
Gadis pergi ke salon kecantikan untuk memotong rambutnya menjadi sedikit lebih pendek. di depan cermin Gadis terlihat melamun, ia harap memotong rambutnya bisa membuang kesialan yang menimpanya terlebih soal Beno.
"Dis ..." Tania yang duduk di kursi di samping Gadis terlihat prihatin. Tania juga sedang memotong rambutnya bukan masalah kesialan tapi emang ia bosan dengan gaya rambutnya yang sudah ketinggalan trend.
Gadis melirik memandang Tania melalui cermin di hadapannya.
"Jangan ngelamun gitu dong, nanti bisa kesambet"
Gadis tersenyum kecil, Tania ikut tertawa ia lega setidaknya Gadis masih ingat cara tersenyum. sejak beberapa hari ini Gadis selalu murung. ia hanya datang ke klinik tanpa menerima kunjungan pasien.
"Habis ini kita shoping yuk" ajak Tania yang di sambut Gadis dengan anggukan kepala.
Di pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota, keluarga Dirgantara terlihat makan siang bersama. ada papi, mami dan Beno serta Dinda. Gloria tidak ikut karena sedang malas bepergian. Gloria sedang merenungi nasibnya yang akan berpisah jauh dari Jefry.
"Ben itu Gadis kan?" mami menunjuk ke sebuah butik dimana Gadis dan Tania terlihat berbelanja.
Beno menatap ke arah Gadis ia berdiri dari duduknya lalu berjalan cepat ke arah Gadis.
__ADS_1
"Beno! Ben!" mami memanggil Beno untuk menghentikan anaknya.
"Pi gimana ni" Mariana terlihat cemas, jangan sampai Beno membuat keributan di tempat umum, malu jika dilihat orang.
"Kita lihat dulu mi" kata papi sembari berdiri dari duduknya mengawasi Beno.
Dinda hanya terdiam, ia baru saja resmi berpisah dari Rei dan ingin lebih dekat dengan Beno tapi sepertinya masalalu Beno dengan Gadis belum juga usai.
"Dis..."
Gadis terkejut kenapa bisa bertemu Beno siang itu. kenapa hidupnya harus Beno lagi Beno lagi, Gadis hampir melangkah pergi menghindari Beno tapi Beno menahannya.
"Tunggu! aku mau kita selesaikan masalah kita" kata Beno sembari menahan lengan Gadis.
"Lepaskan Ben! masalah apa? aku tidak punya masalah apa-apa!" kata Gadis ketus.
Beno tersenyum masam, ia menarik napas mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku salah pada Gadis.
__ADS_1
"Gadis Paras Ayu, aku minta maaf" kata Beno penuh rasa penyesalan.
Mata Gadis berkaca-kaca, perasaannya campur aduk saat ini. ia serasa tidak bisa berpikir jernih karena Beno. sulit sekali untuknya lepas dari mantan suaminya. Gadis melangkah pergi dan Beno mengejarnya ia mencekal tangan Gadis.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Beno. sesaat suasana hening. Tania terkejut sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. begitupun mami dan papi dan juga Dinda yang melihat dari kejauhan.
Pengunjung pusat perbelanjaan sempat melihat ke arah Beno dan Gadis.
"Ben, tolong nanti saja ya waktunya sedang tidak pas" kata Tania. Beno hanya berdiri terdiam melihat Gadis melangkah pergi.
Gadis berlari memasuki mobilnya ia menangis di dalam mobil. Tania mencoba menenangkan Gadis tapi saat ini Gadis sedang emosi. yang di pikiran Gadis saat ini adalah ia takut hamil, takut di cap wanita murahan karena sudah janda tapi hamil di luar nikah. apa kata dunia, kata para pelanggan klinik kecantikannya, kata orang-orang di sekelilingnya. dan bagaimana pendapat keluarga Dirgantara tentang dirinya yang masih dekat dengan Beno setelah perceraian mereka.
"Dis, buka dong pintu mobilnya" Tania mengetuk perlahan kaca mobil Gadis.
Gadis menyeka air matanya, ia membiarkan Tania memasuki mobilnya dan duduk di sampingnya.
__ADS_1