Pesona CEO

Pesona CEO
BAB 10


__ADS_3

Beno berada di airport siang itu, ia mengenakan kaca mata hitamnya sembari memandang jam tangannya sesekali.


"Apa tidak salah kalau Naora akan tiba siang ini?" tanya Beno pada Adi, memastikan sekali lagi jika asistennya tidak keliru. karena sejak tadi yang di tunggu tidak juga muncul.


"Benar pak, Bu Naora akan tiba jam satu siang" jawab Adi ikut gelisah karena Beno sudah terlihat kesal dan tidak sabaran.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita berpostur tinggi langsing, pakaiannya sangat modis dan gaya rambutnya juga kekinian. wanita itu mendorong koper besarnya sembari melambaikan tangan ke arah Beno.


Itu dia! Beno melepas kaca mata hitamnya.


"Kenapa lama sekali? apa pesawat mu delay?" tanya Beno kesal. Naora memeluk Beno dan mengecup sebelah pipi pria itu. Beno membalas dengan menepuk bahu Naora.


"Masih Sama tukang ngomel!" kata Naora gemas. Adi mengangkat koper Naora ke bagasi mobil. sementara Beno dan Naora duduk di kursi belakang. keduanya mengobrol layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Ben aku dengar soal perpisahan mu dengan Gadis, aku juga dengar Gadis sekarang jauh lebih sukses. dia sudah menjadi dokter kecantikan?"


"Yah seperti itu kira-kira" kata Beno malas membahas Gadis.


"Kenapa kamu lepaskan Gadis? kamu tidak cinta sama dia?" Naora terlihat serius.


"Cinta? sama sekali tidak" jawab Beno ketus sambil memalingkan wajahnya memandang jalanan.


"Bohong!" Naora mencubit pinggang Beno.


"Benar"

__ADS_1


"Yakin?" Naora melirik mata Beno yang menyiratkan kebohongan. ia sudah lama mengenal Beno jadi ia tahu kapan pria itu berbohong dan kapan Beno jujur.


"Sudahlah aku malas, semua sudah berlalu dua tahun yang lalu. Gadis sudah memulai hidupnya dan aku juga, jadi kita saling menghormati saja"


"Apa benar begitu Di?" Naora yang usil malah bertanya pada Adi seolah ia tidak percaya sama sekali dengan perkataan Beno yang berlainan dengan hatinya.


"Saya rasa begitu Bu"


"Hahaha dasar kalian ini, baiklah aku percaya" kata Naora.


Seharusnya aku senang mendengarnya berpisah dengan Gadis, itu berarti aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan mu Ben tapi ...aku ragu kamu tidak mencintai Gadis seperti ucapan mu tadi.


"Apa Gadis sudah menikah lagi?"


"Itu berarti belum, lalu apa dia sudah memiliki kekasih?" Kali ini Beno menatap kesal pada Naora.


"Oh berarti dia sudah memiliki kekasih, lalu bagaimana dengan mu?"


"Aku? untuk apa aku mencari kekasih menghabiskan waktu saja. aku akan langsung menikah jika bertemu wanita yang tepat"


"Apakah aku wanita yang tepat?" Naora bercanda tapi dalam hati ia serius. Naora ingin mendengar jawaban Beno.


"Kamu? aku lebih baik tidak menikah!" jawab Beno juga bercanda tapi dengan ekspresi wajah datar.


Naora memanyunkan bibirnya ia tidak lagi bertanya. Naora sibuk melihat pemandangan Jakarta yang sudah lama tidak ia lihat.

__ADS_1


"Ben kita makan ketoprak pak Min yuk" Naora dan Beno memiliki langganan warung ketoprak sejak mereka masih sekolah menengah. hampir setiap hari keduanya jajan di warung itu.


"Boleh juga, Adi kita ke tempat pak Min"


"Baik pak"


Tidak berapa lama mobil yang di kendarai Adi tiba di warung sederhana tapi selalu terlihat ramai. Naora tidak sabar ia meraih lengan Beno menggamitnya untuk bertemu pak Min.


"Pak masih ingat saya?" pria dengan rambut beruban itu tersenyum ramah.


"Mbak Naora jelas bapak ingat dong mana mungkin lupa?"


"Ah syukur deh, apa selama saya pergi Beno sering kemari pak?"


"Sudah jarang mbak, terakhir kemari bersama...." pak min ragu mau menyebut nama Gadis karena ia juga tahu pemberitaan perceraian Beno dengan Gadis dua tahun yang lalu.


"Haha yasudah, pak buatkan dia porsi seperti biasa ya" kata Naora sembari berlalu menuju Beno yang duduk duluan di salah satu meja kosong.


Naora menikmati pemandangan wajah tampan Beno di hadapannya. lama ia tidak bertemu sahabatnya itu. Beno memang terlihat sama tidak berubah, seolah perceraiannya dengan Gadis tidak membawa efek apapun dalam hidupnya.


"Ben kamu masih saja sombong dan angkuh ya" celetuk Naora.


"Apa kamu bilang?!"


"Bercanda Ben..." Naora tersenyum manis. Beno dengan gemas menarik hidung mancung Naora sambil tersenyum. Beno sayang pada Naora tapi sebagai sahabat dan saudara tidak lebih.

__ADS_1


__ADS_2