
Sudahkah aku memberitahu padamu, betapa besar arti dirimu kepadaku, sudahkah aku memberitahu padamu, tentang semua kebahagiaanku saat bersamamu? Sudahkah aku memberitahu padamu, bahwa kamu adalah hal paling berarti padaku di dunia ini? Jika aku belum pernah memberitahumu, aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada diriku. Kau mengajariku mengeja alam untuk merangkai bait kehidupan. Genggamanmu begitu hangat menyentuh tanganku.
Ia biarkan tubuhnya ditarik dari luar dan hinggap sempurna dalam pelukan tubuh pria yang hangat itu. Hujan kian mengendur. Hujan kian menyusut. Cukup lama mereka berdua larut dalam pelukan yang begitu hangat, hingga Daisha melepas pelukannya dari tubuh Rendi.
''Terima kasih.'' ucap Rendi.
''Untuk semuanya.'' tambahnya.
Daisha pun tersenyum dan mengangguk pelan.
''Tidurlah, sudah malam.'' ucap Rendi tersenyum dan membelai lembut wajah ayu milik Daisha.
...ΩΩΩ...
Pagi ini mentari bersinar cerah, semilir angin berhembus lirih, menggerakkan daun-daun yang bergesekan dengan santun.
''Selamat pagi.'' ucap tante Maya yang sudah duduk di meja makan dan mengoleskan selai coklat di rotinya.
''Pagi.'' jawab Rendi.
''Pagi, oma.'' jawab Arka yang baru saja bergabung dan duduk di sebelah papanya.
''Ayo kita mulai sarapannya.'' ucap tante Maya.
''Arka, kamu mau sarapan dengan sandwich atau nasi goreng udang, nak?'' tanya Daisha.
''Nasi goreng saja ma.'' jawab Arka.
''Oke. Ayo lekas di makan mumpung masih hangat.''
Rendi memperhatikan Daisha yang tengah sibuk melayani putranya untuk sarapan.
''Bapak mau nasi gorengnya juga?'' tanya Daisha merasa diperhatikan.
''Enggak.''
''Memangnya kenyang ya pak cuma makan kaya gitu doang?'' tanya Daisha heran yang melihat Rendi hanya memakan sebuah apel merah.
''Mau coba?'' tanya Rendi.
''Nggak, pak. Saya makan ini aja, kata orang mah kalau belum makan nasi namanya belum makan.'' ucap Daisha.
''Yang penting itu manfaatnya.'' jawab Rendi.
''Ya nggak juga dong pak. Perut kenyang hati pun baru senang.'' jawab Daisha tak mau kalah.
''Arka, aku dukung papa atau mama?'' tanya Daisha.
''Arka dukung papa dan mama saja biar adil.'' jawab Arka dengan mulut penuh sesuap nasi goreng.
''Kalian ini ada-ada saja, udah tua juga masih berdebat.'' sambung tante Maya ikut menimpali perdebatan di meja makan itu.
''Mohon maaf tante, saya masih muda.'' protes Daisha.
Suasana sarapan pagi itu pun terasa begitu ramai dan hangat. Hingga sebuah suara ketukan sepatu yang berbaur dengan lantai dari ruang depan pun terasa semakin terdengar. Nampak sosok laki-laki tampan masuk ke dalamnya.
''Good morning everyone.'' sapa Beni.
''Ya ampun, Ben. Udah sampai sini aja kamu.'' ucap Daisha.
''Kenapa? Kangen ya sama abang Beni?'' tanya Beni.
''Dih, pede boros.'' jawab Daisha.
''Baru juga ayam selesai berkokok, udah rapi bener.'' sambung Daisha.
__ADS_1
”Ngomong-ngomong soal ayam berkokok, tahu tidak, kenapa ayam waktu berkokok matanya selalu merem?” tanya Beni yang ikut mendudukkan di ruang makan itu. Semua orang pun terdiam.
”Bukankah memang sudah tabiatnya begitu?” tanya tante Maya merasa heran.
”Ya salah dong tante. Ada alasan tersendiri sebenarnya.” jawab Beni dengan manggut-manggut.
''Ada yang tau nggak?''
''Karena ayam bisanya cuma berkokok doang om Ben.'' jawab Arka.
''Salah!''
''Mau tahu?'' tanya Beni.
''Apa? Awas kalau nggak lucu. Potong gaji!'' sambung Daisha.
''Buset, sadis bener bu! Mentang-mentang udah ehem sama pak bos main ngancem-ngancem sekarang.'' kelakar Beni.
Daisha pun melotot ke arah Beni.
”Mau tahu? Karena ayam sudah hapal teksnya.” jawab Beni terkekeh.
''Kamu itu ada-ada saja, Ben.'' jawab Tante Maya.
