
"Ben dari mana? papi dan mami cemas nyariin kak Beno!" kata Gloria yang terlihat sudah rapi dengan seragam sekolah menengah nya.
"Dimana mami?"
"Mami pergi ada perkumpulan sama teman-teman sosialitanya"
Beno langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. ia tidak peduli dengan ocehan adiknya.
"Adi, kakak ku tidur dimana semalam?" tanya Gloria pada Adi.
Adi hanya mengedikkan bahunya seraya berjalan pergi menuju mobil. ia harus bergegas ke perusahaan. jika hari ini Beno absen makan Adi harus mewakilinya di meeting internal perusahaan.
Beno duduk di bawah shower ia membiarkan tubuhnya di guyur air dingin agar kewarasannya kembali pulih. potongan kejadian semalam terlihat jelas di pikiran Beno.
Bagaimana ini? pasti Gadis marah sekali padaku!
Bagaimana kalau Gadis membuat laporan ke polisi jika aku berbuat sesuatu yang tidak pantas padanya?! papi dan mami pasti sangat marah karena aku membuat malu keluarga....
Sementara Adi sudah tiba di kantor, ia menemui Josh Dirgantara untuk memberikan laporan Mega proyek yang sudah mulai di jalankan.
"Ini laporan awal kita pak" kata Adi.
"Hmm, oh ya dimana Beno? kenapa semalam tidak pulang? kamu mengantar bosmu kemana?"
Mati aku! tuan papi pakai naanya-nanya segala....
"Emm itu pak ..pak Beno tidur di hotel"
"Hotel milik perusahaan?"
"Benar pak"
"Kamu jangan bohong Adi, saya sudah meminta asisten saya memeriksa hotel milik kita dan tidak ada tanda-tanda Beno menginap!"
Adi mulai terjepit, ia bingung mau memberi alasan apa lagi untuk melindungi bosnya.
__ADS_1
"Kalian berdua ini sama saja! cepat beri tahu di mana Beno menginap semalam? atau kamu saya pecat!"
Adi langsung lemas, ancaman dari Beno memang menakutkan tapi ancaman dari Josh lebih menakutkan lagi. karena yang merekrut dan memberi pekerjaan pada Adi adalah Josh. Josh memberinya kesempatan sebagai asisten Beno. kalau Josh memecatnya sudah pasti ia tidak hanya jadi gelandangan tapi bisa juga hanya tinggal nama. secara Beno saja takut pada papinya apalagi Adi.
Maafkan saya pak Beno, saya terpaksa jujur pada tuan papi....
"Pak Beno ada di apartemen....Bu Gadis pak"
"Apa?! bagaimana bisa Beno menginap di tempat Gadis?!"
"Maaf pak, semalam pak Beno mabuk dan mengancam saya, katanya mau bertemu Bu Gadis. jadilah saya antarkan ke apartemen Bu Gadis"
"Adi kamu bodoh atau bagaimana?! setidak nya kalau Beno sedang tidak sadar kamu harus lebih waras! mereka sudah berpisah sejak dua tahun yang lalu! apa kata orang kalau Beno menginap di apartemen mantan istrinya? belum lagi kalau sampai media mengendus masalah ini! bisa kacau semua!"
"Maafkan saya pak" Adi menunduk pasrah.
"Adi kamu tahu perusahaan sedang dalam performa yang baik karena kita mengerjakan proyek besar. jangan sampai karena kebodohan kamu dan Beno semua jadi kacau!"
"Dimana Beno?! bawa dia kemari katakan padanya papi ingin bicara!"
Adi bergegas pergi ke rumah untuk menjemput Beno.
Beno terlihat sudah rapi mengenakan jasnya saat Adi tiba di rumah.
"Pak Beno, tuan papi minta bertemu"
"Papi? ada apa? apa ada meeting mendadak? aku sudah bilang kamu bisa mewakili ku jika hanya meeting internal!"
"Bukan masalah pekerjaan pak"
"Lalu masalah apa?" Beno mengerutkan keningnya. wajahnya terlihat langsung cemas.
"Masalah...bapak semalam tidak pulang dan tuan papi sudah tahu bapak menginap di apartemen Bu Gadis"
Beno memejamkan matanya, ia mengepalkan tangannya tanda geram pada Adi. Beno tahu pasti papinya menekan Adi untuk bicara jujur. apa boleh buat, Beno harus membuat pengakuan pada papi dan meminta maaf atas kecerobohannya.
__ADS_1
***
Malamnya di ruang keluarga, Beno sedang di sidang oleh papi dan mami. Gloria dan Adi menguping karena tidak di perbolehkan berada di ruangan itu.
"Beno dimana nalar kamu! bagaimana sampai hal itu terjadi? jika kamu masih mencintai Gadis kenapa tidak rujuk saja?!" kata papi dengan nada tinggi karena marah.
"Tidak semudah itu untuk rujuk Pi"
"Lalu masalahnya apa? kalian sudah lama berpisah tapi papi lihat antara kamu dan Gadis masih saling memendam rasa suka, Beno papi sudah mewanti-wanti agar kamu jaga diri. bagaimana jika Gadis melaporkan kamu atas perbuatan kamu itu?!"
"Pi jangan bicara begitu..." mami tidak tega melihat Beno di marahi terus sejak tadi.
"Mami jangan kebanyakan membela Beno! dia sudah dewasa!"
" Ben jawab mami apa kamu melakukannya pada Gadis?"
Wajah Beno memerah karena malu. ia tidak menyangka akan jadi panjang permasalahannya.
" Ben jawab mami nak"
Beno mengangguk, penuh rasa bersalah.
"Semua salah Beno mi, Gadis tidak salah. Beno yang datang dan ....memaksanya" kata Beno lemas. ia malu dan merasa tidak punya muka lagi di hadapan papi dan maminya. perkara kebutuhan biologisnya ia sampai di sidang orang tuanya.
"Astaga Beno! ..." mami menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saking terkejut mendengar pengakuan Beno.
"Bagaimana ini Pi?"
"Bagaimana lagi, kita harus menemui Gadis dan meminta maaf jika Gadis menuntut tanggung jawab Beno itu masih sesuatu yang baik tapi jika Gadis memperpanjang masalah ini ke jalur hukum, papi tidak tahu lagi harus bagaimana!"
"Tidak perlu Pi, biar Beno saja. Beno janji akan selesaikan masalah ini"
"Baik, papi harap kamu bisa gentle Beno!"
"Iya pi"
__ADS_1
Beno tidak akan berpikir apa lagi sampai berprasangka jika perbuatannya bisa membuat Gadis hamil. ia pikir seperti dulu saat menikah dengannya Gadis selalu menggunakan kontrasepsi secara rutin. di pikiran Beno sekarang adalah ia harus meminta maaf pada Gadis dan menyelesaikan semua masalah.