Pesona CEO

Pesona CEO
BAB 13


__ADS_3

Beno tiba di rumah sakit mengantarkan bubur untuk Gadis. ia mencari ruangan tempat Gadis di rawat. perlahan Beno membuka pintu ruangan itu, Gadis terlihat seorang diri tergolek di atas ranjang rumah sakit. Beno berdiri mematung menatap Gadis yang tertidur. hatinya perih melihat wanita yang pernah mengisi hidupnya itu terkapar seorang diri tidak memiliki keluarga yang menemaninya.


Dulu sewaktu menikah dengan Beno status Gadis memang yatim piatu. mami dan papi yang menemukan Gadis lalu menjodohkan dengan Beno.


Beno meletakkan bubur diatas meja di samping ranjang Gadis. ia melangkah perlahan hampir pergi karena Beno tidak bisa melihat wajah Gadis berlama-lama. ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Ben?" terdengar suara lirih Gadis memanggil Beno.


Beno terdiam lalu berbalik menatap Gadis yang berusaha bersandar di bantal. Mau tidak mau Beno membantunya menopang punggung Gadis.


"Mami memintaku mengantar bubur untuk mu" kata Beno datar.


"Terimakasih ya Ben" wajah Gadis terlihat pucat.


"Dimana kekasih mu? kenapa sendirian di rumah sakit?" tanya Beno ketus.


"Arya sedang ada pekerjaan, aku yang memintanya pergi"


"Makanlah bubur itu selagi hangat" Beno hampir pergi tapi Gadis menahannya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Gadis.


Beno mengangguk, ia kasihan juga melihat Gadis tidak berdaya seperti itu. dulu sewaktu Beno sedang sakit Gadis yang selalu merawatnya. Beno membuka kantung bingkisan dari mami lalu mengeluarkan sekotak bubur hangat, ia duduk di tepi ranjang lalu menyuapkan sesendok bubur pada Gadis.


"Makanlah" kata Beno sama sekali tidak sabar dan tidak romantis.


Gadis membuka mulutnya menikmati suapan dari Beno. air mata Gadis hampir menetes tapi ia segera mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela.


Beno meraih selembar tissue ia membersihkan sisa bubur di bibir Gadis kali ini dengan gerakan lembut.


Keduanya saling bertukar pandangan. mau tidak mau masa lalu yang brengsek kembali mengaduk-aduk perasaan Gadis dan Beno. Beno hampir terbawa perasaan melihat wajah Gadis. ia hampir menyentuh lembut wajah cantik itu dengan jemarinya. belum lagi bibir Gadis yang membuat kewarasan Beno hampir memudar. Beno ingat ia pernah mengecup bibir itu setiap pagi saat mau berangkat bekerja, itu juga saat mereka berdua tidak sedang bertengkar.


"Baiklah aku pergi dulu, cepatlah sembuh jangan merepotkan!" Beno melangkah pergi. sementara Gadis tersenyum memandang punggung Beno yang menghilang di balik pintu.


Setelah Beno pergi Arya tiba di ruang perawatan Gadis. ia membawakan makanan untuk Gadis.


"Sayang aku bawakan makanan untuk mu" Arya melirik bekas tempat makanan di atas meja.


"Apa ada yang kemari?"

__ADS_1


Gadis sedikit gelagapan ia tidak enak jika mengatakan Beno yang datang.


"Oh iya tadi, Beno kemari" kata Gadis memilih jujur pada Arya.


Wajah Arya terlihat tidak senang. sorot matanya berubah. dengan sedikit kasar Arya meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.


"Untuk apa mantan suami kamu datang kesini?"


Baru kali ini Gadis merasa Arya ketus padanya. atau selama ini Gadis yang tidak menyadari.


"Mengantar makanan buatan maminya"


Arya mendengus lalu duduk di kursi di dekat ranjang Gadis.


"Apa dia yang menyuapi kamu makan?"


Gadis menggeleng, ia tidak enak pada Arya.


"Bukan, aku memakannya sendiri Beno meletakkan makanan itu lalu pergi"

__ADS_1


"Dis, maaf kalau aku bicara seperti ini padamu tapi bisa kah kamu jangan dekat-dekat lagi dengan keluarga Dirgantara? aku cemburu Dis" kata Arya sembari menggenggam lembut tangan Gadis.


Gadis tersenyum, ia mengangguk perlahan demi Arya ia akan menjauhi keluarga Dirgantara meski saat ini hati serasa bergemuruh karena bimbang. sejak beberapa menit yang lalu wajah Beno masih belum hilang dari benak Gadis.


__ADS_2