rahayu yang begitu menggugah selera. Dengan dibantu oleh beberapa karyawan yang Rendi tugaskan khusus untuk membantu ibu Rahayu, kini catering milik ibu Rahayu pun semakin berkembang dengan pesat. Berbagai pesanan makanan pun silih berganti datang dari berbagai kalangan.


Setelah memesan menu ayam panggang dan sambel ulek khas ibu Rahayu, Beni dan Naya pun memilih duduk di bangku dekat jendela yang menampilkan pemandangan indah kota X dari sisi atas gedung kantor.


''Eh, ada anak magang tuh.'' bisik seseorang di sebelah meja yang Beni dan Naya duduki.


''Denger-denger sih udah diangkat jadi asisten bos sekarang.''


''Dia mah kalo nggak direferensikan si X nggak bakal diterima disini.'' sambung orang di sebelahnya.


''Palingan juga nggak becus kerja!'' kata perempuan berambut sebahu itu.


Naya yang mendengar bisikan-bisikan itu pun menjadi geram. Hampir saja ia melabrak mereka kalau Beni tidak mencegahnya.


''Biarin aja, Nay. Ntar mereka juga capek sendiri.'' ucap Beni acuh.


''Mulut mereka tuh harus dikasih pelajaran. Orang-orang itu juga yang dulu pernah bikin Daisha hampir mematahkan gigi-gigi mereka, untung Daisha masih bisa sabar menghadapi nyinyiran mereka.'' ucap Naya dengan emosi.


''Memangnya kenapa?'' tanya Beni penasaran.


Naya pun menceritakan kejadian yang sahabat baiknya itu alami sebelum memutuskan untuk bekerja menjadi pengasuh Arka. Mulai dari hinaan, cacian, dan kata-kata makian kasar yang tak patut dari seorang yang berpendidikan tinggi ucapkan.


''Harusnya Pak Rendi ngasih hukuman tegas buat orang-orang toxic kaya gitu. Kalau perlu dipecat aja dari perusahaan ini.'' ucap Naya kesal.


''Emangnya waktu itu Pak Rendi tahu kejadian yang Daisha alami?''

__ADS_1


''Ya nggak tahu juga sih.'' jawab Naya mengangkat bahunya.


''Ya udah biarin aja. Buruan abisin makanannya, abang Beni harus segera ke ruangan Pak bos.'' ucap Beni dengan bangganya.


''Gaya lu!'' ucap Naya.


Saat mereka sedang menghabiskan menu makan siang yang tersaji di atas meja. Ketiga perempuan tadi kembali berucap dengan gaya angkuhnya.


''Orang rendahan emang seharusnya berteman dengan orang rendahan juga sih ya.'' ucap perempuan berambut sebahu tadi.


''Eh eh kalian tau nggak, mereka kan temennya si perempuan murahan yang itu tuh.'' sambung perempuan berambut sebahu.


''Oh, yang katanya jual body ke pak bos biar bisa deket sama anaknya pak bos? Oops.'' ucapnya dengan sengaja.


Brak!!


''Ngomong apa lu barusan?'' ucap Naya menggebrak meja dengan keras. Ia merasa tidak terima ketika mendengar sahabatnya itu dihina dengan keji seperti itu.


''Eh temennya si perempuan murahan, marah nih. Takut.'' ucap perempuan berambut sebahu tadi dengan nyinyir.


''Gue patahin juga tuh mulut! Jaga omongan lu!'' ucap Naya geram.


''Udah, Nay. Jangan bikin keributan di sini.'' cegah Beni melihat beberapa karyawan yang sedang memperhatikan mereka.


''Diem, Ben! Orang-orang kaya gini tuh perlu dikasih pelajaran!''


''Tolong jaga sikap dan tutur kata kalian!'' ucap Beni tegas.


''Songong juga nih anak baru. Mentang-mentang udah jadi asisten bos belagu lu ya!'' ucap perempuan tadi.


''Nona-nona yang terhormat, dalam hidup itu perbanyaklah mikir dan dzikir, agar hidup tenang dan tentram. Dan satu lagi, jangan terlalu banyak nyinyir. Selamat makan siang dan jangan lupa bayar!'' ucap Beni membawa Naya menjauh dari tempat itu.


''Awas lu ya!'' ucap Naya sambil berlalu.

__ADS_1


__ADS_2