Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
I'm okay


__ADS_3

Daisha berjalan mengikuti langkah kaki Alvin dari bekalang. Berkali-kali ia menggosok lengannya sendiri guna sedikit meredam hawa dingin yang begitu mencekal.


''Kamu kedinginan ya, Sha?'' tanya Alvin.


''Hm, dingin banget di sini.'' jawab Daisha apa adanya.


Perlahan Alvin melepas syal yang menyelimuti lehernya dan mengalungkan ke leher Daisha.


''Nggak usah, Al. Nanti kamu juga kedinginan.'' cegah Daisha.


''Nggak apa-apa, yang penting kamu jadi sedikit merasa hangat.''


''Makasih, Al.'' jawab Daisha tersipu.


''Sha..'' ucap Alvin menggenggam tangan Daisha dan menggosokkan dengan permukaan tangannya.


''Ya?'' jawab Daisha.


''Sebenarnya udah lama ada yang pengen aku omongin sama kamu, tapi aku rasa sekarang waktu yang tepat.''


Degup jantung Daisha mulai berdebar tak berirama. Beginikah rasanya berada dekat dan mendapat perhatian lebih dari seseorang laki-laki idaman? Semburat rona merah semakin menghiasi pipi wajah ayunya. Daisha tak dapat lagi menyembunyikan rasa bahagianya. Selama ini, berada dalam diam dan memilih untuk memendam perasaannya agar tidak menghancurkan persahabatan mereka yang sudah terjalin kurang lebih seperempat dekade itu.


''Daisha, sebenarnya aku udah suka sama kamu semenjak pertama kita bertemu. Setiap hari hatiku mulai resah dan selalu memikirkan kamu. Salahkah jika aku terlalu mencintaimu saat kita pertama bertemu? Aku juga tahu kalau kamu selama ini diam-diam memperhatikan aku bukan?'' ucap Alvin.


''Sha, maukah kamu menjadi kekasihku?'' ucapnya dengan sorot pancaran mata yang mulai menuntut.


Daisha kembali terdiam, seolah bibirnya terkunci atas pernyataan cinta yang baru saja Alvin ucapkan. Daisha mulai memikirkan semua kata yang Alvin ucapkan. Apakah semua ini yang dinamakan cinta? Ataukah semua ini hanya rasa kasmaran belaka? Daisha akui, parasnya yang menawan sudah memikat hati Daisha sejak pertama kali mereka bertemu.


Daisha mengangguk seolah mengiyakan pernyataan cinta yang Alvin berikan.


''Benar kamu mau menjadi kekasihku?'' tanya Alvin bahagia. Daisha pun kembali mengangguk dan semakin menundukkan kepalanya.


''Terima kasih, Sha. Terima kasih.'' ucap Alvin memeluk Daisha dengan erat.


Pandangan mereka mulai bertaut. Daisha membalas senyuman yang Alvin berikan. Alvin memperlakukannya dengan baik hingga Daisha merasa sangat bahagia bersama lelaki itu. Tatapan lelaki itu seakan membelenggunya hingga dia tak mampu mengalihkan pandangan matanya. Sebenarnya saat Alvin memintanya untuk menjalin hubungan, Daisha seolah tidak dapat berpikir panjang dan langsung menerimanya. Terlalu terbawa suasana hingga menepis kenyataan bahwa jawabannya akan berdampak besar bagi hubungan keduanya.


Bibir daisha mulai melengkung membentuk sebuah senyuman yang begitu menghipnotis.

__ADS_1


Hanyut dalam perasaan yang membuncah berteman kabut pagi yang mulai turun, sedikit membuat sesuatu yang lain dari dalam diri Alvin seakan memberontak.


Secara perlahan, Alvin segera menyambar bibir merah muda yang selalu menggodanya untuk ia cicipi, menautkan bibir mereka dan menyatu dalam kecupan. Sejenak Daisha terbawa akan suasana itu. Namun, akal sehat telah menuntunnya kembali.


''Stop, Al. Ini nggak bener.'' ucap Daisha menjauhkan sejengkal wajahnya dari Alvin.


''Kenapa Sha? Kamu juga menyukainya bukan?'' ucap Alvin dengan suara yang mulai berat.


''Enggak! Ini semua salah!'' ucap Daisha yang hendak pergi dari tempat itu namun berhasil dicegah oleh Alvin.


''Jangan munafik, aku tahu jika kamu juga menginginkannya!''


''Enggak!'' ucap Daisha memberontak.


Merasa mendapat penolakan, dengan cepat Alvin membawa tubuh Daisha menuju sebuah kamar yang tak jauh dari balkon itu. Berkali Daisha memberontak mencoba melepaskan jeratan Alvin, namun tenaganya tak sebanding dengan cengkraman tangan Alvin.


''Diam!'' gertak Alvin yang mulai diliput gairah dan hawa nafsunya.


''Lepas! Kamu gila, Al!'' ucap Daisha berteriak dan mulai menitikkan air matanya. Dalam hati ia berdoa kepada Tuhan untuk membantunya lepas dari terkaman lelaki yang semula begitu ia dambakan itu.


