Pesona CEO

Pesona CEO
Part 35


__ADS_3

Dinda duduk sembari menangis di rumahnya. ia baru saja memutuskan akan berpisah dari Rei dan Rei bersedia menandatangani surat perceraian mereka.


Dinda menelpon Beno untuk bercerita tentang permasalahan yang ia hadapi. Beno yang baru saja pulang dari Dirgantara Group bergegas menuju rumah Dinda.


"Din.." Beno melihat Dinda menangis di sofa.


"Ben, aku dan Rei.." Dinda terisak tidak melanjutkan ucapannya. Beno duduk di sofa tepat di samping Dinda ia menenangkan Dinda yang sedang sedih dan kalut. Dinda menyandarkan kepalanya di bahu Beno.


"Kamu tenang saja Din, aku pasti dukung setiap keputusan yang kamu ambil jika itu memang yang terbaik" kata Beno sembari menggenggam tangan Dinda.


"Makasih ya Ben, kamu sahabat baikku" gumam Dinda disela tangisnya.


"Aku akan carikan pengacara yang hebat buat kamu melawan Rei nanti"


Dinda hanya mengangguk, ia berganti bersandar ke sofa lalu menghapus air matanya. memang sudah saatnya Dinda bangkit dan mengakhiri pernikahan toxic nya dengan Rei. dengan begitu Dinda tidak akan dapat kekerasan lagi baik secara verbal maupun fisik.


Beno melepas jasnya dan mengendurkan dasinya. sebenarnya ia lelah sekali hari ini karena seharian Beno mengawasi mega proyek yang baru saja di jalankan oleh perusahaannya.


"Ben makasih ya sudah mau peduli" kata Dinda.


"Tentu aku peduli, kamu sahabat ku Din kalau ada apa-apa bilang ya" kata Beno sembari mengusap rambut Dinda.


Beno tidak sadar jika kehadiran dan perbuatannya malam itu dianggap istimewa oleh Dinda. wanita itu berpikir Beno menaruh hati padanya karena terlihat begitu peduli.


Beno melirik jam tangannya, ia harus bergegas pulang besok pagi ada meeting besar yang harus di hadiri olehnya.

__ADS_1


"Din aku pamit dulu ya, besok aku janji akan kemari lagi"


"Iya makasih ya Ben"


Beno mengangguk, saking kelelahan ia lupa jika meninggalkan jasnya di sofa di rumah Dinda.


***


Gadis membaca berita online tentang kasus perceraian dokter Dinda Hariadi dengan Rei Hariadi.


Gadis terdiam sejenak, ia sedang berpikir setelah ini Dinda berarti memiliki peluang untuk mendekati Beno.


Sejak kejadian di pesta ulang tahunnya kemarin, Gadis tidak yakin jika Dinda tidak menaruh hati pada sosok Beno.


Gadis meletakkan ponselnya, ia menarik selimut lalu mencoba tertidur.


Sementara di rumah keluarga Dirgantara masih terlihat ramai di ruang tengah. Josh, Mariana dan putri mereka Gloria nampak bersenda gurau. Gloria baru saja mengadopsi seekor kucing lucu berwarna oranye. Gloria memberi nama kucingnya itu Orenjus.


"Malam semua..." sapa Beno sedikit lesu.


"Hai Ben dari mana nak? kenapa baru pulang?" tanya mami.


"Ben sebaiknya kamu kurangi kluyuran dengan Jefri ke bar" kata papi sedikit kesal.


"Siapa yang ke bar pap?! Beno dari rumah Dinda" Beno duduk bersandar sofa di samping Gloria.

__ADS_1


"Rumah Dinda?" mami memperbaiki duduknya. wajahnya nampak serius karena tadi siang ia membaca berita tentang perpisahan Dinda dengan suaminya.


"Untuk apa Ben? bukanya Dinda sedang dalam proses cerai?" tanya papi.


"Iya pi mi, Beno hanya memberi dukungan saja sama Dinda"


Papi dan mami saling pandang menggelengkan kepala.


"Anak-anak jaman sekarang aneh, cerai kog di dukung" kata mami.


"Bukan begitu mi, ah mami nggak akan paham" Beno melihat kucing di pangkuan Gloria.


"Kucing siapa itu?" tanya Beno.


"Oh iya ini Orenjus dan itu Beno Kaka Gloria, Beno itu duren lho!" kata Gloria sembari mengusap gemas bulu Orenjus.


"Orenjus? itu nama kucing apa nama minuman?! itu kucing bisa stress Glow kalau di kasih nama minuman!" kata Beno sembari menyentil kening adiknya. ia berdiri dari duduknya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Mam apa Beno dan Dinda ada hubungan?" tanya papi sambil berbisik.


"Cuma berteman dekat pi, kayak sama Naora"


"Oh..."


"Gadis, Naora sekarang Dinda" papi menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2