Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Family gathering


__ADS_3

Beberapa bulan telah terlewati dengan baik, banyak pelajaran dan pengalaman baru yang Daisha dapatkan semenjak menyandang status sebagai seorang istri, lebih lagi ketika ia sedang berbadan dua seperti sekarang. Tanpa terasa, saat ini usia kandungan Daisha telah memasuki dua puluh sembilan minggu atau sekitar tujuh bulan. Meskipun nafsu makannya meningkat dengan drastis, namun tak banyak perubahan yang terjadi pada bentuk tubuhnya. Ia masih saja terlihat langsing dan ramping, hanya bagian-bagian tertentu pada tubuhnya saja yang ikut membesar seiring membesarnya janin dalam kandungannya.


Setelah acara tujuh bulanan yang diadakan minggu lalu, Daisha semakin rajin mengikuti kelas kehamilan untuk mempersiapkan jelang kelahiran buah hatinya, tentu saja dengan ditemani suaminya yang selalu siap siaga dua puluh empat jam di sisinya. Semenjak kehamilan istrinya, Rendi menjadi sangat over protektif pada Daisha. Ia tidak ingin sedikitpun melakukan kesalahan.


''Mas, aku pengen ke kebun teh.'' rengek Daisha yang kini tengah berada di pelukan suaminya.


''Mau ngapain ke sana?'' tanya Rendi masih fokus dengan laptopnya.


''Ya lihat kebun teh dong, mas. Ya anggap aja kita liburan sekaligus baby moon. Lagi pula, minggu ini kan Arka juga libur sekolahnya.'' jawab Daisha.


''Oh jadi calon mama ini ngidam mau liburan ya?'' goda Rendi.


''Nah, anggap aja aku lagi ngidam. Gimana mas? Boleh kan?'' tanya Daisha.


''Tapi ajak Naya dan Beni juga ya, biar makin rame. Oke?'' ucap Daisha meminta persetujuan.


''Hm, baiklah. Tapi hanya dua hari saja ya, setelah kamu melahirkan nanti, mas akan sering ambil cuti jadi tidak bisa sering libur sekarang ini.'' jawab Rendi.


''Oke, nggak masalah. Makasih suamiku. Jadi makin cinta deh.'' ucap Daisha memeluk erat suaminya.


''Iya sayang, mas juga cinta sama kamu.'' balas Rendi dengan mencium kening istrinya.


...ΩΩΩ...


''Udah siap semua kan? Pastikan jangan sampai ada yang tertinggal.'' tanya Rendi.


''Sepertinya sudah semua bos.'' jawab Beni sembari mengecek perlengkapan yang akan mereka bawa untuk menginap nanti.


''Kalau begitu, kita berangkat sekarang.'' ucap Rendi.


''Let's go!'' seru Arka.


Perjalanan terasa menyenangkan bagi mereka. Sepanjang perjalanan mereka lalui dengan berbagai canda tawa. Hingga tanpa terasa waktu kurang lebih dua jam perjalanan tiada terasa. Mereka telah tiba di lokasi penginapan yang langsung berhadapan dengan hamparan hijau kebun teh dengan suasana yang begitu segar dan menenangkan. Setelah membereskan barang-barang bawaan, mereka kini tengah duduk bersama di sebuah ruangan yang terdapat meja makan dengan nuansa kayu klasik untuk menikmati makan siang.


''Ternyata dingin banget ya di sini.'' ucap Naya sambil memakai jaketnya.


''Butuh kehangatan Nay? Abang Beni siap menghangatkan!'' jawab Beni dengan membentangkan kedua tangannya.


''Modus lu!'' ucap Naya sebal.


''Yah.. lagi-lagi di tolak.'' ucap Beni terkekeh.


''Udah-udah, sebaiknya kita makan sekarang. Selagi supnya masih hangat.'' tutur Daisha.


''Kalian tahu, kalau dingin gini paling enak itu makan mie instan yang super pedes.'' ucap Beni dengan semangkuk sup di mangkuknya yang telah ludes dimakan.


''Bilang aja mau nambah makannya!'' sahut Naya.

__ADS_1


''Hehehe nah itu maksud abang, masih laper nih dari pagi belum makan.'' ucap Beni terkekeh.


''Arka juga mau mie instan, ma!'' teriak Arka.


''Arka masih lapar?'' tanya Daisha.


''Iya. Boleh kan ma Arka makan mie instan kaya om Beben?'' tanya Arka dengan tatapan memohon.


''Em, boleh. Mama juga mau deh, spesial pake telur dan sosis. Ditambah irisan cabe rawit yang banyak.'' jawab Daisha membayangkan betapa nikmatnya makan semangkuk mie instan kuah itu.