Semakin Daisha memberontak, semakin kuat pula cengkraman yang Alvin berikan.


Mendengar suara gaduh dari lantai bawah, Beni yang baru saja terbangun karena baru saja buang air kecil, langsung menuruni anak tangga dan berjalan menuju arah sumber suara. Matanya terbelalak tak percaya melihat kejadian di hadapannya. Dengan cepat ia menarik dan melempar tubuh Alvin hingga terjungkal ke lantai.


''Anj*ng loe!'' teriak Beni kesetanan sambil menghajar Alvin hingga babak belur.


''Ampun, gue nggak sengaja! Gue khilaf!'' ucap Alvin di tengah rasa sakitnya menahan bogeman yang Beni berikan.


''Udah, Ben.'' cegah Daisha dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Ia tidak ingin suasananya menjadi semakin rumit dan malah mendatangkan masalah baru bagi mereka.


''Woi! Udah! Kalian apa-apaan sih!'' teriak Naya yang baru saja datang dan memisahkan perkelahian antara Beni dan Alvin.


''Stop!'' teriak Naya.


Perkelahian antar sahabat itupun berhasil dihentikan ketika beberapa penjaga villa milik orang tua Alvin ikut membantu melerai perkelahian dua sahabat itu.


''Gue minta maaf.'' ucap Alvin dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


''Sha, gue minta maaf. Gue bener-bener khilaf tadi!'' mohon Alvin pada Daisha namun Daisha memundurkan langkahnya dan berdiri di balik punggung Beni.


''Jangan pernah anggap kita temen loe lagi! Gue nggak sudi punya temen brengs*k kaya loe!'' ucap Beni membawa Daisha pergi dari tempat itu.


''Loe gila Al! Gue nggak nyangka loe bakal ngelakuin itu sama sahabat gue! Jangan pernah sekalipun loe tunjukkin muka loe di hadapan gue! Gue enek liat muka loe!'' ucap Naya berlalu meninggalkan Alvin yang nampak begitu menyesali perbuatannya tadi.


Beni segera membawa kedua gadis itu pergi meninggalkan villa yang begitu menghadirkan mimpi buruk bagi Daisha. Sepanjang perjalanan pulang, Daisha selalu terdiam dan melamun di balik jendela mobil yang terus melesat menjauh dari tempat itu. Dengan setia, Naya selalu berada di dekat Daisha untuk sekedar menguatkan dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


Waktu berlalu dengan begitu saja. Hubungan persahabatan mereka pun sudah tak seakrab dulu lagi. Alvin terus memohon dan meminta ampunan pada ketiga sahabatnya itu dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Daisha yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan keadaan pun sudah memaafkan kekhilafan yang Alvin lakukan, meskipun ia tidak bisa untuk kembali menjalin persahabatan dengannya seperti dulu.


Kebetulan suasana sekolah saat itu sudah mulai lengang. Saat Daisha baru saja keluar dari gerbang sekolahnya bersama dengan Naya dan Beni, tiba-tiba sebuah mobil mewah menghadang langkah mereka bertiga. Dari balik mobil sedan mewah muncul sesosok wanita berusia sekitar empat puluh lima tahunan dengan gaya bak sosialita mendatangi Daisha.


''Jauhi anak saya dasar perempuan murahan!'' makinya.


''Maksud tante apa?'' tanya Daisha tak mengerti.


''Kamu kan yang sudah menggoda Alvin? Apa mau kamu sebenarnya? Uang, perhiasan, atau mobil?'' ucap wanita itu.


''Tante jangan sembarangan ya kalau berbicara!'' sambung Naya mulai terbawa emosi.


''Kalian orang-orang miskin pasti hanya menginginkan harta bukan? Memalukan!'' ucap wanita paruh baya itu.


''Saya tidak butuh uang anda dan saya tidak pernah sekalipun menggoda anak anda!'' ucap Daisha geram.


''Berapa sih harga tubuh kamu itu sampai kamu rela menyerahkan secara cuma-cuma! Ingat ya, sekali lagi kamu menggoda anak saya, saya tidak segan-segan akan memberi pelajaran sama kamu!'' ucap wanita itu dengan menunjuk-nunjuk wajah Daisha.


''Tante, silahkan pergi dari sini atau saya bisa melakukan sesuatu yang lebih meskipun anda adalah seorang perempuan dan orang yang lebih tua dari saya!'' ucap Beni dengan penuh ketegasan.


''Sangat menjijikan!'' ucap wanita tadi dan kembali masuk ke dalam mobil mewahnya.


''Belagu banget tuh orang! Kesel gue. Udah tau anaknya sendiri yang salah malah nuduh orang lain sembarangan!'' ucap Naya kesal.


''Harusnya gue hajar sampai habis tuh si Alvin waktu itu!'' tambah Beni.


''Harusnya kita laporin juga tuh si Alvin.'' geram Naya.


''Udah guys, lupain aja. Dilaporin polisi juga akan percuma.'' jawab Daisha lirih.

__ADS_1


''Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Sha?'' tanya Naya.


''I'm okay.''


__ADS_2