
Pagi sekali Beno sudah terlihat rapi dengan stelan jasnya. ia akan pergi melihat proyek dulu baru ke kantor utama Dirgantara Group. Gadis terlihat ragu mendekati Beno yang sedang menggendong Charlotte.
"Ben aku mau bicara" kata Gadis.
Beno meletakkan Charlotte di atas box bayi. keduanya keluar dari kamar baby Charlotte menuju ruang makan.
"Ada apa Dis?"
"Kita cari baby sitter untuk Charllote, karena aku ingin kembali bekerja"
Raut wajah Beno langsung terlihat bete, ia tidak habis pikir dengan Gadis yang baru saja memiliki seorang bayi. seharusnya ia senang tinggal di rumah bersama anaknya bukannya malah memilih bekerja kembali.
"Kenapa? apapun kebutuhan mu aku bisa mencukupi bahkan memberi lebih, tidak bekerja dalam waktu dekat ini juga tidak jadi masalah bukan?! apa kamu ragu dengan jumlah harta yang aku miliki?!" Beno mengerutkan keningnya. ia tampak meng-intimidasi Gadis.
"Ben kenapa bicara begitu? siapa yang tidak tahu soal harta kekayaan mu? tapi ini masalah karier bukan sekedar harta yang kamu banggakan itu Ben!"
"Karier?! lalu bagaimana dengan anak kita? kamu tega membiarkan Charllote yang masih bayi harus di asuh baby sitter? bagaimana jika anakku dianiaya atau baby sitter kurang berhati-hati dalam menjaga putri kesayangan ku?"
"Ben ayolah, kita bisa seleksi baby sitter yang tepat untuk Charllote. aku tidak bisa menahan diri di rumah sampai enam bulan..." Gadis hampir terisak. ia teringat bagaimana perjuangannya meniti karier hingga sampai bisa seperti sekarang. memiliki klinik kecantikan sendiri dan bisnis kosmetik dengan brand sendiri.
__ADS_1
Tapi bagi Beno tidak ada tawar menawar, ia tetap tidak setuju jika Charlotte di asuh oleh baby sitter di usianya yang sekarang. Beno hanya meminta enam bulan pada Gadis untuk bersabar setelah enam bulan ia akan mengizinkan Gadis kembali praktik.
Beno yang kesal berjalan pergi menuju mobilnya. ia melirik jam tangannya jika tidak bergegas Beno juga bisa telat meninjau proyek.
"Ben!" Gadis mengejar Beno hingga ke mobil. Adi yang bersiap di balik kemudi jadi bingung. ia melihat ke arah Beno.
"Tunggu apa lagi?! cepat jalan!"
"Iya ...baik pak" Adi menyalakan mesin mobil ia melirik Gadis yang terlihat berurai air mata.
Bertengkar lagi pak...apa tidak bosan kalian begitu terus?
"Bukan urusan mu!!" Beno menendang kursi di hadapannya.
"Iya maaf pak"
Adi tidak bertanya lagi ia berkonsentrasi mengemudi jangan sampai terjebak macet. Adi menambah kecepatan mobilnya agar Beno bisa tiba di proyek tepat waktu.
***
Di rumah Gadis menjaga Charllote yang sedikit rewel sejak tadi. dengan sabar dan telaten Gadis memberi asi pada putrinya.
__ADS_1
"Sayang kamu benar-benar mirip Daddy mu" kata Gadis sembari mencium gemas pipi Charllot.
Setelah Charllote tertidur Gadis berganti pakaian. ia membawa perlengkapan bayi, Gadis ingin pergi ke rumah mami dan papi ia bosan di rumah sendiri. jadilah siang itu Gadis diantar supir ke rumah mertuanya.
Setibanya di rumah keluarga Dirgantara Gadis dan Charlotte langsung di sambut mami Mariana dengan wajah sumringah.
"Eh ada cucu kesayangan memo datang" Mariana mengambil alih Charlotte dari gendongan Gadis.
"Kita ke Pepo dulu yuk" kata Maria sembari membawa Charllote ke kamarnya. sementara Gadis pergi ke kamar Beno yang ada di rumah itu.
Gadis meletakkan barang keperluan baby Charllote di kamar lalu ikut menyusul mami Mariana.
Gadis tersenyum senang dan nyaris terharu melihat papi dan mami begitu menyayangi Charlotte. keduanya terlihat bersenda gurau dengan cucu kesayangan mereka.
Malamnya Beno tiba di rumahnya ia meminta Adi untuk langsung pulang saja beristirahat. Beno melihat sekeliling ruangan sepi sekali. ia menaiki anak tangga menuju kamar Charllote dikamar itu kosong. lalu Beno ke kamarnya dan Gadis juga kosong.
Wajah Beno terlihat mulai panik. ia takut Gadis membawa Charllote kabur karena bertengkar tadi pagi dengannya.
Beno panik setengah mati, ia mencoba menelpon Gadis tapi ponselnya mati.
Kemana Gadis? apa dia kabur?!
__ADS_1