Pesona CEO

Pesona CEO
Part 56


__ADS_3

Seusai pesta semalam antara Beno dan Gadis saling diam. Gadis masih bete dengan Beno yang menurutnya tidak berubah masih saja kegenitan dengan perempuan lain. sementara Beno tidak ambil pusing dengan kecemburuan Gadis yang sudah biasa ia rasakan sejak pernikahan pertama mereka. karena itu Beno mengalah dengan diam menunggu momen untuk memberi penjelasan pada Gadis.


Kebetulan pagi itu Gadis punya waktu untuk bicara dengan Adi. ia ingin meminta pendapat Adi soal membuka klinik di rumah. kalau langsung bicara dengan Beno pasti akan ada penolakan.


Dulu Gadis membuka kliniknya dengan menyewa gedung. setelah melahirkan Charlotte Gadis tidak lagi praktik dan tidak memperpanjang sewa gedung itu. sekarang gedung sudah di sewa orang lain untuk usaha.


"Bagaimana menurut mu jika aku membuka klinik ku di rumah?" tanya Gadis pada Adi yang duduk di depannya.


"Saya rasa tidak bisa Bu, karena kediaman seorang CEO perusahaan besar seperti pak Beno haruslah di rahasiakan demi keselamatan dan demi melindungi kehidupan pribadinya di luar jam kerja"


Benar juga kalau nanti Gadis membuka klinik di rumah pasti itu akan menyalahi privasi Beno karena ia akan menyertakan alamat rumahnya untuk menarik pengunjung.


"Apa anda ingin saya membantu membicarakan soal ini pada pak Beno?" Adi tidak tega juga melihat Gadis kariernya mandek.


"Iya Adi tolong ya, barangkali kamu bisa bantu bujuk Beno"


"Iya bu"


***

__ADS_1


Siang itu Gadis pergi bersama Tania ke salah satu pusat perbelanjaan. ia membawa serta anaknya dan suster yang mengasuh Charllote.


Gadis perlu beberapa perlengkapan untuk kembali mulai buka kliniknya. ia harus mempersiapkan semua dari nol lagi.


"Yakin Beno udah setuju kamu buka klinik kecantikan lagi Dis?"


"Belum pasti" jawab Gadis.


"Nekat juga ya kamu Dis kalau Beno ngamuk gimana?"


"Dia tidak akaan marah, janji Beno aku boleh kembali beraktivitas kerja kalau anak kami sidah enam bulan"


Gadis dan Tania duduk manis di salah satu stand makanan. keduanya sedang bergurau tapi tawa itu tiba-tiba jadi canggung saat Arya datang menghampiri meja Gadis.


"Hai Gadis, Tania boleh gabung?" tanya Arya dengan senyum sumringah.


"Silahkan" kata Tania yang langsung mendapat pelototan tajam dari Gadis.


"Oh ya Dis aku kemarin bertemu pak Surya katanya kamu sedang sibuk mempersiapkan klinik baru, apa ada yang bisa aku bantu?"

__ADS_1


"Kamu bertemu ayahku?" tanya Gadis heran


"Iya tidak sengaja, oh ya kalau kamu perlu bantuan jangan sungkan ya, aku juga bisa kog bantu kamu mencari gedung kalau belum dapat sih"


Tania menyenggol lengan Gadis, sepertinya Arya sudah mulai melancarkan aksinya tipis-tipis.


"Oh nggak perlu" kata Gadis.


"Memang kamu sudah dapat tempat?"


"Belum sih"


"Eh aku ke toilet dulu ya" Tania langsung pergi meninggalkan Gadis dan Arya. jadi terkesan di meja itu hanya ada kedua orang itu saja karena sus sedang membawa Charllote ke tempat bermain.


"Dis sayang banget kemampuan yang kamu miliki sama gelar dokter kecantikan yang susah payah sudah kamu raih kalau kamu berhenti dan berdiam diri di rumah"


Arya benar...dia malah lebih mengerti dan menghargai soal ini dari pada Beno.


"Dis maaf bukannya aku ikut campur tapi kalau Beno benar-benar sayang sama kamu dia pasti selalu mendukung pilihan kamu"

__ADS_1


Gadis terdiam, omongan Arya mulai merasuki pikirannya.


__ADS_2