Pesawat Kertas

Pesawat Kertas
Monolog hati


__ADS_3

Sendiri. Kembali memutar waktu. Engkaulah sandaran saat aku lelah. Namun kini aku tersadar sendiri, merenungi. Hanya mampu terpaku berdiri, menangis meratapi nasib dan menyalahkan keadaan yang membuat luka. Luka dan perih yang begitu menghasutku. Badai angin menghempas merubuhkan kokohnya ragaku. Kala sukma tergoreskan luka. Merekah, meriakkan gelapnya pada mata yang lelah berlinang.


Kompromi. Depresi. Perlahan bangkit lalu kembali menjalani kehidupan seperti sedia kala. Berusaha menyangkal kesedihan yang menimpa dan mencoba berdamai dengan nasib yang tak henti-hentinya mempermainkan hidupnya.


Sungguh perasaan yang membuncah ini sangatlah menggangu. Rasa sakit atas sebuah pengharapan semu telah menghantam jantungnya. Kuatlah diri, bersabarlah hati, tak perlu merisaukannya. Karena Tuhan penulis skenario terbaik dalam hidupmu, keromantisan-Nya akan segera membuatmu terpesona. Tak adakah jawaban yang lebih mudah untuk aku terima?


Berulang kali aku bertanya, berulang kali aku mencari tau, bagaimana ini? Harus bagaimanakah aku? Semua ini meracuni pikiranku, jeritan ini hanya memanggil namanya dan mata ini hanya ingin selalu menatapnya. Risau. Aku tau ini tak baik, aku tau ini tak seharusnya terus ku jadikan sebuah kerisauan. Tapi adakah jawaban yang lebih mudah untuk aku terima? Adakah yang jawaban atas segala resah ini? Sungguh, aku tak menerima jawaban itu, aku merasa ini tak adil dan ini memberatkan hatiku. Namun ternyata ini adalah jawaban dari segala jawaban. Aku terlalu terperdaya atas perasaan ini dan aku telah menutup pandangan. Sadarlah.


Mungkin di akhir kisah ini, aku telah meninggalkan cerita yang cukup pilu. Mungkin akan ada impian yang redup di sana atau harapan yang tiba-tiba pupus. Namun cinta adalah perlawanan. Dan aku akan tetap akan mendoakanmu selalu bahagia.


Bait-bait monolog-monolog panjang memenuhi isi kepala Daisha. Bersama hembusan angin, ingin ia sampaikan kerisauan hatinya, bersama deburan ombak ingin ia hanyutkan perasaannya.


Kala mentari hendak kembali ke peraduannya, Daisha berdiri memandangi lautan yang terhampar luas di hadapannya. Di saat banyaknya pasang manusia saling berpelukan dan berbagi momen romantis menatap matahari tenggelam di bibir pantai. Gadis itu malah mengembuskan napas lemah. Menatap nanar sang mentari yang seolah sedang berniat undur diri menerangi bumi.


Layaknya tayangan drama yang memperlihatkan kesedihan yang teramat dalam, Daisha menangis tak bersuara seraya menatap sang surya yang kini benar-benar menghilang. Mengubah langit biru menjadi temaram.


Daisha mengenang kebersamaannya dengan satu-satunya pria yang pernah menggetarkan hatinya. Ia mengembuskan nafas berat. Rasa-rasanya sudah cukup ia mengenang kembali rasa sakit juga kenangan manis dirinya bersama pria yang begitu ia puja. Selanjutnya, ia berniat kembali menempati tempat duduknya di sebuah kafe tepi pantai di belakangnya. Ia membalik tubuhnya, namun..


“Aah!” Daisha memekik kala tubuhnya menabrak tubuh lain di belakangnya.


Tubuh Daisha itu limbung, hampir saja ia terjungkal ke pasir putih yang sedari tadi ia pijak. Namun, dengan cepat dua lengan besar berhasil merengkuh kokoh bahunya. Menarik lalu membuat tubuhnya kembali berdiri dengan sempurna.


Tatapan Daisha jatuh dan bertemu pada iris mata hitam dengan sorot teduh yang kini berada tepat di hadapan. Jarak tubuh mereka hanya angin lalu, karena jelas Daisha merasakan hembusan nafas hangat pria itu di kulit wajahnya.

