Pesona CEO

Pesona CEO
BAB 12


__ADS_3

Jefry mengantarkan Beno pulang ke rumahnya, malam sudah larut kedua pria itu terlihat sempoyongan. Adi memapah Beno yang sudah mulai limbung sementara Jefry masih bisa berjalan sendiri, ia terlihat lebih waras ketimbang Beno.


Gloria membuka pintu, ia terkejut mendapati kakaknya berbau minuman dan penampilannya acak-acakan.


"Beno kenapa?" Gloria meraih lengan kakaknya seraya melirik ke arah Jefry yang tersenyum manis ke arah Gloria.


Adi tidak menggubris pertanyaan Gloria ia membawa bosnya menaiki anak tangga menuju kamar Beno di lantai dua. sementara Gloria melipat kedua tangannya berdiri memandang Jefry.


"Kak Jef sudah hentikan jangan mengajak kakak ku minum seperti ini, aku harap ini yang terakhir kali!" omel Gloria.


Jefry berdiri dari duduknya jemarinya menyentil hidung mancung Gloria.


"Iya nona Gloria yang cerewet, kamu tambah cantik kalau ngomel" kata Jefry sembari merapikan helaian rambut Gloria.


Jefry sama halnya Beno sedang di bawah pengaruh minuman jadi ia juga tidak sadar dengan tingkahnya pada Gloria. wajah Gloria tersipu malu.


"Eh kak Jef!" Gloria merangkul tubuh Jefry yang limbung. untuk sesaat keduanya saling memandang sebelum Adi datang mengacaukan semua.


"Ehm! mari pak Jefry saya antar anda pulang" Adi mengambil alih memapah tubuh Jefry. Gloria yang salah tingkah segera kembali memasuki rumah.


Gloria menuju kamar Beno, ia prihatin melihat sang kakak yang hancur setelah perceraiannya dengan Gadis.

__ADS_1


"Kalau cinta kenapa di ceraikan?! jadinya hidupmu juga amburadul begini!" omel Gloria sembari melepas sepatu Beno. ia melepas jas kakaknya dan meminta bibi untuk menyiapkan handuk yang di basahi air hangat.


"Siapa bilang cinta?! aku tidak mencintai Gadis sama sekali tidak!" dalam keadaan mabuk Beno masih saja gengsi. Gloria diam tidak menggubris celoteh kakaknya. ia sibuk mengompres wajah Beno dengan handuk basah.


"Kalau papi tahu kakak bisa habis!"


"Anak kecil pergi sanna!" Beno mendorong tubuh adiknya agar menyingkir dari kasurnya. ia sedang malas mendengar Gloria mengomelinya. gadis itu baru berusia delapan belas tahun. tapi tingkahnya sudah seperti berusia empat puluh tahun. Beno sering bilang ke mami jangan-jangan Gloria di rasuki arwah leluhur.


***


"Kak Ben bangun!" Beno membuka matanya kepalanya masih terasa pening.


"Apa sih?!" Beno menggerutu karena Gloria sudah ada di hadapannya lengkap dengan seragam sekolah.


Beno terdiam, ia duduk bersandar pinggiran ranjangnya sembari memegangi kepalanya yang pusing.


"Kenapa?"


"Kata mami Gadis sakit, demam tinggi"


"Lalu apa hubungannya denganku?! biarkan saja! dia sudah di rumah sakit pasti juga ada dokter yang merawatnya!"

__ADS_1


"Ih kok gitu sih?! Gadis kan tidak punya keluarga selain kita. kasihan kak sana jenguk Gadis"


Beno melemparkan bantal ke arah Gloria sampai adiknya itu menghilang dari kamarnya. Beno duduk di tepi ranjang lalu berdiri sempoyongan menuju kamar mandi. selesai mandi Beno segera mengenakan stelan kerjanya. jas hitam bergaris putih samar di padu dengan kemeja berwarna hitam dan dasi berwarna maroon. ia menata rambutnya menyisirnya rapi ke belakang. kini wajahnya terlihat segar dan tampan.


tuk tuk...


pintu kamar Beno di ketuk dari luar.


"Masuk"


"Ben kamu sudah tahu belum Gadis masuk rumah sakit?" tanya mami sembari membawa kantung bingkisan.


"Hmm"


"Ini cepat antarkan bubur hangat buat Gadis"


"Mam, untuk apa?"


"Beno! Gadis itu sakit demam tinggi karena ada masalah di pencernaannya jadi Gadis harus makan yang lunak. cepat antar buburnya!"


Beno menggaruk rambutnya yang tidak gatal. sebenarnya ia malas bertemu Gadis.

__ADS_1


Orang-orang di rumah ini kenapa sih?! perhatian sekali dengan Gadis? mereka tidak tahu saja Gadis sudah punya pacar baru.


__ADS_2