
Beno tiba di rumah keluarga Dirgantara setelah mengantarkan Gadis pulang. ia terlihat lelah, Beno berjalan sembari menenteng jasnya yang sudah ia lepas sejak tadi.
"Adi kamu boleh pulang" kata Beno tanpa melihat asistennya.
"Baik pak"
Adi bergegas pulang dengan mobil pribadinya yang terparkir sejak pagi di halaman rumah keluarga Dirgantara.
"Ben darimana sih? mami nyariin tuh" Gloria muncul dari dapur membawa semangkuk mie kuah yang masih panas. Beno melirik makanan yang di bawa adiknya. terlihat enak karena ia lapar belum sempat makan malam. janji makan malam dengan Naora juga sudah Beno batalkan.
Beno hampir meraih mangkuk mie tapi di tepis oleh Gloria.
"Enak aja! minta bibi bikinkan!" Gloria langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya takut Beno merebut mie kuah panas yang ia bawa.
" Beno..." suara papi Josh terdengar memanggil anak sulungnya itu.
"Iya pi"
"Darimana saja? kenapa telepon tidak di angkat? Naora mencari mu tadi ia cemas terjadi sesuatu padamu" kata papi.
__ADS_1
Beno hanya diam tidak menjawab omelan papinya.
"Ada urusan Pi" jawab Beno pendek.
"Sudahlah pap Beno lelah sepertinya, kamu sudah makan nak?" tanya mami penuh perhatian.
"Belum mi, nanti aja Beno minta bibi bawakan makan ke kamar"
"Yasudah istirahat ya" kata mami.
Beno menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia ambruk di ranjang sembari melepas dasinya. Beno berbaring memainkan ponsel di tangannya. ada niat untuk menelpon Gadis menanyakan apakah mantan istrinya itu baik-baik saja.
Beno berdiri melepas bajunya dan bergegas ke kamar mandi. ia membersihkan diri lalu pergi mengganggu adiknya sekalian Beno mau curhat.
"Glow sudah tidur?" Beno mengetuk pintu kamar Gloria. tidak ada jawaban tapi Beno tahu pasti Gloria belum tidur. Beno sebenarnya mau meminta pendapat adiknya yang bawel itu soal Gadis.
"Yasudah kalau sudah tidur padahal Jefry titip sesuatu untuk mu" kata Beno sembari berjalan pergi ia sengaja memancing Gloria.
"Ben! kak Jef nitip apa?" Gloria membuka pintu kamarnya dengan antusias.
__ADS_1
"Tidak jadi" Beno bergegas memasuki kamarnya dan mengunci pintu sambil menahan tawa.
Dasar bocil bisa-bisa naksir sama orang dewasa macam Jefry!
Beno menghela napas ia kembali rebahan di ranjangnya. mengenang dulu Gadis berbaring disampingnya dan sering memeluk Beno meski Beno cuek padanya.
Jika Beno mau mengakui sejujurnya penyesalan terbesar dalam hidupnya saat ini adalah karena menceraikan Gadis Paras Ayu.
***
Di kamarnya Gadis kembali menaangis, ia mengabaikan puluhan panggilan telepon dari Arya. Gadis duduk di lantai bersandar pinggiran ranjang. ia menekuk lututnya dengan pandangan menerawang Gadis memandang ponselnya. rasanya ia ingin menelpon Beno tapi Gadis takut mengganggu Beno karena sudah larut malam. lagi pula jika Gadis menelpon mantan suaminya itu pasti yang terdengar hanya omelan Beno saja.
Gadis membuka galeri di ponselnya. ada satu foto yang tidak ia hapus yaitu foto keluarga Dirgantara. ada papi Josh, mami Mariana, Beno, Gadis dan Gloria.
Gadis tersenyum mengenang masa dimana foto itu dulu diambil. ia mengingat perdebatannya dengan Beno soal gaya berfoto dan posisi kamera.
Gadis tersenyum lebar ia mengusap foto itu tepatnya mengusap wajah Beno di dalam foto. hari ini Beno adalah pria yang peduli padanya disaat hubunganya dengan Arya tidak ada lagi harapan.
Gadis sudah merasakan pahitnya perpisahan dengan Beno. ia ingin hidup bahagia dengan seseorang yang mencintainya dengan tulus. Gadis pikir Arya adalah orang yang tepat nyatanya pria itu berkhianat pada Gadis. lebih memalukan dan menyakitkan lagi ternyata Beno sudah tahu perangai Arya yang Gadis terlambat mengetahuinya.
__ADS_1