Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Datang kembali


__ADS_3

Berjalan dalam kabut malam, jalan berliku tidak ada habisnya. Kemudian malam melanjutkan tugasnya, kosong dari segala perasaan.


Dalam sekejap pemberitaan yang menggegerkan publik yang mencuat beberapa waktu lalu antara dirinya dan sang majikan dapat diredam dengan cepat. Berkat tangan-tangan ajaib ditambah dengan relasi yang tak main-main, gosip itu pun dengan cepat lenyap dan menguap. Ada perasaan lega di hati Daisha kala mendapati kabar baik itu. Namun, mengapa ia merasa tidak baik-baik saja? Di relung hatinya seolah merasakan suatu pergolakan dan penolakan. Lagi-lagi dengan tegas, sang majikan memastikan bahwa hubungan mereka hanya murni rekan kerja dan tidak akan lebih. Hanya rekan kerja? Ya, memang benar itu kenyataannya.


Daisha terdiam dengan tarikan nafasnya yang terasa berat, seakan dadanya dihimpit oleh sekian kiloan benda berat. Kemudian ia berputar membalikkan tubuh, membelakangi hamparan malam berbintang dan rembulan yang bertengger gagah. Kini ia bersandar di pagar pembatas diujung balkon kamar yang ia tempati. Hatinya mendadak pilu. Ia merasa selama ini sudah tertipu oleh hati dan angannya sendiri. Dalam hati yang sedikit berdesir, ia segera menepis perasaan itu.


Daisha menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri sambil tersenyum. Seakan menertawakan kebodohannya yang tidak tanggap keadaan dan hatinya yang tiba-tiba saja menjadi lemah dan terbuai atas kebaikan yang ditawarkan sang majikan. Siapakah orangnya yang mampu menepis datangnya rasa suka pada seseorang?


Sementara itu mentari telah berada beberapa jengkal di atas garis ufuk Timur. Kehidupan hari ini berawal dari setitik cahaya minggu pagi. Kemudian, merayap dan menyebar hingga memenuhi seisi dunia. Bertarung melawan kemalasan dan keputusasaan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi besar yang berhasil. Dan hari minggu adalah waktu terbaik untuk mengisi ulang kembali kekuatan untuk mencapai itu semua.


Setelah mendapatkan izin dari bos kecil, akhirnya Daisha memutuskan untuk pulang mengunjungi ibunya. Sejenak menenangkan kembali hati dan pikirannya. Memfokuskan kembali tujuan awalnya. Ia menyibukkan diri dengan membersihkan rumah, menonton film, hingga menemani sang ibu berbelanja ke pasar sebelum subuh tadi. Kebetulan karyawan ibu sudah cukup mumpuni dalam membantu membuatkan pesanan para pelanggan. Jadi ia bisa sedikit merebahkan tubuhnya untuk rehat sejenak.


Di sisa waktu hari liburnya sebelum senja tiba, Daisha memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling kota dan menuju sebuah pusat perbelanjaan untuk menyambangi toko buku favoritnya. Ia ingin membeli sebuah buku yang telah lama ia nantikan cetak terbitnya.


Daisha berjalan dengan mata dan jarinya yang bekerja sama menyusuri setiap tatanan buku dalam rak yang tersusun rapi. Setelah mencari beberapa saat, ia berhasil menemukan buku yang ia cari.


''Ketemu!'' soraknya senang namun sesaat kemudian perasaannya melemas. Ia kalah cepat dengan seseorang yang berdiri di sampingnya yang sigap mengambil lebih dulu buku incarannya itu.


''Cari buku ini juga?'' tanya lelaki itu sambil menunjukan sebuah buku bersampul merah hati digenggaman tangan kanannya.


Sejenak mata kami saling bertemu dan saling bertatapan dalam diam. Tanpa aba-aba ingatan kembali memutar kenangan yang terjadi di waktu lalu.


''Daisha?'' ucapnya dengan raut wajah yang nampak terkejut.


''Hai, apa kabar?'' tanyanya kembali.


Belum juga kesadarannya kembali dari kepingan ingatan dari masa lalu, suara lelaki itu kembali membuyarkan pikirannya.


''Udah lama banget kita nggak ketemu. Gimana kabar anak-anak?'' tanyanya lagi.


''Ba baik. Anak-anak semua baik.'' jawab Daisha terbata. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


''Kamu nggak berubah, masih seperti dulu.'' ucap lelaki itu.

