
Beni dan Naya berjalan meninggalkan kantin menuju pantry dengan Naya yang masih saja terus menggerutu memaki ketiga perempuan tadi.
''Kenapa sih, Ben lu bawa gue pergi. Gue tuh belum puas maki tuh cewek-cewek kurang ajar!''
''Udah, Nay. Biarin aja. Ibarat kata anjing menggonggong kafilah berlalu.'' ucap Beni.
''Tapi aku tuh kesel sama mereka! Seenak jidatnya sendiri ngatain Daisha kaya gitu!''
''Udah udah, kamu tenang saja.''
''Gimana bisa tenang, orang mereka udah keterlaluan gitu kok!''
''Serahkan semua pada abang Beni!'' ucap Beni dengan mengedipkan matanya.
''Hai, disusul ke kantin taunya kalian di sini.'' ucap Daisha yang baru saja memasuki pantry bersama Arka.
''Eh, ada neng Shasha datang sama bos kecil.'' sapa Beni.
''Ada apa sih?'' tanya Daisha melihat raut wajah Naya yang nampak merah padam.
''Itu tuh, mak lampir bikin ulah lagi. Pengen aku uwek-uwek juga tuh mulut-mulut lemes!'' gerutu Naya.
''Udah sih Nay, nggak penting juga meladeni mereka. Anggap angin lalu aja kali! Nggak ada manfaatnya dengerin omongan mereka.'' kata Daisha menenangkan sahabatnya itu.
''Tante Naya, kata bu guru jangan sering marah-marah nanti pahalanya berkurang lho!'' sambung Arka.
''Nah, bener tuh kata bos kecil!'' kata Beni.
''Mentang-mentang udah sekolah sekarang makin pinter ya.'' ucap Naya gemas.
''Iya, dong.'' jawab Arka dengan bangga.
''Ngomong-ngomong kok tumben kamu ke kantor Sha? Biasanya juga ogah banget?'' tanya Naya.
''Nganterin tuan muda, nih. Kangen sama papanya katanya.'' ucap Daisha.
''Oh, gitu.''
''Ben, selamat ya. Cieee.. Udah jadi asisten bos sekarang.'' ucap Daisha.
''Makasih bu bos, ucapannya.'' jawab Beni.
''Apaan sih kamu, Ben!''
''Gimana kerja sama Pak Rendi?'' tanya Daisha.
''Ngeri-ngeri sedap!'' jawab Beni terkekeh.
''Memangnya papa monster ya mah, kok kata om Beben papa ngeri?'' tanya Arka polos.
''Eh, bukan-bukan!'' sergah Beni.
''Hahahah syukurin lu, ntar dilaporin ke bapaknya tau rasa!'' ejek Naya pada Beni.
''Ampun bos kecil, om Beben cuma bercanda tadi.'' ucap Beni.
''Makanya kerja yang bener kamu!'' sambung Daisha.
__ADS_1
''Gaes, pulang kerja sepertinya kita harus merayakan keberhasilan temen kita ini deh. Dan hari ini juga hari terakhir aku masuk kerja. Kita kumpul-kumpul, yuk?'' ajak Naya.
''Ntar malam ke rumah ibu aja gimana? Udah seminggu ini aku nggak pulang ke rumah ibu.'' kata Daisha.
''Arka ikut ya Ma ke rumah eyang Rahayu!'' seru Arka.
''Iya, sayang. Tapi harus minta izin papa kamu dulu ya.'' jawab Daisha.
''Siap, bu bos.'' jawab Arka tersenyum jahil.
''Cieeeee bu bos!'' ejek Naya.
''Udah lampu ijo tuh, neng Shasha!'' sambung Beni terkekeh.
''Berisik! Sana pada kerja lagi yang bener, sebentar lagi udah hampir jam dua nih.'' kata Daisha mengingatkan.
''Bareng dong neng, Shasha.'' ucap Beni mengikuti Daisha dari belakang.
''Oh, iya lupa. Sekarang kan ruangan kerja kamu di deket ruangan Pak Rendi, ya?'' kata Daisha.
''Kita duluan ya, Nay. Ntar malam kabarin lagi. Bye!''
Daisha berjalan bersama Beni dengan menggandeng tangan kecil Arka di sebelah kanannya. Sepanjang mereka berjalan menuju ruangan atas, berbagai tatapan tertuju ke arah mereka, tatapan yang seolah sedang melucuti dengan berbagai gunjingan dan praduga di dalamnya. Namun, mereka bertiga berjalan santai bak sedang berada di sebuah catwalk dan tatapan-tatapan itu sebagai sebuah sorak tepuk tangan.
''Neng Shasha, abang ke ruangan abang dulu ya. Kalau butuh sesuatu hubungi abang.'' ucap Beni.
''Harusnya kamu ngomong gitu ke pak bos, bukan ke aku.''
''Bentar lagi kan neng Shasha bakalan jadi istri pak bos.'' ucap Beni.
Tok tok tok.
