Pesona CEO

Pesona CEO
Part 48


__ADS_3

Di tengah kepanikan yang melanda, ponsel Beno berbunyi. ia segera mengangkat telepon dari supir Gadis.


"Dimana Gadis?!"


"Pak, ibu ada di rumah nyonya besar"


"Di rumah mami? yasudah saya ke sana sekarang" ada rasa lega menjalari pikiran Beno. ia segera pergi dengan mobilnya menuju rumah papi mami.


Beno hampir di buat jantungan karena menemukan Gadis dan Charlotte tidak ada di rumah. rasanya sungguh hampa dan sepi. membayang berpisah dengan Gadis dan Charlotte putri mereka, Beno tidak sanggup.


Akhirnya Beno tiba di rumah mami, ia segera memarkir mobilnya lalu memasuki rumah. di ruang makan semua sedang berkumpul. ada Gadis yang sedang ikut makan malam. Beno berdiri tertegun menatap Gadis yang tampak ceria.


"Beno kamu baru pulang?" mami terlihat berdiri dari kursinya menghampiri anak lelakinya. Gadis langsung terdiam melihat Beno datang. ia lupa mengabari kalau tadi ia membawa Charllote ke rumah mami.


Beno berjalan menghampiri Gadis lalu mencium pipi Gadis sambil memeluknya dari samping. wajah Gadis memerah karena terkejut sekaligus malu Beno memperlakukannya seperti itu, ia mengusap tangan Beno.


"Cie so sweet Beno..." sindir Gloria yang duduk di samping Gadis. Beno menarik hidung mancung adiknya dengan usil.


"Ouh sakit Ben!" Gloria melempar kerupuk ke arah kakaknya.


Gadis langsung menyiapkan piring dan mengisinya dengan makanan kesukaan Beno.

__ADS_1


"Ben tadi Gadis lho yang masak makanan kesukaan kamu" kata mami.


Beno terdiam lalu menyendok makanan di piringnya. rasanya enak sama dengan buatan mami. tapi Beno terlalu gengsi untuk memuji hasil masakan Gadis. ia tidak berkata apapun dan lanjut makan dengan lahap.


"Dimana Charlotte?" tanya Beno sambil melihat gadis.


"Charlotte ada di kamar baru saja tidur, ada bibi yang menemani" kata mami.


Selesai makan malam Gadis kembali ke kamar menemani Charllote, sementara Beno ia main catur di halaman bersama papi.


"Ben apa kamu sama Gadis ada masalah?" tanya papi.


"Nggak ada Pi"


Beno hanya diam mengamati papan catur, hatinya berkecamuk.


"Kalian sudah memiliki anak sekarang, jangan biarkan anak kalian tumbuh di lingkungan keluarga yang toxic itu tidak baik untuk pertumbuhan nya"


"Iya pi"


"Kurangi ego dan gengsi kamu itu Ben, kasihan Gadis. papi lihat kalian masih saling mencintai hanya ego saja yang menjadi dinding tebal diantara kalian berdua"

__ADS_1


Beno menghela napas, seolah ia sedang mengganti semua masalah di pikirannya dengan nasehat papi yang adem.


"Pi terimakasih nasehatnya"


"Oh ya Minggu ini papi ada janji dengan kolega untuk berkuda, kamu mau ikut?"


"Ah nggak bisa pi banyak pekerjaan"


"Lusa papi akan berangkatkan Gloria ke London"


Papi terlihat menerawang jauh, terlihat jelas kalau papi juga berat berpisah dengan putri kesayangannya. Beno menepuk tangan papinya.


"Demi masa depan Gloria Pi, tidak masalah" kata Beno. tapi ia sendiri tidak bisa membayangkan jika Charllote sudah dewasa dan Beno harus melepas putrinya untuk pergi jauh.


Acara main catur selesai Pali dan Beno kembali ke kamar masing-masing. Di kamarnya Beno melihat Gadis tertidur lelap karena kelelahan seharian menjaga Charllote.


Beno menghampiri bayinya yang tertidur di box bayi di samping Gadis. Ia mencium Charllote dengan hati-hati agar tidak terbangun. lalu beralih ke Gadis, Beno mengusap rambut Gadis dengan lembut. ia menyelimuti tubuh Gadis yang tidur meringkuk. Beno menarik Gadis kedalam dekapannya, ia ikut terlelap memeluk erat Gadis di sisinya.


*


*

__ADS_1


tunggu part selanjutnya ya ..🌟


__ADS_2