
Beno sudah siap dengan stelan jasnya, ia duduk diantara keluarganya untuk menikmati makan pagi.
"Ben nanti kamu temui Naora ya" kata Mami di sela sarapan.
Beno hanya diam, ia melanjutkan menghabiskan sarapan nya.
"Naora mau ke Paris Ben" kata Gloria yang ikut nimbrung melihat sang kakak hanya diam.
"Paris?" Beno meletakkan sendoknya. ia bergegas bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju mobil di ikuti Adi yang sudah siap sejak tadi.
"Beno sebenarnya suka tidak ya dengan Naora?" tanya mami pada Gloria setengah berbisik takut Beno balik lagi dan mendengar gibahan mami.
"Kalau Beno sama Naora papi sama mami setuju?" tanya Gloria.
"Setuju saja kalau mami, iya kan pi?" kata mami meminta persetujuan papi Josh.
"Kalau papi terserah Beno, dia sudah dewasa sudah bisa berpikir sendiri. asal jangan sampai gagal lagi membina rumah tangga"
Mami dan Gloria terdiam mendengar pendapat papi.
"Tapi Beno kan masih cinta sama Gadis mi" kata Gloria.
"Tahu dari mana kamu?!"
"Yah tahu lah..Gadis juga begitu sih cinta sama Beno, coba aja pertemukan mereka pasti langsung canggung dan salah tingkah gitu"
__ADS_1
Mami Mariana sebenarnya juga sangat menyayangi Gadis. ia setuju saja kalau Beno mau rujuk dengan Gadis dan memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi .
Ngga ada salahnya kalau lain kali aku undang Gadis makan malam di rumah supaya bertemu Beno.
Sementara Mobil Beno membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai padat merayap. Beno beberapa kali menelpon Naora tapi tidak ada jawaban.
"Cepat sedikit!" kata Beno pada Adi yang mengemudi.
"Iya pak, tapi didepan macet pak"
"Ah sial!"
Beno gusar ia cemas jika Naora sudah pergi ke Paris tanpa bertemu dirinya lebih dulu. Beno merasa bersalah kemarin membatalkan makan malam dengan Naora. tapi mau bagaimana lagi Beno juga tidak mungkin membiarkan Gadis dalam kondisi seperti kemarin malam, ngelantur tidak jelas.
Itu salah anda sendiri pak, tebar pesona ke bu dokter Gadis, Bu Naora, Bu dokter Dinda. sekarang anda mengeluh pusing karena mereka. tapi tiga wanita itu benar-benar cantik saya kalau jadi pak Beno pasti juga pusing mau pilih yang mana..
Tanpa sadar Adi malah tertawa membayangkan seandainya dia di posisi Beno ia mau pilih siapa diantara tiga wanita itu.
"Hei kenapa tertawa?!" Beno menendang kursi di depannya.
"Ah maaf pak" Adi menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Akhirnya setelah terjebak macet selama dua jam mobil Beno tiba di apartemen Naora. ia bergegas memencet tombol pintu.
"Beno?" Naora membuka pintu dengan wajah terkejut. ia memang belum sempat melihat ponselnya karena sibuk berkemas untuk ke Paris lusa.
__ADS_1
Beno langsung masuk ke apartemen Naora tanpa permisi. ia melihat koper besar di ruang tamu sudah siap.
"Kenapa tidak bilang kalau mau pergi?!" tanya Beno kesal.
"Maaf ya, aku berencana mengatakan padamu saat makan malam kemarin tapi...sudahlah"
"Nao, kamu benar mau ke Paris?" tanya Beno.
"Hmmm" Naora mengangguk semangat.
"Kenapa? apa disini kamu tidak dapat pekerjaan yang bagus?!" omel Beno.
"Bukan begitu"
"Lalu?"
Ya karena kamu tidak mencintaiku jadi aku pergi saja" kata Naora sembari tersenyum.
"Bodoh" Beno meraih Naora kedalam pelukannya. ia mengusap lembut rambut Naora.
"Kalau sudah tiba di Paris kabari ya" kata Beno semakin mempererat pelukannya pada Naora.
Adi yang berdiri di dekat pintu hanya bisa mengalihkan pandangan sembari menghela nafas.
Dasar pak Beno, coba sehari saja aku jadi dia....-Adi-
__ADS_1