Daisha mengetuk pintu ruangan Rendi. Namun, tak ada jawaban dan kosong.
''Lho, papa kamu kemana ya Arka?''
''Arka nggak tau, ma.''
''Oh, mungkin masih di luar.'' ucap Daisha melirik jam tangannya yang belum menunjukkan pukul dua.
Saat Daisha sedang menemani Arka bermain mobil-mobilan, tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar. Beberapa orang dengan pakaian formal nan rapi memasuki ruangan Rendi. Daisha begitu terkejut melihat kedatangan orang-orang itu. Tak selang berapa lama, Rendi pun ikut masuk ke dalam ruangan bersama Beni, sang asisten. Ketiga perempuan itu tertunduk berjejer di depan meja Rendi.
''Arka, kamu ikut om Beni dulu ya. Papa mau ngobrol dulu sebentar sama mama Daisha.'' kata Rendi mendekati putranya.
''Oke, pa. Ayo om Ben!'' ajak Arka yang sudah akrab dengan Beni.
''Oke, bos kecil. Kita beli es krim dulu.'' ucap Beni menggendong bos kecilnya tersebut.
Setelah kepergian Arka dan Beni dari ruangan, suasana kembali hening.
''Kenapa masih diam saja!'' bentak Rendi pada ketiga perempuan di hadapannya.
''Tunjukkan lagi sikap congkak kalian seperti saat kalian menghina Daisha tadi!''
Daisha diam-diam mulai mengerti kenapa tiga perempuan ini berada di ruangan Rendi. Rupanya sedari tadi Rendi mengikuti langkah Daisha ketika menuju kantin, dan tanpa sengaja ia mendengar semua perkataan ketiga perempuan itu.
''Kalian saya gaji di sini untuk bekerja, bukan untuk menggunjing atau memfitnah orang lain!'' ucap Rendi tegas.
__ADS_1
''Ma maafkan kami, pak.'' ucap perempuan berambut sebahu dengan terbata.
''Kenapa minta maaf pada saya? Minta maaf lah pada Daisha!''
Ketiga perempuan tadi kembali tertunduk semakin dalam dan saling beradu tangan untuk meminta maaf.
''Maafkan kami Daisha, kami tidak akan mengulanginya lagi.'' ucap perempuan tadi dengan berat hati.
''Iya, aku udah maafkan kalian kok.'' jawab Daisha bijak.
''Segera kemasi barang-barang kalian dan tinggalkan kantor ini.''
''Keluar!'' ucap Rendi.
''Ba baik, Pak. Kami permisi.'' ketiga perempuan itu saling berebut untuk segera keluar meninggalkan ruangan atasannya itu.
''Pak?'' tanya Daisha penuh tanda tanya.
Sebenarnya, selain mereka bertiga telah memfitnah dan menyebarkan gosip tentang Daisha, mereka juga yang menyebabkan kecelakaan kerja yang Daisha alami beberapa waktu lalu. Mereka bertiga sengaja merusak rak kayu yang biasanya akan Daisha bersihkan dengan tujuan untuk menyingkirkan Daisha dari kantor ini. Namun naas, rak kayu itu hampir saja menimpa Arka yang sedang berjalan dan beruntung waktu itu putranya selamat dari runtuhan rak kayu.
''Ternyata mereka jahat banget, ya?'' tanya Daisha.
''Hm.''
''Kok bapak bisa tahu sih, kejahatan mereka selama ini. Bapak benar-benar suhu!'' puji Daisha dengan mengangkat jempol tangannya.
''Tapi kenapa mereka begitu membenci dan ingin menyingkirkan saya dari kantor ini, ya Pak?'' tanya Daisha heran.
''Karena kamu cantik.'' ucap Rendi tanpa sadar.
''Apa pak? Bapak tadi ngomong apa?'' tanya Daisha berjalan mendekati Rendi.
''Nggak, saya nggak ngomong apa-apa.'' kilah Rendi.
''Bapak ngaku, deh. Bapak tadi bilang saya cantik, kan?''
''Nggak!''
''Pokoknya saya denger tadi bapak ngomong kalau saya cantik!'' seru Daisha.
''Jangan ge-er kamu!''
''Bapak lucu deh kalau lagi salah tingkah gini, gemesin.'' ucap Daisha terkekeh.
''Diem kamu!'' jawab Rendi sebal.
''Hahaha bapak bisa salah tingkah juga ya ternyata.'' ucap Daisha tertawa.
''Oh, iya pak. Nanti malam saya mau izin ke rumah ibu ya, Pak. Udah lama saya nggak pulang menjenguk ibu. Dan, nanti Arka juga mau ikut ke rumah ibu katanya. Boleh kan, pak?'' tanya Daisha.
''Saya ikut.'' jawab Rendi singkat.
''Hah? Bapak mau ikut juga?''
''Kenapa? Nggak boleh?'' tanya Rendi.
''Boleh kok pak, boleh banget.'' jawab Daisha kikuk.
__ADS_1