Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Hilang


__ADS_3

Sabtu pagi ini langit berawan dan turun hujan. Tidak begitu deras, tetapi tidak​ juga gerimis. Riuh air yang menerpa tanah berselimut rumput hijau di halaman seolah memberi aroma kenikmatan bagi indra penciuman. Kicauan burung pun tak terdengar. Mungkin sedang berteduh sambil menikmati suasana pagi gerimis dengan duduk manis di atas sarangnya. Mungkin juga sekarang jatahnya gemuruh guntur yang unjuk suara.


Hujan seakan-akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan kehidupan manusia. Kekuatan itu juga mungkin yang membuat suasana hujan, terutama di pagi hari, terasa menyenangkan untuk dinikmati sembari sejenak rehat dari kesibukan dengan menikmati pemandangan bulir air yang turun dari langit berselimut putih awan.


Setelah membersihkan diri dan melawan rasa nyaman dibalik selimut putih hangat itu, Daisha segera beranjak ke kamar Arka guna melihat anak majikannya tersebut. Tak ingin membangunkan pemilik kamar itu, Daisha membuka pintu dengan perlahan. Ia juga membuka tirai jendela kamar dengan hati-hati untuk membiarkan sedikit cahaya masuk ke ruangan bernuansa biru putih itu.


Perlahan mata anak lelaki itu mengernyit beradaptasi dengan kilauan cahaya yang masuk menembus kamar.


''Pagi mama.'' ucapnya khas dengan suara orang bangun tidur.''


''Eh, anak mama sudah bangun ya.'' Daisha berjalan menghampiri ranjang yang Arka tiduri.


''Mama!'' panggil Arka.


''Iya sayang, mama di sini.'' jawab Daisha.


''Hari ini kita jalan-jalan yuk ma.''


''Jalan-jalan kemana sayang? Ini kan masih pagi, lagi pula di luar juga hujan.''


''Tapi Arka pengen jalan-jalan ke mall, ma.'' ucap Arka dengan mata memohon.


''Em, kita tanya papa kamu dulu ya.'' jawab Daisha memberi solusi.


''Oke, mama.''


Setelah melalui perundingan yang cukup sengit antara keluarga kecil itu, akhirnya diputuskan hari ini untuk pergi jalan-jalan sesuai dengan permintaan Arka setelah hujan reda nanti.


''Kalian mau kemana? Hari libur gini kok sudah rapi sekali?'' tanya tante Maya yang sedang bersantai di ruang tv.


''Arka ingin jalan-jalan ke luar, tante.'' jawab Daisha sopan.


''Oh, gitu. Kalau tante lihat, kalian ini sudah seperti keluarga betulan saja.'' ucap tante Maya terkekeh.


Uhuk!


''Kamu kenapa, Ren?'' tanya tante Maya panik melihat keponakannya seperti tersedak.


''Nggak apa-apa tante.'' jawab Rendi di sela batuknya.


''Bapak nggak apa-apa?'' tanya Daisha ikut menepuk lembut punggung atasannya itu.


''Enggak.'' jawab Rendi berjalan terlebih dulu.


''Kalau begitu, kami pamit dulu ya tante.''


''Arka, ayo pamit dulu sama oma Maya.'' ucap Daisha menggandeng Arka.


''Arka pergi dulu ya, oma. Bye, oma!'' ucap Arka.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju sebuah plaza yang cukup terkenal di kota X, Daisha tak henti-hentinya mengajak Arka untuk sekedar bercerita dan bernyanyi-nyanyi bersama.


''Arka, mau buat pesawat kertas lagi?'' tanya Daisha.


''Mau, ma!'' jawab Arka antusias.


''Kita tulis dulu harapan kita di sini ya.'' ucap Daisha menyerahkan pena pada Arka.


''Sudah selesai?'' tanyanya.


''Sudah, ma.''


Sepasang ibu dan anak itu duduk di bangku belakang dan asyik bermain pesawat kertas yang mereka buat.


''Boleh mama baca permohonan Arka?'' tanya Daisha.


''Boleh.'' jawab Arka.


Perlahan Daisha membuka tulisan itu dan ia terkejut membaca isi pesan itu.


''Semoga papa dan mama menikah.'' eja Daisha pelan.


Ciiittt!


''Bapak gimana sih nyetirnya!'' ucap Daisha memeluk Arka agar tidak terjatuh.


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi telah memasuki area parkir.


''Kita mau main apa dulu sekarang?'' tanya Rendi pada putranya.