''Jangan terlalu pedas, ingat kamu sedang hamil sayang.'' sahut Rendi.


''Iya mas, lupa.'' jawab Daisha dengan tersenyum.


''Kalau begitu, ayo segera ke dapur. Kalian tunggu di sini saja, biar kami yang buatkan spesial buat kalian.'' sahut Beni membawa Naya untuk mengikutinya.


''Kok jadi gue sih!'' protes Naya namun tetap saja mengikuti langkah Beni menuju dapur.


Sepeninggal Beni dan juga Naya, Daisha mendudukkan dirinya pada sebuah sofa yang terletak di sebelah ruang makan. Ia menyalakan penghangat ruangan untuk mengurangi hawa dingin yang terasa menusuk-nusuk hingga ke tulang. Dengan ditemani sebuah layar televisi besar menyala yang menampilkan cuplikan acara khas anak-anak.


''Arka, jangan lupa misi rahasia kita ya.'' bisik Arka pada telinga putranya.


''Siap, ma!'' jawab Arka dengan berbisik pula.


''Kalian membicarakan apa? Kenapa bisik-bisik seperti itu?'' tanya Rendi yang kini tengah duduk bersama mereka.


''Awas ya kalau kalian macam-macam.''


''Curigaan banget sih, mas. Orang kita nggak ngapa-ngapain kok. Iya, kan nak?'' tanya Daisha.


''Iya, papa nggak boleh suudzon. Harus selalu berbaik sangka.'' terang Arka.


''Hm.'' kata Rendi mengalah.


Di sudut lain ruangan itu, terdapat muda mudi yang tengah sibuk berkutik di dapur.


''Di rebus dulu mie nya, terus di buang air rebusannya!''


''Ribet ah, Nay!'' jawab Beni tak sabaran.


''Ribet sedikit tapi lebih sehat! Buruan, buang air rebusannya!'' perintah Naya.


''Iya iya.''


Acara masak memasak itu pun diwarnai dengan perdebatan sepasang sahabat yang selalu saja memperdebatkan hal-hal kecil, mereka bagaikan tom and jerry ketika sedang berdekatan, namun akan saling mencari dan merindukan di kala sedang berjauhan.


''Taraaa... mie instan spesial udah jadi.'' ucap Naya menyajikan beberapa mangkuk mie instan itu di atas meja.

__ADS_1


''Wah, asyik. Terima kasih tante Naya.'' ucap Arka.


''Sama-sama ganteng.'' sahut Naya.


''Wah ini sih enak banget, mie instan buatan kalian emang paling best.'' kata Daisha dengan mengacungkan jempolnya.


''Siapa dulu chef nya!'' ucap Beni dengan bangganya. Ia pun melakukan high five dengan Naya.


''Ciyeee, tumben akur.'' sindir Daisha.


''Kita kan memang selalu akur dan sejiwa neng Shasha!'' ucap Beni.


''Apaan sih lu, Ben!'' protes Naya.


''Tante Naya kok selalu berantem sih sama om Beben?'' tanya Arka.


''Dia tuh nyebelin! Hobinya bikin kesel orang aja.'' kata Naya.


''Nyebelin apa nyebelin?'' goda Daisha.


''Biasanya tuh dari sebel jadi cinta, lho Nay!'' tambah Daisha.


''Dih, curcol!''


''Jadi kamu dulu sebel sama mas?'' sahut Rendi bertanya pada istrinya.


''Iya.'' ucap Daisha terkekeh.


''Awas kamu ya!'' ucap Rendi mengacak-acak rambut istrinya itu dengan gemas.


''Please guys, jangan pamer kemesraan gitu di depan kamu fakir asmara!'' protes Beni.


''Eh, mas. Kok tiba-tiba aku pengen makan martabak telur ya mas?'' ucap Daisha.


''Hah? Di sini ya nggak ada yang jualan sayang. Besok ya, biar bibi yang buatkan.'' ucap Rendi.


''Tapi aku maunya sekarang mas.'' Daisha berkata dengan kedua bola matanya yang mulai memerah.


''Terus kata dede bayinya maunya om Beni dan tante Naya yang beliin.''


''Kok gue? Kan bukan gue bapaknya!'' sahut Beni.


''Ini kata dede bayinya. Memangnya kamu tega sama ponakan sendiri. Hiks.'' ucap Daisha dengan dramatis.


''Haish, mulai drama lagi deh!'' sahut Naya.


''Please...'' ucap Daisha dengan puppy eyes nya.

__ADS_1


''Iya!'' jawab Beni dan Naya kompak.


__ADS_2