Pesona CEO

Pesona CEO
BAB 9


__ADS_3

Beno mencekal tangan Gadis. Gadis tersentak mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan Beno yang sedikit memerah karena minuman.


Beno mendekatkan bibirnya ke wajah Gadis, refleks Gadis memundurkan langkahnya. aroma minuman tercium dari bibir tipis Beno.


"Ben...lepaskan" kata Gadis dengan jantung yang bergetar.


"Kancing gaun mu terlepas" bisik Beno dengan gerakan jemarinya ia membantu mengancingkan gaun Gadis yang terbuka di bagian punggung.


Berada dekat dengan Beno membuat perasaan Gadis kembali di aduk-aduk kenangan. aroma parfum Beno yang masih sama, suara Beno yang khas membuat pertahanan Gadis limbung.


Gadis segera mengendalikan dirinya, akal sehatnya segera menguasai perasaannya. ia berjalan menjauh dari Beno meraih bingkisan di atas meja lalu dengan cepat melangkah keluar dari kamar Beno tanpa menoleh pria itu lagi.


Beno memandang Gadis yang berjalan keluar kamar tanpa menghiraukannya. hatinya terasa luka, ia ingin Gadis memperhatikan dirinya seperti dulu.


Gadis suka memilihkan stelan kerja untuk Beno, memilihkan dasi mana yang pas dan lagi Gadis selalu mengeringkan rambut Beno dengan handuk ketika pria itu selesai mandi. Beno rindu perhatian Gadis yang tidak akan ia dapatkan lagi karena kebodohannya.


Beno rindu menyentuh tubuh Gadis, mencium bibir Gadis dan memeluknya. semua itu tidak akan bisa Beno lakukan lagi karena statusnya sudah menjadi mantan suami Gadis. Beno ambruk di ranjangnya ia memejamkan matanya mencoba menghapus wajah polos Gadis dari hidupnya.


Sementara Gadis buru-buru meninggalkan pesta ulang tahun mantan ibu mertuanya. ia menuju mobilnya dan menangis sesenggukan. Gadis ingin dengan mudah membuang Beno dari hidupnya.


Disela tangisnya ponsel Gadis berbunyi, ada telepon dari Arya.


"Halo sayang, aku mencari mu di rumah tapi kamu tidak ada?" suara Arya menyadarkan Gadis untuk meninggalkan masalalunya dan memijak masa depannya.


"Oh iya ini sedang ke pesta ulang tahun teman, sebentar lagi pulang"


"Sayang kamu menangis?" tanya Arya di telepon.

__ADS_1


"Hanya mau flu saja, jadi suara sedikit berubah"


"Oke kalau begitu cepat pulang lalu istirahat ya, besok aku jemput kamu"


Telepon di matikan, Gadis menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Dirgantara. di lantai dua Beno menyibak tirai jendela kamarnya mengamati mobil Gadis yang semakin menjauh.


***


Paginya Gadis terlihat lebih segar dan cantik tentunya. ia mengenakan dress bunga-bunga selutut berwarna pink dan high hells berwarna putih.


Gadis duduk di meja makan menikmati sarapan seorang diri. ia melirik jam tangannya menunggu Arya menjemputnya.


Tidak berapa lama terdengar suara mesin mobil di halaman rumah. Gadis bergegas keluar menyapa Arya yang pagi itu terlihat tampan dengan stelan baju formal.


"Hai sayang" sapa Arya mendekat ke arah Gadis.


"Oke, kamu sudah sarapan?"


"Sudah kamu belum sarapan?" tanya Gadis.


"Belum sih tapi tidak masalah aku bisa sarapan di klinik kamu"


Gadis mengangguk ia memasuki mobil Arya. pagi ini kemungkinan jalanan akan lebih macet dari hari biasanya karena hari ini Senin segala kegiatan di mulai setelah berakhir pekan.


"Oh ya kemarin siapa yang ulang tahun?" Arya kembali bertanya.


"Teman" Gadis tidak enak jika harus mengatakan pada Arya kalau ia pergi ke pesta ulang tahun mantan mertuanya.

__ADS_1


"Oh, kog aku tidak di ajak?"


Gadis tersenyum canggung, ia sengaja tidak menjawab pertanyaan Arya malah melempar pandangan keluar mengamati jalanan yang ramai.


Arya yang merasa ada sedikit keanehan pada sikap Gadis mencoba bersabar. ia fokus mengemudi dan tidak bertanya apa-apa lagi.


***


Dirgantara group terlihat lengang karena semua petinggi divisi berkumpul di ruangan sang Owner perusahaan. Josh Dirgantara dan putranya Beno berdiri di depan memimpin meeting pagi. keduanya terlihat berdiskusi sesekali.


"Baiklah saya harap kedepannya kita akan lebih baik karena setelah ini tender dalam jumlah lebih besar akan mulai masuk ke perusahaan kita" kata Beno.


Adi sang asisten mencatat semua instruksi Beno selaku CEO perusahaan.


Meeting di bubarkan setelah tiga jam berkutat, berdebat dan mencari solusi permasalahan perusahaan. Beno segera keluar dari ruang kerja ayahnya di ikuti Adi di belakangnya.


"Pak hari ini Bu Naora kembali dari Itali" kata Adi mengingatkan Beno.


"Oh ya? jam berapa pesawatnya tiba?"


"Sekitar jam satu siang pak"


"Baiklah kita jemput dia, aku sudah janji padanya untuk menjemputnya ketika kembali kemari"


"Baik pak"


Naora adalah sahabat Beno sejak kecil dan merupakan salah satu wanita yang di cemburui oleh Gadis sewaktu Gadis masih berstatus istri Beno. kini Naora kembali setelah dua tahun ia di Itali.

__ADS_1


__ADS_2