__ADS_1


''Kamu sendiri apa kabar?'' tanya Daisha setelah bersusah payah mengumpulkan dan mendapati kembali kesadarannya.


''Kita ngobrol di sana aja yuk, biar lebih nyaman.'' tunjuk lelaki berperawakan tinggi pada sebuah cafe di seberang toko buku.


''Mau pesan apa?''


''Apa saja.'' jawab Daisha.


Setelah menyerahkan pesanan pada barista, lelaki itu kembali membuka pembicaraannya.


''Lama nggak ketemu kamu jadi sedikit pendiam ya sekarang?'' guraunya. Daisha pun hanya tersenyum memberi jawaban.


Setelah beberapa saat, seorang barista datang membawa beberapa pesanan dalam tangannya. Daisha mengernyit melihat hidangan yang tersaji di hadapannya. Seporsi klappertaart bersanding dengan onion ring dan segelas jus mangga yang nampak menggugah selera penghuni perutnya tersaji di mejanya.


''Makanan favoritmu kan?'' ucap laki-laki dihadapannya seolah tahu isi kepala Daisha.


''Terima kasih.'' jawab Daisha.


''Sha, aku minta maaf jika saat itu aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada kalian.''


''Aku sudah menyelesaikan kuliahku dan sekarang aku akan menetap lagi di sini.'' ucapnya lagi.


''Apa kamu tidak senang bertemu denganku lagi?'' tanyanya.


''Tentu saja senang, mana mungkin bertemu kembali dengan TEMAN lama yang sudah lama pergi tidak senang.'' jawab Daisha dengan menekankan kata teman yang ia ucapkan.


''Kamu masih seperti dulu.'' ucap lelaki itu dengan tersenyum.


''Bagaimana kabar orang tuamu?'' tanya Daisha.


''Baik, sangat baik.'' jawabnya.


''Syukurlah.'' ucap Daisha.

__ADS_1


''Aku juga mau minta maaf atas semua sikap dan ucapan mommy aku yang dulu udah nyakitin kalian, terutama aku mau meminta maaf sama kamu.''


''Sudahlah, semua sudah berlalu. Lagi pula memang begitu kan kenyataannya.'' jawab Daisha datar.


''Aku benar-benar minta maaf. Seandainya waktu bisa ku putar kembali, aku ingin menebus kesalahanku dulu dan tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu.'' ucap lelaki itu dengan penuh penyesalan.


''Tidak, kamu tidak perlu melakukan itu.'' jawab Daisha.


Saat Daisha ingin melanjutkan ucapannya, sebuah panggilan terdengar memecah suasana ketegangan di mejanya.


''Mama!''


Daisha pun menolah ke arah sumber suara yang tak asing baginya.


''Arka? Kok kamu bisa di sini sayang?'' tanya Daisha menghampiri Arka.


''Arka baru saja beli mainan, mah.'' ucap Arka sembari menunjukan sebuah miniatur pesawat terbang keluaran terbaru.


''Pesawat terbang?'' tanya Daisha dan dijawab anggukan oleh Arka.


''Ternyata kamu di sini.'' ucap Rendi yang juga ikut menghampiri.


''Iya, pak. Tadi abis mencari buku dan nggak sengaja ketemu temen lama jadi mampir dulu di sini.'' terang Daisha menjelaskan. Ia tidak ingin terjadi suatu kesalahpahaman dengan bosnya.


''Mah, ayo kita pulang sekarang!'' rengek Arka dengan tatapan tak suka pada sosok laki-laki yang duduk bersama dengan Daisha.


''Sebentar ya sayang, mama harus pamit dulu sama teman mama.'' jawab Daisha.


''Ayo, ma! Ayo!'' rengek Arka.


''Alvin, aku harus segera pulang. Terima kasih atas traktirannya. Aku pergi duluan ya, permisi.'' pamit Daisha.


''Lain kali, boleh kita bertemu kembali?'' tanya lelaki itu.

__ADS_1


''Tentu saja.'' jawab Daisha dan berlalu.


Alvin, teman lama Daisha. Ia hanya diam mematung menyaksikan 'sahabat' lamanya itu berjalan semakin menjauh meninggalkan tempatnya berdiri. Pandangannya tak sedikitpun berpaling dari wanita yang berjala bersama dengan seorang anak laki-laki dan seorang lelaki dewasa disampingnya. Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Alvin tentang sosok Daisha dan apa yang telah terjadi di kehidupannya yang sekarang.


__ADS_2