Pesona CEO

Pesona CEO
Part 49


__ADS_3

Gadis terbangun karena Charlotte menangis meminta asi. ia terkejut berada di pelukan Beno. sudah lama sekali sejak pernikahan pertama mereka, baru kali ini lagi keduanya tidur bersama berpelukan.


Gadis menyibak selimut, ia segera menggendong Charllote dan menenangkan bayinya agar tidak menangis. Gadis berdiri melihat cermin rias terlihat bayangan Beno menggeliat di tempat tidur. wajah tampannya nampak tenang. Gadis tersenyum simpul, tapi senyum itu segera Gadis sembunyikan karena Beno membuka matanya.


"Jam berapa sekarang?" gumam Beno.


"Jam enam" jawab Gadis.


Beno meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping ranjang. Beno segera menelpon Adi untuk membawakan perlengkapan ke kantor dan menjemputnya dari rumah mami.


Pagi itu Pepo dan memo tidak buang waktu mereka mengajak cucu kesayangan untuk berjalan-jalan ke taman. sementara Gadis menunggu Adi yang akan datang membawakan keperluan Beno untuk ke kantor.


"Pagi Bu Gadis" sapa Adi sembari menenteng stelan jas dan tas kerja milik Beno.


"Pagi Adi, itu stelan untuk pak Beno?"


"Iya Bu ini jas yang tadi di minta bapak"


"Biar saya yang kasih" Gadis meraih stelan jas yang terbungkus polybag bening itu dari tangan Adi. ia bergegas menuju kamar, Beno baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk putih sebatas pinggang.


"Ini stelan kerjanya" kata Gadis menyerahkan kemeja berwarna putih dan dasi berwarna navy pada Beno.


Sebenarnya Beno sedikit heran kenapa bukan Adi yang membawakan bajunya. Tapi yah Beno tidak peduli ia langsung memakai stelan jasnya dan bergegas merapikan rambut nya.


"Dimana Charllote?" tanya Beno sembari memasang dasinya.


"Di bawa mami sama papi jalan-jalan ke taman" Gadis maju dua langkah untuk merapikan dasi Beno. Sekali lagi Beno terkejut tapi ia tetap diam menikmati perhatian dari Gadis yang jarang terjadi.


"Aku tidak sarapan di rumah, aku buru-buru" kata Beno sambil melangkah pergi keluar kamar.


"Biar aku siapkan bekal yah?" Gadis mengekor di belakang Beno.

__ADS_1


Belum sempat Beno menjawab Gadis sudah keburu pergi ke dapur untuk membuatkan bekal.


Ada apa dengan Gadis? Dia tampak berubah hari ini. Membawakan baju, memasang dasi membuatkan bekal. Apa dia sedang merayuku agar aku mengizinkannya kembali praktek di kliniknya?


Beno melamun di kursi belakang mobilnya. Adi fokus mengemudikan mobil dan menambah kecepatan agar tidak terjebak macet di ibu kota.


***


Di luar pagar rumah Beno berdiri seorang pria paruh baya yang rambutnya mulai beruban. pria itu terlihat memandangi kedalam pagar seperti menunggu yang punya rumah menemui dirinya.


Gadis yang baru pulang ke rumah siang itu berpapasan dengan pria paruh baya yang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Bapak cari siapa?" sapa Gadis ramah sembari menggendong putrinya.


Mata bapak itu berkaca-kaca begitu melihat Gadis di hadapannya.


"Gadis...Apa kamu Gadis Paras Ayu?" tanya pria itu.


"Ini ayah, aku ayah kandung mu" kata bapak itu. Gadis mengerutkan keningnya. selama ini ia tidak pernah melihat sosok ayah kandung nya. Bahkan ia di besarkan di lingkungan panti setelah sang nenek dan kakek meninggal.


"Ayah? Ayah kandung saya?"


"Benar nak"


Gadis terdiam, ia jadi merasa seperti sedang terlibat cerita di sinetron. Tidak mungkin pria di hadapannya adalah ayahnya. Tapi...


Gadis menatap pria itu dengan seksama bajunya rapi dan terlihat terawat. Wajahnya memang sedikit mirip dengan Gadis tapi bukan berarti pria itu memang ayah kandungnya.


Bagaimana ini, apa aku telpon Beno saja...


"Kalau bapak ayah kandung saya, seharusnya bapak tahu siapa nama ibu saya?"

__ADS_1


"Iya ayah tahu nama ibu kamu, namanya Larasati"


Gadis terkejut pria itu bahkan tahu nama ibu kandung Gadis.


"Ayah akan beri kamu waktu untuk memikirkan semua jika kamu mau bertemu ayah kamu bisa datang ke alamat ini" Gadis menerima selembar kartu nama atas nama Surya Permana.


Pria itu pergi dengan mobilnya sementara Gadis terus memandang hingga mobil ayahnya tak terlihat lagi.


Malamnya Gadis sengaja menunggu Beno pulang. Ia mau meminta pendapat Beno soal orang yang mengaku sebagai ayah kandungnya.


"Ben..." Gadis langsung menarik lembut Beno untuk duduk di sofa ruang tengah.


"Ada apa?" Beno kira Gadis akan bernegosiasi soal keinginannya untuk kembali praktik.


Gadis menyerahkan kartu nama ayahnya pada Beno.


"Surya Permana? Siapa dia?" Beno menggaruk dagu nya sembari membaca nama yang tertera di kartu yang ia pegang.


"Dia bilang, kalau dia ayah kandung ku" kata Gadis lirih.


"Ayah kandung?" Beno memang tidak tahu asal usul Gadis. Dulu sewaktu ia kembali dari luar negeri Gadis sudah tinggal di rumah nya. Lalu papi dan mami menjodohkan mereka. Beno juga tidak pernah mencoba mencari tahu asal usul istrinya itu. Bagi Beno asal usul Gadis tidaklah penting.


"Apa kamu yakin ia ayah mu?" tanya Beno yang di jawab Gadis dengan gelengan kepala.


"Aku lelah Dis, besok saja kita bahas lagi" Beno berdiri dari duduknya sembari mengendurkan dasinya. Gadis ikut berdiri memandang punggung Beno yang hampir melangkah pergi.


Beno menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang melihat wajah Gadis yang terlihat begitu bingung. Beno kembali menghampiri Gadis ia memeluk dan menenangkan gadis.


"Ada aku tenanglah, besok kita cari tahu kebenarannya" kata Beno.


Gadis mengangguk bersandar di dada beno sembari kedua tangan nya memeluk pinggang Beno. Ia merasa tenang apapun yang terjadi nanti Gadis tidak lagi merasa cemas.

__ADS_1


__ADS_2