''Kita main game, pah!'' jawab Arka.


''Sesuai perintah, yang mulia.'' sambung Rendi mengiyakan permintaan putranya.


Berbagai macam permainan mereka mainkan dengan begitu seru. Mulai dari bermain tembak-tembakan hingga bermain Bom-bom Car pun mereka coba bersama.


''Ayo, kita kalahkan papa!'' seru Daisha yang kini sudah bersiap dibalik kemudi sebuah mobil-mobilan berwarna biru yang duduk di samping Arka.


''Ayo!'' seru Arka bersemangat.


''Siapa takut!'' jawab Rendi santai.


Saat ini, mereka bertiga sedang menikmati menu-menu maka siang yang di jajakan di sebuah cafetaria di lantai atas untuk mengganjal rasa lapar yang mendera setelah lelah bermain.


''Sayang, mama ke toilet sebentar, ya. Arka tunggu di sini aja sama papa, mama cuma sebentar.''


''Pak, saya ke toilet sebentar ya.'' pamit Daisha.


''Hm.''

__ADS_1


Tak selang waktu lama, sebuah panggilan penting terhubung ke ponsel Rendi.


''Papa angkat telepon sebentar ya sayang.''


''Iya, pa.''


Karena suasana yang sedikit bising, Rendi pun sedikit berjalan menjauh dari tempat itu untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk di ponselnya.


''Lho, Arka sama Pak Rendi kemana?'' ucap Daisha setelah kembali dari toilet. Kemudian pandangan matanya pun menangkap sosok majikannya yang sedang berjalan sendirian ke arah meja yang mereka tempati tadi.


''Arka kemana?'' tanya Rendi.


''Kok bapak tanya saya? Harusnya saya yang tanya sama bapak dimana Arka. Tadi kan Arka sudah saya titipkan sama bapak.'' ucap Daisha mulai panik.


''Tadi Arka di sini, saya terima telepon sebentar eh sekarang nggak ada.'' jawab Rendi.


''Bapak gimana sih! Bapak kan udah saya bilang tunggu di sini untuk jagain Arka. Kenapa bapak malah pergi. Kalau sampai Arka kenapa-kenapa, bapak harus tanggung jawab!''


''Kamu nyalahin saya?'' protes Rendi.


''Iya!'' jawab Daisha dengan mata memerah menahan air matanya agar tidak tumpah.


''Sudah-sudah! Sekarang kita cari Arka!''


''Arka, kamu dimana nak?'' tanya Daisha disela isak tangisnya.


''Ini semua gara-gara bapak Arka jadi hilang. Ya Allah, jaga dan lindungi Arka dimana pun ia berada.'' ucap Daisha dengan air mata yang menetes di pipinya.


Rendi yang panik pun sejenak menatap haru pada Daisha, ia melihat raut muka ketulusan di sana. Ia tidak menyangka jika perempuan di hadapannya ini ternyata benar-benar tulus menyayangi putranya.


''Kamu diam dulu! Jangan bikin saya makin panik. Kita ke ruangan cctv untuk mencari keberadaan Arka.'' ucap Rendi menggandeng tangan Daisha dengan erat.


Setelah berbicara dengan beberapa petugas keamanan di sana dan meminta mereka untuk mencari keberadaan putranya, Rendi pun menuju ruangan cctv di plaza itu. Setelah menjelaskan kepada petugas, ia pun diperbolehkan untuk melihat tayangan cctv yang ada. Langkah ini ia tempuh karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada generasi penerus keluarga Atmaja itu ketika melakukan pengumuman kehilangan dengan pengeras suara dari pusat informasi.


Puluhan titik cctv terpasang di sudut bangunan. Dengan dibantu oleh petugas yang sedang berjaga, matanya jeli memandang tiap sudut layar lebar yang terpampang di sana.


''Ketemu!'' ucap Rendi.


Mendengar ucapan bosnya itu, tangis Daisha pun sejenak berhenti.


''Iya, itu Arka.'' ucap Daisha sedikit lega setelah menemukan keberadaan Arka.


''Segera perintahkan petugas keamanan untuk mengikuti putra saya dari jarak yang cukup aman, dan tunggu saya sampai di sana!'' ucap Rendi pada salah satu anak buahnya.


''Baik, bos.''


''Syukurlah.'' ucap Daisha lega melihat putranya baik-baik saja.


''Ayo kita hampiri Arka. Kamu jangan menangis lagi.'' ucap Rendi menghapus sisa-sisa air mata di wajah pengasuh putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2