Mereka pun tertawa bersamaan.
''Segera selesaikan sarapannya, saya antar kalian.'' ucap Rendi.
''Terus fungsinya saya di suruh ke sini apa bos?'' tanya Beni bingung.
''Udah tau kedatanganmu tidak diharapkan masih aja dateng!'' gurau Daisha.
''Tega bener ih, neng Shasha.'' jawab Beni sok bergaya melow.
''Ya ampun, salah lagi gue!'' ucap Beni menepuk jidatnya sendiri.
Mereka pun kembali tertawa. Suasana sarapan yang begitu hangat ditambah dengan sambutan mentari yang cukup riang pagi ini.
''Kamu pergi ke kantor duluan dan persiapkan materi yang sudah saya kirimkan semalam!'' perintah Rendi.
''Tapi bos?'' tanya Beni.
''Buruan gih berangkat! Keburu terlambat nanti.'' ucap Daisha.
''Iya iya, bos.'' jawab Beni setelah mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.
''Hore! Arka dianterin sama mama dan papa sekolahnya!'' seru Arka.
''Tumben-tumbenan, bapak mengantar Arka sekolah?''
''Memangnya nggak boleh saya mengantar anak saya sendiri berangkat sekolah?'' tanya Rendi.
''Sensi amat, sih pak. Biasa aja dong jawabnya nggak usah ngegas!'' gerutu Daisha.
''Udah mulai berani kamu ya sama saya?'' ucap Rendi.
''Nggak inget yang semalam gimana?'' goda Rendi.
''Bapak apaan sih, orang nggak ngapa-ngapain juga.'' jawab Daisha dengan wajah yang bersemu merah.
''Kok mama mukanya jadi merah kaya gitu?'' tanya Arka.
''Emm, mama gerah sayang. ACnya kurang dingin disini.'' jawab Daisha salah tingkah.
''Kamu lucu kalau lagi salah tingkah gitu.'' ucap Rendi ikut tersenyum tipis.
__ADS_1
Arka pun mengamati kedua orang dewasa di dekatnya itu. Ia pun ikut tersenyum dan bersorak senang di dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah Arka, tawa canda selalu menghiasi wajah mereka.
''Papa, nanti pulang sekolah papa jemput Arka lagi kan?'' tanya Arka.
''Iya, jagoan. Nanti papa jemput kamu.''
''Terus saya ngapain, pak?'' tanya Daisha. Pasalnya sekarang Arka sudah berani untuk sekolah sendiri, tidak perlu ditunggui seperti awal masuk sekolah dulu.
''Kamu ikut saya!'' jawab Rendi.
''Kemana pak?''
''Nggak usah banyak tanya.'' jawab Rendi datar.
''Mulai kambuh deh nyebelinnya!'' gerutu Daisha.
Setelah mengantarkan Arka masuk ke kelasnya, Daisha dan Rendi pun segera melanjutkan perjalanan mereka.
''Kita mau kemana sih pak?''
Rendi pun hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
''Bapak tuh nyebelin tau nggak!''
''Iyakah?'' tanya Rendi sedikit mengangkat sudut bibirnya.
''Iya! Nyebelin banget! Banget!'' ucap Daisha kesal.
''Tapi kamu suka kan?''
''Bapak ih. Sejak kapan bapak jadi pinter gombal dan modus kaya gitu? Biasanya juga kaku banget kaya kanebo kering.'' tanya Daisha keheranan.
''Sejak kenal kamu.'' jawab Rendi.
''Saya nggak pernah ya ngajarin bapak buat modus, saya itu kan orangnya tulus.''
''Bapak kenapa sih ngelihatin saya terus?'' protes Daisha. Sejujurnya ia merasa canggung terus diperhatikan oleh bosnya itu.
''Mau sampai kapan kamu manggil saya bapak? Memangnya saya bapak kamu?''
''Ya bukan sih, pak. Tapi kan bapak itu calon bapak dari anak-anak kita.'' gurau Daisha terkekeh.
''Aamin.'' jawab Rendi lirih.
''Bercanda, pak!'' ralat Daisha.
''Terus saya harus panggil apa dong?''
''Ya selain itulah!'' protes Rendi.
''Abang, akang, mang, aa', mas, uda atau om aja kali ya?'' gurau Daisha.
''Memangnya saya sudah setua itu sampai kamu panggil om?'' ucap Rendi tak terima.
''Om itu ada kepanjangannya sendiri kali pak.''
''Hmm?''
''Om, terdiri dari huruf O dan M. O artinya Otak, dan M artinya Mesum!'' kelakar Daisha.
''Awas kamu ya!'' ucap Rendi gemas.
''Hahahah.. bercanda pak!''
__ADS_1