Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Yang sebenarnya


__ADS_3

Setelah berpakaian rapi namun cukup santai dan nyaman, Daisha dan Arka segera bersiap untuk pergi ke mall yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka menuruni tangga dan mencari keberadaan tante Maya untuk meminta izin.


''Tante Maya kemana, mbok?'' tanya Daisha pada mbok Sum yang sedang membereskan meja makan sisa sarapan tadi.


''Sepertinya tadi mbok lihat nyonya sedang menyiram bunga di taman belakang, mbak.'' jawab mbok Sum.


''Oke, makasih, mbok.''


Kemudian Daisha membawa Arka menuju taman belakang. Dari kejauhan, nampak tante Maya sedang tersenyum menyapa setiap bunga-bunga anggrek berwarna-warni yang bermekaran di sana.


''Oma!'' panggil Arka.


''Eh, cucu oma. Kalian mau kemana kenapa udah rapi begitu? Kok cucu oma nggak berangkat sekolah?'' tanya tante Maya.


''Arka sedang cuti oma.'' jawab Arka.


''Hahaha ada-ada saja kamu ini, memangnya ada ya cuti sekolah.'' jawab tante Maya terkekeh.


''Kami pamit dulu ya tante, Arka ingin bermain ke mall dulu katanya.'' ucap Daisha.


''Baiklah, kalian hati-hati, ya. Tante titip cucu oma yang tampan ini.''


''Iya, tante.'' jawab Daisha.


''Bye oma!''


Tak butuh waktu lama, setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, mereka berdua sampai di sebuah mall yang cukup besar dan ramai. Daisha dan Arka memasuki gedung mall tersebut dengan wajah yang berseri-seri. Suasana mall siang itu cukup tenang, karena kebetulan hari itu belum memasuki akhir pekan.


Dengan langkah santai, Daisha dan Arka berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menuju salah satu arena pusat permainan di lantai paling atas gedung tersebut. Mereka pun segera berhambur masuk arena permainan untuk menjajal setiap permainan yang ada di sana. Tawa riang Arka nampak selalu menghiasi wajah tampannya ketika mereka mencoba berbagai wahana yang cukup menguras tenaga hingga mereka merasa lapar.

__ADS_1


Mereka pun menuju sebuah tempat makan dan memilih kedai makan bernuansa jepang yang berada di mall tersebut. Pandangan mata Daisha menyapu ke setiap tempat duduk di sana, namun saat pandangannya melihat ke sisi sudut kedai makan tersebut dan ia melihat seseorang disana yang juga sedang menikmati makan siang bersama dengan seorang perempuan yang dari penampilannya nampak seusia dengan seseorang yang Daisha kenal di tempat itu. Mata Daisha langsung terpencar ke arah sudut kedai makan itu. Hingga mereka sampai dan memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk kedai.


''Arka kita makan di tempat lain saja bagaimana?'' tanya Daisha.


''Tapi Arka mau makan ramen, ma.'' jawab Arka.


''Baiklah.'' jawab Daisha mengalah.


Setelah itu Daisha segera memesan menu makan siang favorit mereka berdua, yaitu seafood ramen, tempura, dan juga yakitori yang begitu menggugah selera. Daisha dan Arka pun dengan begitu nikmat segera menyantap makanan itu hingga tandas. Hingga suara ketukan sepatu yang berirama cepat yang beradu dengan lantai kedai makan itu langsung memecah kenikmatannya tatkala sedang menyantap makanan di mangkuknya. Langkah kaki itu pun berhenti berderit saat sampai di meja milik Daisha.


''Sudah lama tak berjumpa, rupanya sudah punya anak kamu sekarang. Laki-laki kaya mana yang sudah berhasil kamu rayu? Tak pernah terdengar berita pernikahanmu tau-tau sudah ada anak saja, sangat memalukan.'' ucap seseorang itu dengan sinis.


''Dasar perempuan mur*han. Memang buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Nggak jauh beda dengan p*la*ur itu!'' ucapnya lagi dengan nada yang sangat menyakitkan telinga.


Daisha mencoba menutup telinga Arka dengan kedua tangannya agar tidak mendengar perkataan itu dan memilih untuk mengabaikan ucapan wanita yang berdiri di hadapannya.


