Pesona CEO

Pesona CEO
Part 26


__ADS_3

Gloria membawa makanan hasil masakannya dengan Gadis untuk ia berikan pada Jefry. Gloria mendatangi perusahaan papinya untuk menemui Jefry yang sedang sibuk bekerja.


"Nona Gloria mau bertemu bapak Josh atau pak Beno?" tanya resepsionis di loby kantor.


"Apa pak Jefry ada?" tanya Gloria sumringah.


"Pak Jefry sedang meeting, sebentar lagi mungkin selesai"


"Kalau gitu aku tunggu di ruang kerja pak Jefry saja" Gloria tidak perlu menunggu persetujuan resepsionis itu ia langsung berjalan menuju ruang kerja Jefry.


Gloria sengaja tidak menemui papi atau kakaknya karena pasti nanti mereka mencegah Gloria untuk bertemu Jefry. ia memilih menunggu di ruang kerja Jefry sembari meminum jus dingin yang ia minta pada OB.


Tidak berapa lama Jefry kembali dari ruang meeting. ia terkejut mendapati Gloria ada di ruang kerjanya.


Jefry menghela napas melihat Gloria duduk di sofa yang ada diruang kerjanya.


"Kak Jef?" Gloria berdiri dari duduknya dan meraih kotak makanan yang ia bawa tadi. Jefry melirik bawaan Gloria yang tahu pasti itu hasil masakan pelayan dirumahnya.


"Aku sibuk jadi tidak bisa bermain denganmu" kata Jefry seolah Gloria adalah anak kecil yang mengganggunya untuk mengajak bermain.


Gloria hanya memanyunkan bibirnya tidak menanggapi ucapan Jefry.


"Kakak sudah makan siang? ini aku bawakan hasil masakan ku sendiri" Gloria menyerahkan kotak makanan yang ia bawa.


"Terimakasih Gloria, sekarang kamu bisa pergi" Jefry sengaja memunggungi Gloria.


"Kak Jef?!" Gloria terlihat kecewa. ia tidak menyangka Jefry akan memperlakukannya sedingin ini.


"Kakak tidak bisakah menghargai hasil masakan ku? paling tidak kakak cicipi sedikit?"

__ADS_1


"Nanti kakak akan makan dan habiskan, tapi sekarang kakak sibuk" Jefry duduk di kursi kerjanya matanya sibuk mengamati layar laptop di hadapannya.


"Kak aku membuatnya sengaja untuk kakak" kata Gloria hampir menangis. gadis manja itu sakit hati Jefry memperlakukannya dengan acuh.


Gloria berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Jefry.


Jefry terdiam, ia lalu membuka kotak bekal yang di berikan oleh Gloria. aroma makanan tercium menggoda. Jefry mencicipi steak buatan Gloria.


"Hmm...ini memang sungguh buatannya sendiri" rasa asin mendominasi makanan itu. tidak mungkin pelayan berani memasak makanan dengan rasa seperti itu untuk keluarga Dirgantara.


Jefry tersenyum, kembali ia meraih potongan daging lalu dengan mata terpejam mengunyah daging itu berharap rasa asinnya berganti dengan rasa manis semanis senyum Gloria.


***


Malam itu sepulang dari meeting panjang Beno dan Jefry pergi ke bar untuk minum bersama.


Pikirannya saat ini sedang di penuhi soal Gadis. Beno kira setelah berpisah dari Gadis semua akan beres. ia akan bebas tidak lagi mendengar ocehan Gadis yang terasa memuakkan saat masih menjadi istrinya. ia juga tidak perlu melihat kepolosan Gadis yang membuatnya kesal. perdebatan hebat tentang memiliki anak atau tidak juga tidak perlu lagi Beno dan Gadis alami setelah perpisahan. tapi ternyata sekarang semua bak neraka bagi Beno. hidupnya hampa tanpa Gadis disisinya. ia bahkan tidak bisa membuang Gadis Paras Ayu dari benaknya.


Beno menegak minumannya dengan kasar lalu membanting gelas kecil itu di atas meja kaca.


Jefry hanya meliriknya, ia sendiri sedang bimbang dan tidak mengerti dengan pikirannya. hari ini Jefry bahkan hampir kehilangan fokus bekerja karena Gloria.


Gloria Dirgantara benar-benar mengganggu keyakinan Jefry sebagai pria dewasa untuk tidak jatuh hati pada remaja.


Jefry menghela nafas berat, ia mematikan rokoknya. Beno berbalik melihat sahabatnya itu.


"Kenapa? ada masalah apa?" tanya Beno.


"Kenapa bertanya begitu padaku? kamu sendiri ada masalah apa sampai sekacau itu? pasti soal Gadis" ejek Jefry.

__ADS_1


"Setelah pisah dari Gadis semua berantakan rasanya!" kata Beno mengeluh.


"Yasudah kalau masih cinta kenapa tidak kamu dekati lagi Gadis? mumpung Gadis belum jadi milik orang lain, gengsi?!" tebak Jefry. ia sudah hapal betul sikap Beno si raja gengsi yang tidak mau mengalah.


"Dia sudah jadi milik orang lain" gumam Beno.


"Arya? si pengacara itu? kita kemarin juga lihat bagaimana bajing*n itu menyelingkuhi Gadis bukan?!"


"Ah aku tahu kalau sudah begini pasti kamu baru saja bertemu Gadis, iya kan?!" tebak Jefry yang tidak di jawab oleh Beno.


Beno kembali meneguk minumannya, ia ingat kejadian di apartemen Gadis tadi siang. baru kali ini Beno benar-benar menatap dalam mata Gadis. selama menikah ia hampir mengacuhkan Gadis tidak pernah menatapnya dengan romantis. yang ada kalau bertemu mereka langsung bertengkar karena hal-hal sepele.


"Terus kalau kamu sendiri punya masalah dengan wanita mana lagi? kelihatannya kali ini sungguhan melibatkan hati" tawa Beno pecah mengejek Jefry yang kelimpungan tidak bisa menjawab.


Jefry tidak mungkin bilang kalau ia galau karena adik Beno. bisa baku hantam di bar mereka nanti.


"Oh ya kamu bertemu Gadis dimana?" tanah Jefry mengalihkan pembicaraan.


"Di apartemen Gadis, waktu menyusul Gloria"


"Gloria di apartemen Gadis?" tanya Jefry heran sekaligus penasaran.


"Iya Gloria minta diajari memasak" jawab Beno santai.


"Memasak?!" Jefry menahan tawanya mengingat steak asin pemberian Gloria tadi siang.


"Kenapa? Gloria memberikan masakan itu padamu?"


"Tidak mungkin! untuk apa Gloria memberikan masakan itu untuk ku?"

__ADS_1


__ADS_2