
Beno terdiam di kursi kerjanya, ia tidak habis pikir dengan Surya yang meminta uang sebanyak itu bahkan mereka baru saja saling mengenal. kalau bukan karena Gadis, Beno jelas tidak akan Sudi memberikan sepeserpun pada Surya.
"Gadis tidak perlu tahu soal ini" kata Beno pada Adi.
"Baik pak"
Beno berdiri dari duduknya ia harus bersiap untuk meninjau proyek di lapangan. di dalam mobil Beno sibuk dengan ponselnya mengurusi pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Bawa stelan olah raga nggak?" tanya Beno pada Adi.
"Ada pak, tadi Bu Gadis yang siapkan di bagasi"
"Oke jam empat kamu ingatkan saya ya, saya mau futsal sama Jefry dan yang lain. oh ya kamu ikut futsal sekalian"
"Tapi pak kalau saya ikut futsal nah yang handel kerjaan bapak siapa nanti?"
"Yasudah kamu tidak usah ikut futsal!"
Beno memang menyukai beberapa olah raga dan dia unggul di main bola, Thai boxing, karate, berenang dan golf. tapi yang paling Beno gemari tetap main bola.
Jadilah sorenya Beno pergi ke lapangan futsal langganannya dan teman-temannya. Beno sudah siap dengan pakaian olah raganya celana pendek dan Jersey bertuliskan namanya dengan nomor punggung 13.
"Yuk mulai" kata Jefry setelah melihat Beno datang.
Permainan futsal Beno tidak sebagus biasanya. Ia seperti tidak fokus saat berada di lapangan.
"Ben!" Jefry menarik Beno ke pinggir lapangan selesai permainan.
"Ada apa sih kayaknya nggak konsen?" tanya Jefry sembari meneguk sebotol air mineral
__ADS_1
"Berantem sama Gadis?"
"Enggak kita malah lagi baik-baik aja"
Beno menceritakan soal ayah Gadis yang tiba-tiba muncul dan meminta uang satu miliar pada Beno.
Saat ini Beno dan jefry sudah berada di bar langganan mereka. Selesai olah raga biasanya Beno dan Jefry memang pergi ke bar itu untuk sekedar ngobrol santai melepas penatnya pekerjaan mereka yang menumpuk di kantor.
"Tapi Gadis tahu nggak soal ayahnya meminta uang pada mu?"
Beno menggeleng sembari mengepulkan asap rokoknya.
"Sepertinya Surya tidak akan tulus menyayangi Gadis, aku cemas Gadis kecewa dan sedih nantinya"
Jefry tertawa mendengar alasan Beno.
"Mana ada yang mencintai dan menyayangi Gadis dengan tulus seperti mu?"
"Aku duluan" kata Beno ia tidak boleh berlama-lama ada di tempat itu. Sekarang Beno mulai membatasi dirinya karena ia sudah memiliki anak. Beno sudah tidak bisa pulang dalam keadaan mabuk atau bau minuman anaknya pasti akan bertanya jika nanti sudah mulai paham.
Gadis jua tidak suka Beno pergi ke bar. Ia selalu ketus jika Beno terlihat baru saja minum dengan teman-temannya. Pekerjaannya sebagai CEO memang membuatnya bersentuhan dengan minuman. Terkadang jamuan makan malam dengan kolega juga akan di akhiri dengan minum bersama. Atau bisnis trip keluar negeri sudah pasti Beno di jamu dengan acara minun bersama.
Beno turun dari mobilnya berjalan memasuki ruang tengah ia lalu ambruk di sofa. Sementara Adi membereskan bagasi membawa masuk pakaian dan tas kerja Beno.
Gadis yang baru saja menidurkan anaknya langsung keluar kamar begitu mendengar Beno pulang.
"Ben sudah pulang?" Gadis duduk di samping Beno di sofa ruang tengah. aroma minuman sedikit tercium dari bibir Beno.
"Kamu habis minun? Ada jamuan lagi?" tanya Gadis sedikit ketus.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu sayang" Beno tidak menjawab pertanyaan Gadis ia mengecup pipi Gadis lalu beranjak ke kamarnya untuk mandi.
"Adi tunggu!" Gadis menahan Adi yang hampir berpamitan pulang.
"Bapak dari mana? Kenapa bau minuman?"
"Tadi habis futsal sama pak Jefry bu, terus....mampir deh ke bar hehe.." Adi yang melihat wajah Gadis berubah gahar langsung pamit pulang.
Gadis menyusul Beno ke kamarnya. Ia menunggu Beno selesai mandi.
"Dis mana handuk ku?!" teriak Beno dari kamar mandi.
Gadis meraih handuk putih bersih di atas meja lalu memberikannya pada Beno.
"Ben aku mau bicara soal ayah"
Beno yang sibuk mengeringkan rambutnya terlihat tidak begitu peduli.
"Ben! Kamu dengerin aku?"
"Iya ayah kamu kenapa memangnya?"
"Katanya ayah baru dapat suntikan modal dari temannya dalam jumlah besar, tapi aku tidak percaya hari gini ada yang meminjamkan uang secara cuma-cuma dengan jumlah besar"
Bukan cuma-cuma Dis, aku membayar ayah mu agar dia bisa menyayangi kamu dan memberi perhatian padamu.
"Yah mungkin saja" jawab Beno. Ia meletakkan handuk kecil di atas meja rias lalu duduk di samping Gadis.
"Gadis Paras Ayu..." panggil Beko dengan suara lembut.
__ADS_1
"Iya..."
"Apa sebaiknya Charllote segera punya adik?"