Pesona CEO

Pesona CEO
BAB 18


__ADS_3

Beno sudah di tangani dengan baik oleh dokter. ia sudah di pindahkan ke ruang perawatan VVIP di rumah sakit itu. Gadis dan Adi bergegas memastikan kondisi Beno.


Beno terbaring di ranjang dengan perban menutup pinggangnya. Gadis berjalan perlahan mendekati Beno. ia menatap wajah mantan suaminya yang terlihat pucat.


Kenapa Ben? kenapa sampai sejauh ini kamu berkorban untuk ku? kamu bahkan rela dalam bahaya hanya untuk melindungi ku.


Gadis mendekat menyentuh tangan Beno dengan lembut. air matanya mengalir tidak bisa Gadis tahan.


Adi yang melihat situasi itu memilih mundur keluar dari ruangan Beno dan duduk di ruang tunggu sembari mengabari keluarga Dirgantara jika Beno ada di rumah sakit.


"Kenapa kamu lakukan ini Ben?" bisik Gadis di sela tangisnya yang halus. hanya air matanya mengalir membasahi pipi Gadis. perasaannya saat ini terhadap Beno begitu campur aduk.


"Jangan menangis Dis" Gadis menatap Beno yang membuka matanya. jemari Beno menyentuh wajah Gadis.


"Ben? aku panggil dokter dulu ya?" Gadis hampir berdiri dari duduknya.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja"


"Ben lain kali jangan begini, kamu membuatku takut!" omel Gadis.


Beno hanya tersenyum tipis ia mengingat kejadian perampokan tadi. jika saat itu dirinya tidak disana bagaimana nasib Gadis.


"Sudahlah yang penting kamu baik-baik saja" kata Beno sembari melirik tangan Gadis yang menggenggam tangannya. refleks Gadis melepas genggamannya dan terlihat salah tingkah.


"Dimana Adi?"

__ADS_1


"Di luar akan aku panggil dia"


"Tidak perlu kamu disini saja" kata Beno kembali memejamkan matanya.


Gadis menyentuh wajah Beno yang pucat ia merapikan helaian rambut Beno yang menutupi kening pria itu.


"Ehm!" Gadis terkejut dan segera menarik tangan nya dari kening Beno. mami Mariana dan papi Josh berdiri di ambang pintu.


"Beno?" mami mendekat memastikan kondisi anak kesayangannya baik-baik saja.


"Gadis kamu tidak apa-apa?" tanya Mariana cemas.


"Gadis baik-baik saja mi, tapi Beno terluka"


"Maafkan Gadis ya mi, gara-gara menolong saya Beno jadi begini" kata Gadis penuh rasa bersalah.


"Jangan begitu Gadis ini bukan salah kamu, ini musibah sudah tenang saja yang penting Beno tidak apa-apa"


Beno yang tertidur tidak mendengar percakapan antara maminya dengan Gadis. karena pengaruh obat ia terlelap tidak menghiraukan sekelilingnya lagi.


Paginya Beno sudah terlihat segar kembali. ia duduk di ranjangnya bersandar bantal. masih dengan perban di pinggangnya. Pagi itu Gadis datang membawakan bubur untuk Beno.


"Ayo makan dulu aaa.." Gadis menyuapi Beno bubur hangat yang ia bawa.


"Ah aku makan sendiri" kata Beno meraih sendok yang di pegang Gadis.

__ADS_1


"Sudahlah Ben sekali saja tidak perlu selalu terlihat kuat! biar aku menyuapi mu!" kata Gadis yang sudah hafal gengsi Beno setinggi gunung Everest.


Beno menurut saja di suapi Gadis sesekali pandangannya menatap wajah cantik di depannya. wanita yang pernah hidup bersamanya yang kini hanya menjadi bagian dari masalalunya tapi membayangi masa depannya.


"Kamu sedang mikir apa?" pertanyaan Gadis mengejutkan Beno hingga ia terlihat salah tingkah.


"Sudah kenyang" Beno menolak suapan terakhir Gadis.


"Yasudah, ini" Gadis menyerahkan segelas air putih pada Beno.


"Kamu tidak ke klinik?" tanya Beno.


"Aku libur untuk menjaga mu disini"


"Pergilah, ada Adi yang menjagaku sebentar lagi mami juga pasti kesini" Beno memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela.


"Kenapa? kamu tidak mau lihat aku disini?"


"Bukan begitu, nanti pacar mu bisa salah paham" raut wajah Beno berubah terlihat kesal.


"Baiklah, apa tidak apa-apa kalau aku pergi sekarang?" Gadis mendekat kearah Beno dalam hati entah kenapa ia ingin Beno menahannya.


Beno mengangguk sembari berbaring kembali.


"Pergilah"

__ADS_1


__ADS_2