''Anak kecil tau apa kamu! Nggak usah belain mama kamu yang picik ini!'' ucap perempuan itu dengan kasar.


''Heh! Kamu ini tuli atau pura-pura tak mendengar? Untung saya bisa menjauhkan anak saya dari perempuan seperti kamu, mau ditaruh dimana muka saya. Bakal malu tujuh turunan kalau Alvin sampai menikahi perempuan seperti kamu!'' ucapnya lagi.


''Dasar mur*h, persis seperti ibu kamu!'' ucapnya kali ini dengan tawa yang seolah merasa jijik melihat Daisha di hadapannya.


Mendengar orang tuanya ikut disebut dan dihina oleh wanita itu, maka habis sudah kesabarannya.


''Maaf tante, saya selama ini sudah berusaha untuk diam karena saya masih menghormati anda sebagai orang yang lebih tua dari saya. Anda boleh mengatai saya dengan kata-kata apapun, terserah anda, dan itu hak anda untuk berbicara! Tapi jangan pernah sekalipun anda menghina orang tua saya! Saya memang orang miskin, tapi saya bersyukur orang tua saya mendidik saya untuk selalu menghormati orang yang lebih tua. Dan juga selalu menomorsatukan etika dan tata krama! Dan, asal anda tau saja, saya tidak pernah sekalipun menggoda Alvin. Harusnya anda tanyakan langsung pada anak tante kejadian yang sebenarnya. Dan tanyakan pada anak anda yang sangat terhormat itu, siapa yang saat itu ingin mencoba untuk melecehkan saya! Beruntung saat itu Tuhan masih melindungi saya dengan mendatangkan seseorang untuk menolong saya dari keadaan itu.'' ucap Daisha.


''Alah, alasan. Itu semua pasti hanya akal-akalan kamu saja!''


''Terserah anda mau percaya atau tidak. Permisi!'' ucap Daisha pergi meninggalkan tempat itu dengan menggandeng Arka.

__ADS_1


''Heh! Kurang ajar kamu! Dasar perempuan murah*an!'' maki perempuan tadi.


''Sudah jeng, sudah. Malu dilihat orang-orang.'' ucap perempuan di sebelah ibu Alvin mencoba menenangkan.


''Hah, kesal betul aku dengan perempuan hina itu!'' ucap ibu Alvin kembali.


''Apa kalian lihat-lihat!'' teriak ibu Alvin pada kerumunan orang di kedai makan itu.


Daisha segera membawa Arka menjauh dari tempat itu. Ia menata kembali nafasnya yang terasa tercekat. Ingatannya kembali pada masa lalu yang begitu ingin ia enyahkan dari pikirannya.


''Mama, mama baik-baik saja kan?'' tanya Arka.


''Iya, sayang. Mama nggak apa-apa kok.'' ucap Daisha mencoba mengatur kembali emosi yang meluap di hatinya.


''Arka telfon papa saja ya untuk menjemput kita pulang.'' ucap Arka.


''Nggak usah sayang, mama udah nggak kenapa-kenapa kok. Mama bisa bawa mobil sendiri, kita pulang sekarang ya.'' ucap Daisha yang sudah nampak tenang.


''Beneran mama bisa nyetir sendiri?'' tanya Arka meyakinkan.


''Iya, sayang.''


''Mama, Arka sayang sama mama.'' ucap Arka memeluk Daisha dengan erat.


''Terima kasih, sayang.'' balas Daisha dengan air mata yang mulai menetes di wajah cantiknya. Sejak tadi, dengan sekuat tenaga ia sudah mencoba untuk menahan hawa panas dimatanya agar air mata yang terasa menumpuk di pelupuk matanya itu tidak terjatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan anak lelaki yang sangat ia sayangi itu. Namun, pertahanannya jebol. Kali ini ia biarkan air mata itu lolos dan jatuh membasahi wajahnya dalam pelukan seorang anak kecil yang bernama Arka.


''Maafkan, mama sayang.'' ucap Daisha di sela isak tangisnya.


''Mama jangan sedih, Arka akan selalu ada untuk mama.'' balas Arka membelai lembut puncak kepala perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2