__ADS_1


Daisha menatap lekat wajah pias laki-laki itu. Satu detik tatapan mereka terkunci. Satu detik terseret dalam fenomena yang entah mengapa membuat sebuah percikan menjadi letupan api di dalam aliran darah mereka. Satu detik mereka saling mengagumi. Merekam begitu sempurna ciptaan Tuhan dalam genggaman, sebelum akhirnya mereka tersentak dan saling melepaskan diri.


''Daisha!'' ucap lelaki itu dengan sorot mata tajam tajam menghunus manik mata milik Daisha.


Daisha hanya diam tidak bergeming. Pandangannya perlahan menjadi sedikit buram berselimut kabut yang mulai memenuhi pelupuk matanya.


''Kenapa kamu pergi meninggalkan kami?'' tanya lelaki di hadapannya.


''Mengapa harus pergi?'' tanyanya sekali lagi karena tak mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.


Daisha hanya bisa menundukkan kepalanya dan dengan sekuat yang ia bisa mencoba untuk menahan genangan air mata di sudut matanya. Setelah bersusah payah merengkuh keberanian dalam dirinya, perlahan Daisha kembali mengangkat kepalanya dan menatap sorot mata yang sedari tadi menatap dan menghunus tajam matanya.


''Saya memang harus pergi, pak.'' jawab Daisha lirih.


''Kita tidak boleh bersama pak! Nggak boleh!'' jawab Daisha lemah.


''Bagaimana dengan Arka? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya? Dia begitu merindukan kamu. Setiap hari dia selalu menunggu kedatanganmu. Dan, bagaiman dengan saya!'' ucap Rendi dengan tatapan yang penuh akan kerisauan.


Daisha kembali terdiam. Bimbang. Hampa dan merana. Mana mungkin ia tega meninggalkan Arka? Mana mungkin ia rela melepas begitu saja cintanya? Sakit? Tentu saja iya. Semua ini bukan keinginannya, semua ini juga bukan kehendaknya. Takdir, ya sebuah takdir yang harus ia terima. Sebuah jalan yang harus mereka terima dengan lapang dada.


''Saya juga tidak ingin seperti ini, tapi..'' ucap Daisha yang tak dapat meneruskan ucapannya. Lidahnya mendadak kaku, bibirnya mendadak kelu. Berat rasanya ia untuk mengatakan pada sosok lelaki di depannya.


''Kita tidak mungkin bersama!'' ucap Daisha dengan keras.

__ADS_1


''Kenapa?'' tanya Rendi tak kalah pelan.


''Apa bapak sudah gila? Kita tidak mungkin bisa bersama. Ini semua salah dan kita harus segera mengakhirinya.'' jawab Daisha tegas.


Kedua sorot mata mereka kembali beradu. Berbagai pernyataan muncul dalam benak mereka. Diam, semua terdiam. Mendadak suasana menjadi hening, sebelum Rendi kembali membuka mulutnya untuk bersuara.


''Sebaiknya kita pulang sekarang.'' ucap Rendi dengan meraih tangan Daisha. Membimbing langkah kaki kecil milik Daisha.


Daisha berjalan menurut mengikuti langkah jenjang milik Rendi.


''Jangan pernah pergi dan lari lagi.'' ucap Rendi begitu mendudukkan tubuhnya pada jok mobilnya.


''Tapi kita nggak boleh kaya gini, pak. Kita.. kita itu saudara. Kita masih satu aliran darah.'' ucap Daisha sedikit menjeda ucapannya.


''Tidak! Itu tidak benar!'' elak Rendi begitu kekeh akan pikirannya.


''Tapi memang begitu kenyataannya.'' jawab Daisha lirih.


''Apakah kamu yakin? Apakah kamu sudah memastikan itu semua?'' tanya Rendi penuh selidik.


''Katakan Daisha! Katakan jika kamu tidak mencintai saya! Katakan dan lihat mata saya baik-baik dan ucapkan dengan jelas kalimat itu!'' ucap Rendi menuntut. Perasaannya mulai terguncah. Sesak dalam dadanya begitu kalimat itu keluar dari mulutnya.


Daisha kembali menunduk. Perlahan bulir air mata mulai membasahi wajahnya. Buru-buru ia menghapus jejak air mata itu, namun usahanya sia-sia.

__ADS_1


''Jangan menangis, saya mohon.'' ucap Rendi tak kuasa melihat gadis yang ia puja menangis dengan begitu pilu, dan itu semua karenanya. Ia pun menyeka air mata milik Daisha.


__ADS_2