Pesona CEO

Pesona CEO
Part 36


__ADS_3

Dirgantara Group sedang di sorot sebagai perusahaan terbesar yang salah satunya bergerak di bidang konstruksi. Josh selaku pemilik utama perusahaan mewanti-wanti putranya Beno agar tidak membuat masalah karena itu bisa membuat citra perusahaan menjadi buruk.


Josh melarang Beno bertemu apa lagi berkencan dengan para wanita. mau itu Gadis ex wife nya Beno atau Dinda atau yang lainnya.


Beno hanya bisa terdiam pasrah dengan peraturan papinya. Beno bukan takut jika papinya tidak memberi warisan padanya tapi sebagai anak Beno berkewajiban membuat bangga keluarganya dan ia tahu papinya selama ini bekerja keras memajukan perusahaan sampai jadi sebesar sekarang.


"Malam ini akan ada jamuan dengan kolega, akan ada acara minum. papi harap kamu tidak minum terlalu banyak dan cepat pulang" kata Josh.


"Iya pia iyaa..." Beno jadi kesal di atur seperti bocah.


Josh meninggalkan ruang kerja Beno. sementara Beno bersiap menuju gedung tempat jamuan makan malam dengan para kolega Dirgantara Group. Beno di temani asistennya Adi dan Jefry di acara itu.


Disela acara Jefry malah pergi lebih dulu katanya ada urusan penting sekali. lagi pula ujung tombak perusahaan adalah Beno karena dia CEO utama yang menerima mandat langsung dari Josh Dirgantara selaku owner perusahaan, jadi Jefry bisa ambil start untuk kabur lebih dulu dari jamuan makan malam yang membosankan karena terlalu formal.


"Ehm!" Adi sedikit berdehm memberi peringatan pada Beno untuk berhenti minum. entah sudah gelas keberapa yang ia teguk sejak tadi. Wajah Beno bahkan sudah terlihat memerah. ia mulai melonggarkan dasinya pertanda sudah mabuk.


"Maaf pak lebih baik kita pulang sekarang, saya cemas anda akan semakin mabuk jika berlama-lama disini lagipula suasana juga sudah tidak konsusif" kata Adi sembari meraih lengan Beno lalu memapahnya keluar.


Untuk berjalan sendiri saja Beno sempoyongan tidak mampu. omongannya juga sudah melantur tidak karuan.


"Gadis ..aku ingin bertemu Gadis!" teriak Beno di dalam mobil.


"Tidak bisa pak, saya harus mengantar anda pulang sekarang juga"


"Aku tidak mau pulang! Gadis adalah rumah bagiku aku mau bertemu Gadis!"


Lalu kenapa dua tahun lalu anda menceraikan Bu Gadis?!

__ADS_1


"Maaf pak tidak bisa" kata Adi mencoba tegas.


"Kalau begitu aku lompat saja dari mobil!" ancam Beno sembari tertawa.


"Jangan pak! baik saya antar bertemu Bu Gadis tapi hanya sebentar saja ya karena ini sudah malam"


"Oke..."


Adi memutar mobilnya melaju ke arah apartemen Gadis. ia memapah Beno turun dari mobil.


"Ingat pak ini sudah malam tolong jangan membuat keributan! setelah melihat Bu Gadis kita pulang ya"


"Iya bawel! lama-lama kamu cerewet melebihi mantan istriku dulu!" kata Beno yang mengingat Gadis sewaktu menjadi istrinya selalu saja mengoceh soal ini dan itu.


Beno menekan bel pintu Dengan tidak sabar. ia bersandar di dinding karena tidak mampu menopang tubuhnya sendiri akibat terlalu banyak minum.


"Gadis Paras Ayu, kenapa kamu begitu ayu?" oceh Beno begitu melihat Gadis di hadapannya.


" Beno?! kamu kenapa?" Gadis melihat ke arah Adi meminta penjelasan.


"Maaf Bu tadi pak Beno memaksa kemari untuk bertemu Bu Gadis" kata Adi.


Beno nyelonong masuk dan langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tamu apartemen Gadis.


"Ben! ini sudah larut malam untuk apa kemari? kalau ada yang mau di bicarakan bisa lewat telepon atau besok saja kita bertemu"


"Aku ingin melihat mu sekarang!" kata Beno mencoba berdiri ia malah hampir terjatuh dan Gadis sigap menopang tubuh Beno. Gadis ikut terjatuh di sofa hingga Beno berhasil menindihnya.

__ADS_1


Untuk sesaat Beno dan Gadis bisa menjelajahi pandangan mereka satu sama lain tanpa batas tanpa gengsi tentunya karena saat ini Beno sedang mabuk. ia terlihat jujur memandang Gadis apa adanya dengan rasa yang ada di lubuk hatinya.


Jemari Beno membelai bibir Gadis yang langsung di tepis oleh Gadis. Beno menahan kedua tangan Gadis dengan sisa tenaganya. piama Gadis tersingkap sedikit di bagian dada hingga membuat Beno menatap sebuah nama yang di tato permanen di dada sebelah kiri Gadis.


Beno tersenyum lebar rupanya Gadis belum menghapus tato nama dirinya. tato itu di buat saat keduanya pergi berlibur ke Bali. Beno memaksa Gadis membuat tato namanya di dada sebelah kiri atas dan Gadis menurut saja karena ukuran tato yang kecil jadi tidak begitu kentara pikir Gadis waktu itu.


"Kamu belum menghapus tatonya? masih cinta ya?" tanya Beno semakin berani pada Gadis.


"Lepas Ben!" Gadis mencoba memberontak ia bahkan menendang perut Beno agar pria itu mundur darinya.


"Bagus" bisik Beno sembari menyentuh tato ejaan namanya itu dengan jari telunjuknya membuat Gadis geli sekaligus merinding.


"Ben awas minggir!" teriak Gadis memberi peringatan tapi tidak di gubris oleh Beno.


Malam itu Beno lupa diri hingga ia berbuat kasar dan nekat pada mantan istrinya. Beno lupa jika Gadis bukan lagi istrinya yang harus melayani dirinya kapanpun Beno mau.


Celakanya Gadis benar-benar tidak bisa menghindar dari Beno. Beno mengikat kedua tangan gadis dengan ikat pinggangnya.


"Ben jangan!" tangis Gadis pecah. Beno yang sudah lupa daratan tidak peduli lagi. ia harus menyalurkan hasrat terpendamnya pada Gadis yang ia tahan sejak perpisahan mereka.


***


Gadis terduduk di kamar mandi terisak, Beno memperlakukannya seperti wanita murahan. seenaknya mendatangi dirinya lalu merayu Gadis.


Gadis sendiri juga menyadari kebodohannya, ia tidak mampu menghindari Beno karena rasa cintanya yang masih tersisa buat Beno.


Beno tertidur di sofa, terlelap sampai pagi tiba. sementara Gadis ia bergegas ke klinik tidak mau bertatap muka dengan Beno. Adi nampak sudah rapi dan wangi menunggu bosnya berdiri di depan apartemen Gadis.

__ADS_1


"Adi urusi bosmu bangunkan dia dan segera bawa pergi dari tempatku!" kata Gadis tanpa memandang Adi. ia berjalan menuju mobilnya untuk pergi ke klinik Beauty.


__ADS_2