
Beno mengerjap membuka matanya, ia memicingkan matanya memandang Adi yang berdiri di dekatnya.
"Dimana aku?" gumam Beno.
"Di apartemen Bu Gadis pak" jawab Adi canggung sembari mengulurkan kemeja Beno.
Beno tergagap ia langsung mengusap wajahnya dan mengenakan kemeja nya. Beno meraih ikat pinggangnya lalu segera memakainya.
Apa yang terjadi semalam? apa aku benar-benar melakukannya pada Gadis?! apa aku memperk*sa dia?!
Wajah Beno memucat, ia mencoba mengingat kejadian semalam.
"Dimana Gadis?!"
"Sudah pergi ke klinik pak"
"Sebaiknya anda bergegas, saya akan mengantarkan anda pulang ke rumah" kata Adi.
Beno berdiri dari duduknya berjalan gontai menuju parkiran mobil. kepalanya masih terasa pusing dan berat. potongan ingatan tentang kejadian semalam berseliweran di pikiran Beno.
"Kenapa aku bisa di apartemen Gadis?!" omel Beno saat di dalam mobil.
"Bapak sendiri yang memaksa saya mengantarkan ke apartemen Bu Gadis"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Benar pak, bahkan bapak mengancam saya mau lompat dari mobil kalau tidak di antar bertemu Bu Gadis"
Beno menghela napas berat, ia kembali mengusap wajah tampannya yang sekarang terlihat kusut. rambut yang biasa rapi dan stylish sekarang terlihat berantakan.
"Apa papi sudah berangkat ke kantor?" Beno cemas jika papinya tahu kejadian semalam antara Beno dengan Gadis.
"Sudah tuan papi sudah berangkat ke kantor"
"Adi jangan sampai papi dan mami tahu jika semalam aku berada di tempat Gadis"
"Tapi jika tuan papi dan mami tahu bagaimana?"
Mobil tiba di pelataran rumah keluarga Dirgantara. Beno merapikan penampilannya sebelum turun dari mobil.
***
"Kalian gila?!" Tania terkejut mendengar pengakuan Gadis yang sekarang terisak di depannya.
Gadis hanya diam, pantas jika Tania terkejut. perbuatan yang ia lakukan dengan Beno adalah suatu kesalahan besar.
"Dis ini tidak boleh terjadi! Beno tidak bisa seenaknya melakukan itu padamu. ia bisa terkena pasal pelecehan!".
__ADS_1
Gadis masih terdiam wajahnya juga terlihat lelah. ia belum sempat tidur sama sekali sejak kedatangan Beno semalam ke apartemennya.
"Dis ayo kita lapor ke polisi" kata Tania menggebu-gebu.
"Lapor polisi?!" Gadis terkejut dengan usul Tania.
"Iya, jika. Beno melakukan itu dengan cara memaksa kamu berarti dia sudah melec*h kan kamu"
"Tapi nama baik Beno dan aku bisa hancur kalau ini jadi kasus" kata Gadis mencoba bijak. ia masih mau melindungi harga diri Beno dan dirinya.
"Tania apa kata orang nanti, apa kata pelanggan klinik Beauty?! yang jelas kamu harus jaga rahasia ini!" kata Gadis setengah mengancam sahabat nya itu.
"Oke...baik aku bisa jaga rahasia tapi, kalau Beno keterlaluan sama kamu kapanpun kamu mau bertindak aku siap jadi saksi!"
Gadis menghela napas tertunduk ia mengusap rambutnya dengan gusar.
"Dis ngomong-ngomong, kamu saat berhubungan dengan Beno tidak sedang dalam masa subur kan?"
Gadis terperanjat, sejak berpisah dari Beno dua tahun yang lalu ia menghentikan penggunaan kontrasepsi penunda kehamilan. dan setelah berpisah jelas Gadis tidak lagi memakainya. pikir Gadis untuk apa toh ia tidak akan melakukan perbuatan terlarang dengan pria di luar nikah.
Gadis tidak tahu kalau ia akan mendapat musibah seperti kemarin malam.
"Dis jawab, aku nggak yakin kalian pakai pengaman" kata Tania lagi.
__ADS_1
Gadis terdiam lemas terkulai di sofa. ia sedang tidak bisa berpikir jernih sekarang. Gadis mulai ketakutan bagaimana jika benih dari Beno semalam membuahkan hasil.